Penampilan Zendaya dalam gaun putih Jacquemus saat promosi The Odyssey di London memicu perdebatan yang melampaui dunia mode. Perhatian publik tertuju pada anting emas kuno asal Iran yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun.
Benda bersejarah itu dipakai sebagai aksesori karpet merah, lalu memunculkan kritik tentang kepemilikan dan pelestarian artefak. Sejumlah sejarawan dan arkeolog menilai warisan budaya tidak semestinya dilepaskan dari konteks asal-usulnya demi penampilan mewah.
Kritik atas Kuasa dalam Pemakaian Artefak
Kritik paling keras datang dari Zirrar Ali, penulis berbasis di London yang menekuni sejarah, seni, dan arsitektur Islam. Ia mempertanyakan kepekaan penggunaan artefak dari Global Selatan oleh tokoh publik Barat dalam konteks mode.
Kepada The New Arab, Ali mengaitkan pemakaian benda tersebut dengan cara pandang orientalis yang mengabaikan latar budaya. Menurutnya, menjadikan peninggalan bersejarah sebagai aksesori dapat memperlihatkan relasi kuasa antara budaya pemakai dan budaya asal artefak.
“Menghiasi diri dengan artefak, baik dari museum maupun koleksi pribadi, sering kali dipandang tidak berbahaya, tetapi pada kenyataannya bisa merupakan bentuk unjuk kekuasaan dan dominasi,” kata Ali. Ia juga menilai praktik tersebut dapat memberi kesan bahwa satu budaya menegaskan kepemilikan atas warisan budaya lain.
Perdebatan menjadi lebih sensitif karena sejarah kuno Timur Tengah kerap dipisahkan dari realitas negara modern di kawasan itu. Sejumlah tanggapan di media sosial bahkan menyebut perhiasan tersebut sebagai simbol kolonialisme dan menyerukan pengembalian benda bersejarah ke tanah asalnya.
Respons Barron London soal Keaslian Benda
Barron London, galeri yang menyimpan anting tersebut dalam koleksi pribadinya, menyatakan benda itu tidak dijual. Galeri di Mayfair itu juga menegaskan medali emas kuno dipasang dengan metode penjepit sederhana yang tidak invasif.
Menurut Barron London, metode tersebut dipilih agar piringan emas tidak diubah atau dirusak ketika menjadi bagian dari perhiasan modern. Galeri itu menyatakan artefak tetap mempertahankan keasliannya meski dipadukan dengan rancangan kontemporer.
Dalam pernyataan tertulis yang dikutip CNN, perwakilan galeri mengatakan warisan budaya seharusnya mendorong diskusi yang penting. Mereka menyambut dialog berbasis informasi mengenai asal-usul, pelestarian, dan apresiasi terhadap keahlian pertukangan.
Barron London juga berharap anting itu dapat mengingatkan publik pada warisan artistik, budaya, dan sejarah Iran yang panjang. Namun, penjelasan tersebut belum meredakan pertanyaan mengenai batas antara apresiasi artefak dan pemanfaatannya sebagai simbol kemewahan.
Jejak Anting dari Harta Karun Ziwiye
Medali emas pada anting tersebut dikaitkan dengan harta karun Ziwiye dari Iran. Britannica menempatkan koleksi itu sebagai bagian dari karya seni periode Median pada abad ke-7 Sebelum Masehi.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Asal artefak | Iran, terkait harta karun Ziwiye |
| Periode | Abad ke-7 Sebelum Masehi |
| Material perhiasan | Medali emas kuno, berlian, dan emas kuning 18 karat |
| Desain ulang | Glenn Spiro pada 2018 |
| Akuisisi koleksi | Barron London pada 2020 |
Perancang London Glenn Spiro mendesain ulang medali itu menjadi perhiasan modern pada 2018 dengan tambahan berlian dan emas kuning 18 karat. Barron London kemudian mengakuisisinya pada 2020 untuk koleksi pribadi galeri.
Dalam wawancara dengan majalah Galeria pada 2025, Spiro menggambarkan daya tarik memadukan benda purba dengan desain masa kini. “Kamu bisa memakai sesuatu di lehermu yang berasal dari ribuan tahun lalu, tetapi tetap terlihat kontemporer dan keren,” ujarnya.
Kasus anting yang dikenakan Zendaya memperlihatkan bahwa keindahan rancangan kontemporer dapat berhadapan dengan persoalan sejarah yang jauh lebih besar. Di balik kemewahan perhiasan itu, publik kembali menyoroti siapa yang berhak menyimpan, memakai, dan menafsirkan warisan budaya Iran.
