Apple mulai menaikkan harga sejumlah perangkatnya setelah lama menahan dampak kenaikan biaya produksi. Langkah ini paling terasa di lini Mac dan iPad, di tengah lonjakan biaya komponen penting yang dipicu permintaan besar untuk infrastruktur AI.
Tekanan utama datang dari memori dan penyimpanan, terutama DRAM dan NAND. Dua komponen ini kini makin mahal karena perusahaan yang membangun infrastruktur AI membeli chip dalam jumlah sangat besar, sehingga pasokan untuk elektronik konsumen ikut tertekan.
Biaya komponen yang makin sulit ditahan
Apple sebelumnya masih bisa menjaga harga jual dengan memanfaatkan inventaris yang sudah ada. Perusahaan juga sempat menyerap sendiri kenaikan ongkos produksi selama beberapa bulan, tetapi tekanan biaya kini disebut sudah terlalu besar untuk dipertahankan.
Tim Cook bahkan telah memperingatkan investor bahwa harga memori akan semakin memengaruhi bisnis perusahaan setelah kuartal Juni. Dalam penjelasan yang beredar, Apple menyebut perusahaan belum pernah melihat lonjakan harga komponen sebesar ini dalam waktu secepat ini.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi perangkat seperti Mac dan iPad meningkat signifikan. Dengan pasokan yang lebih ketat, produsen elektronik konsumen harus bersaing dengan pembeli chip untuk server AI yang mendapat prioritas lebih tinggi dari pemasok.
Produk yang ikut terdampak
Kenaikan harga tidak terjadi merata di seluruh portofolio Apple. Sejumlah produk yang disebut terdampak antara lain MacBook Air, MacBook Pro, iPad Air, HomePod, dan Apple TV.
| Produk | Harga Lama | Harga Baru |
|---|---|---|
| MacBook Air 512GB | 1,099 US dollars | 1,299 US dollars |
| MacBook Pro 1TB | 1,699 US dollars | 1,999 US dollars |
Di India, dampaknya juga terasa pada lini MacBook Pro. Harga model tertentu naik hingga 50,000 rupees, sementara MacBook Air dan beberapa model iPad juga ikut menjadi lebih mahal.
Meski begitu, iPhone disebut masih belum berubah harganya untuk saat ini. Artinya, penyesuaian harga belum menyentuh semua lini Apple, meski tekanan biaya sudah mulai merembet ke lebih banyak produk.
AI mengubah peta pasokan chip
Ledakan AI tidak hanya berdampak pada pasar server dan pusat data, tetapi juga mulai memukul perangkat konsumen. Server AI membutuhkan memori berkinerja tinggi dalam jumlah besar, sehingga pemasok lebih memprioritaskan pelanggan enterprise.
Dalam situasi itu, merek elektronik konsumen berada di posisi yang lebih sulit saat berburu pasokan. Bagi perusahaan seperti Apple, menaikkan harga ritel menjadi salah satu pilihan yang paling realistis ketika biaya komponen terus naik.
TrendForce memperkirakan harga DRAM melonjak hampir 98 persen pada kuartal pertama 2026. Lembaga yang sama juga memperkirakan kenaikan lanjutan sekitar 58 hingga 63 persen pada kuartal berjalan.
Perkiraan itu menunjukkan tekanan biaya belum mereda dalam waktu dekat. Selama permintaan dari sektor AI tetap tinggi, harga komponen inti berpotensi bertahan di level tinggi dan ikut memengaruhi harga perangkat konsumen.
Dampak yang bisa meluas ke industri
Langkah Apple bisa menjadi sinyal lebih luas bagi industri elektronik konsumen. Jika perusahaan sebesar Apple, yang selama ini mampu menyerap kenaikan biaya, mulai menyesuaikan harga, produsen lain juga bisa menghadapi tekanan serupa.
Produsen laptop, tablet, dan smartphone lain kemungkinan akan memantau perkembangan pasokan memori dan penyimpanan dengan lebih ketat. Jika biaya komponen terus naik, penyesuaian harga di pasar yang lebih luas menjadi skenario yang sulit dihindari.
Bagi pembeli, kondisi ini menunjukkan harga perangkat kini tidak hanya ditentukan oleh siklus produk baru atau tambahan fitur. Faktor rantai pasok global, terutama pasokan memori, ikut menentukan banderol akhir yang harus dibayar di kasir.
Dengan arah pasar chip yang makin condong ke kebutuhan AI, pembeli Mac dan iPad kini ikut merasakan efek sampingnya. Ledakan AI yang terjadi di pusat data ternyata sudah merambat sampai ke perangkat harian yang dipakai banyak orang.
Source: tech.sportskeeda.com






