Kesempatan berlatih sepak bola bersama pelatih nasional Indra Sjafri terbuka bagi 40 anak dari keluarga prasejahtera di Bandung. Mereka mengikuti McDonald’s Football Clinic secara gratis, termasuk menerima jersey serta sepatu bola baru.
Para peserta tersebut menjadi bagian dari 200 anak berusia 8-12 tahun yang mengikuti kegiatan di Bandung. Program ini menyasar anak-anak berbakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas maupun pembinaan olahraga.
Akses Pembinaan untuk Talenta Muda
McDonald’s Football Clinic digelar di Bandung pada Minggu, 19 Juli 2026, dalam kampanye FIFA World Cup Goes to McDonald’s. Indra Sjafri memimpin materi latihan, sementara legenda Persib Bandung, Atep, ikut mendampingi anak-anak di lapangan.
Kegiatan Bandung merupakan lanjutan agenda yang sebelumnya berlangsung di Jakarta pada 12 Juli 2026. Pada pelaksanaan di ibu kota, pesepak bola profesional Rio Fahmi turut mendampingi para peserta.
| Kota | Tanggal | Pendamping Utama |
|---|---|---|
| Jakarta | 12 Juli 2026 | Rio Fahmi |
| Bandung | 19 Juli 2026 | Indra Sjafri dan Atep |
Rangkaian klinik ini juga menjadi bagian dari perayaan 35 tahun McDonald’s Indonesia. Selain sesi latihan, perusahaan menyalurkan sepatu dan jersey baru kepada total 200 anak dari sekolah sepak bola di Jakarta dan Bandung.
Salah satu peserta dari Bandung adalah Purnama, kapten SSB Youth Aurasic Bandung. Ia sudah menyukai sepak bola sejak usia 8 tahun dan rutin berlatih di lapangan sederhana di samping warung makan milik orang tuanya.
Latihan Berbasis Rotasi Selama 70 Menit
Indra Sjafri merancang sesi latihan selama 70 menit dengan sistem rotasi antarzona. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok agar bisa memperoleh materi teknis secara bertahap.
Materi latihan mencakup passing, Small-Sided Games atau SSG, shooting, dan shielding. Seluruh rangkaian dijalankan dalam dua sesi dengan pendampingan intensif.
“Dalam pembinaan usia dini, setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda sehingga metode latihan juga perlu disesuaikan,” kata Indra Sjafri. Ia menilai rotasi pada setiap zona latihan membantu anak mengembangkan kemampuan teknis, koordinasi, serta pengambilan keputusan di lapangan.
Menurut Indra Sjafri, pembinaan pemain usia dini tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik. Karakter, sportivitas, dan cara meraih kemenangan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Dalam olahraga memang harus ada jiwa kompetitif, tetapi menang bukanlah tujuan akhir. Setiap kemenangan harus diraih dengan cara-cara yang baik,” tegasnya.
Di sela kegiatan, Indra Sjafri juga berdialog dengan orang tua peserta. Ia menyoroti peran keluarga dalam menumbuhkan rasa percaya diri, penghormatan kepada yang lebih tua, sportivitas, dan kemampuan bekerja sama.
Pesan Atep dan Dukungan untuk SSB
Atep membagikan kisah perjalanannya sebagai pemain yang memulai karier dari kota kecil dengan fasilitas terbatas. Ia menekankan bahwa keterbatasan akses tidak seharusnya mematahkan tekad anak untuk mengejar karier di sepak bola.
“Tidak ada proses yang instan, setiap kesuksesan dibangun dari disiplin berlatih, kemauan untuk terus belajar, dan tidak lupa beribadah,” ujar Atep. Pesan itu disampaikan sebagai pengingat bahwa kemampuan pemain berkembang melalui proses yang konsisten.
Perwakilan SSB Youth Aurasic Bandung, M. Iqbal, menilai pelatihan semacam ini dapat memperkuat keyakinan pemain muda terhadap cita-cita mereka. “Banyak anak berbakat hanya membutuhkan satu kesempatan untuk percaya bahwa mimpi mereka layak diperjuangkan,” ujarnya.
Menurut survei Populix pada Maret 2026, sebanyak 90% Gen Z dan Milenial memiliki minat terhadap olahraga berbasis lapangan. Sepak bola termasuk olahraga yang paling diminati kelompok tersebut.
McDonald’s Indonesia telah menjalankan sejumlah inisiatif olahraga selama lebih dari satu dekade. Programnya mencakup pengiriman anak Indonesia sebagai Player Escort pada ajang sepak bola internasional pada 2014 dan 2018, McDonald’s Liga Ayo pada 2023, serta renovasi 44 fasilitas olahraga sekolah di 12 provinsi pada 2025.
