Harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menipis setelah kedua pihak saling melancarkan serangan militer selama dua hari berturut-turut. Ketegangan ini langsung memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, terutama karena ancaman terhadap Selat Hormuz semakin nyata.
Komando Pusat AS atau Centcom menyebut serangan terbaru dilakukan sebagai tindakan pertahanan diri atas agresi yang terus berlangsung. Di sisi lain, respons Iran datang cepat dan memperluas risiko konflik ke kawasan Teluk yang memiliki jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Serangan Mengarah ke Wilayah Selatan Iran
Centcom mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah sasaran strategis di Iran. Serangan udara yang dimulai sejak Rabu sore waktu Washington atau Kamis dini hari waktu Iran itu disebut menyasar wilayah selatan Iran.
Ledakan dilaporkan terdengar di titik-titik penting seperti Bandar Abbas, Qeshm, dan Minab yang berada dekat Selat Hormuz. Menurut Centcom, operasi itu sudah selesai dan menargetkan fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, serta infrastruktur pertahanan udara Iran.
Dalam pernyataan resminya, Centcom mengatakan pasukan AS menggunakan amunisi presisi terhadap target yang dinilai mengancam personel AS dan kapal-kapal komersial internasional. Presiden AS Donald Trump juga menuduh Iran sengaja memperlambat negosiasi untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama tiga bulan.
“Mereka terus mempermainkan kami. Sekarang mereka harus membayar harganya,” kata Trump.
Balasan Iran Memicu Kepanikan Baru
Iran membalas melalui Garda Revolusi Iran atau IRGC dengan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Media pemerintah Iran menyebut instalasi komunikasi dan radar milik Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi sasaran utama.
Dampaknya terasa cepat di kawasan. Bahrain mengeluarkan peringatan serangan udara bagi warga sipil, sementara Kuwait sempat menutup ruang udaranya setelah mengaktifkan sistem pertahanan udara.
Ancaman paling serius datang dari Komandan Pasukan Dirgantara Garda Revolusi Iran, Majid Mousavi, yang memperingatkan bahwa Selat Hormuz kini ditutup sepenuhnya bagi pelayaran internasional. Pernyataan itu membuat perhatian pasar dan pemerintah regional semakin tertuju pada jalur energi paling strategis di Timur Tengah.
Harga Minyak Naik, Pasar Keuangan Tertekan
Ketegangan yang meningkat segera tercermin di pasar energi. Harga minyak melonjak hingga 2% pada perdagangan Kamis karena kekhawatiran pasokan dari kawasan Teluk dapat terganggu.
Tekanan juga merambat ke pasar keuangan yang lebih luas. Bursa saham Asia melemah mengikuti sentimen negatif dari Wall Street, sementara ancaman penutupan Selat Hormuz menambah kekhawatiran terhadap rantai pasok energi dunia.
Selat Hormuz memang memegang peran penting dalam lalu lintas energi internasional karena menjadi jalur utama pengiriman minyak. Jika jalur itu terganggu lebih lama, risiko bagi perdagangan global akan semakin besar dan ketidakpastian pasar bisa bertahan lebih lama.
Upaya Diplomasi Masih Berjalan
Di tengah eskalasi militer, ruang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Sejumlah mediator dari Qatar dilaporkan masih berada di Teheran untuk mencoba menjembatani perbedaan yang makin tajam antara kedua pihak.
Namun situasi di lapangan membuat peluang damai terlihat makin sempit. Serangan fisik di dua negara tetangga dan ancaman terhadap jalur pelayaran vital menempatkan konflik ini pada salah satu titik paling genting sejak pecah tiga bulan lalu.
Para pengamat menilai perkembangan terbaru ini dapat membuat pasar energi dan kawasan Timur Tengah tetap berada dalam kondisi waspada. Selama serangan balasan terus terjadi dan Selat Hormuz masih berada dalam bayang-bayang penutupan, tekanan terhadap harga minyak dan stabilitas regional kemungkinan belum akan mereda.
Source: mediaindonesia.com






