Ancaman Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah kembali menambah tekanan di Timur Tengah. Jalur laut ini penting bagi lalu lintas kapal, termasuk kapal tanker minyak, sehingga setiap peningkatan risiko berpotensi memperlebar dampak ketegangan kawasan.
Amerika Serikat menempatkan Iran sebagai pihak yang dianggap berada di balik gangguan tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai pengaruh Teheran melalui kelompok-kelompok bersenjata menjadi salah satu sumber utama instabilitas regional.
Rubio mengatakan Washington telah berkomunikasi dengan pejabat Arab Saudi mengenai ancaman Houthi di rute pelayaran itu. Menurutnya, persoalan tersebut bukan ancaman yang baru muncul, melainkan isu yang pernah terjadi sebelumnya.
Posisi Para Pihak dalam Ketegangan
| Pihak | Pernyataan atau posisi | Kaitan dengan eskalasi |
|---|---|---|
| Houthi | Dinilai mengancam jalur pelayaran di Laut Merah. | Risiko terhadap kapal yang melintas, termasuk tanker minyak. |
| Iran | Rubio menuduh Teheran mendukung sejumlah kelompok bersenjata di kawasan. | Menjadi sasaran tudingan sebagai faktor destabilisasi. |
| Amerika Serikat | Menyatakan tetap terbuka pada perundingan dengan Iran. | Juga memperingatkan akan melindungi kepentingan AS dan sekutunya. |
Dalam keterangannya kepada wartawan, Rubio menyebut Iran sebagai pusat persoalan yang menghubungkan sejumlah konflik di kawasan. “Inti permasalahannya adalah Iran berada di tengah-tengahnya. Jika berbicara tentang pembuat onar di kawasan ini, itu adalah Iran,” katanya, seperti dikutip Kompas dari Al Jazeera.
Penilaian Washington tidak hanya diarahkan kepada Houthi di Yaman. Rubio juga menyebut Hizbullah, milisi di Irak, dan Hamas sebagai kelompok yang dibiayai oleh Teheran.
Menurut Rubio, kelompok-kelompok tersebut berperan sebagai aktor yang mengganggu stabilitas Timur Tengah. Tuduhan itu kembali menegaskan pandangan AS bahwa kebijakan Iran selama bertahun-tahun berkaitan dengan beragam titik konflik di kawasan.
Tudingan soal Investasi Militer Iran
Rubio juga menyoroti dampak perang terhadap kondisi Iran. Ia mengatakan Teheran menghadapi masalah besar setelah mengalami kerusakan, baik pada kekuatan militer maupun dalam situasi ekonominya.
“Pada akhirnya, ini sebenarnya membuktikan bahwa inilah yang telah diinvestasikan Iran selama 20 tahun terakhir,” ujar Rubio. Ia menyatakan Iran telah mengalami kerusakan sangat besar pada infrastruktur militernya.
Menurut Rubio, sumber daya Iran selama dua dekade tidak dipusatkan untuk kebutuhan domestik. Ia menuduh dana negara justru dipakai untuk mendukung kelompok teroris serta mengembangkan rudal dan sistem drone.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu Laut Merah dipandang AS dalam kerangka yang lebih luas. Bagi Washington, ancaman terhadap kapal tidak berdiri sendiri, melainkan terkait jaringan kelompok yang disebut memiliki dukungan Iran.
Jalur Dialog Tetap Dibuka
Meski melontarkan tudingan keras, Rubio menyatakan AS masih membuka peluang negosiasi untuk mengakhiri perang di Iran. Namun, ia menilai pihak Iran belum menunjukkan keseriusan untuk terlibat dalam dialog tersebut.
“AS tetap terbuka dan bersedia untuk terlibat dalam negosiasi dan diskusi yang positif dan konstruktif, asalkan komitmen yang telah dibuat dihormati,” kata Rubio. Sikap itu menunjukkan bahwa Washington mengaitkan proses perundingan dengan penghormatan terhadap komitmen yang telah disepakati.
Rubio menambahkan bahwa respons AS akan bergantung pada sikap Iran dalam pembicaraan. “Jika mereka serius, kita juga serius. Jika tidak, maka kita akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kita dan juga kepentingan sekutu kita,” ujarnya.
Ancaman terhadap Natanz Memperlebar Risiko
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Selasa kembali mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz dalam waktu dekat. Iran menyatakan akan membalas jika serangan tersebut benar-benar dilakukan.
Komando militer Khatam Al-Anbiya Iran menyebut serangan terhadap fasilitas itu akan dianggap sebagai perluasan perang di kawasan. Komando tersebut memperingatkan kemungkinan serangan terhadap seluruh kepentingan Amerika, sekutu, dan pendukungnya.
Seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran mengatakan 50 orang tewas dan 500 lainnya terluka dalam serangan AS baru-baru ini di Iran. Data itu memperlihatkan dampak kemanusiaan yang telah muncul ketika ancaman baru terhadap Laut Merah dan Natanz masih membayangi kawasan.
