Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak tidak harus dimulai dengan suasana yang kaku dan penuh tekanan. Pendekatan yang menyenangkan, konsisten, dan sesuai usia dinilai lebih efektif agar anak tidak cepat bosan saat mengenal huruf hijaiyah, bacaan, hingga hafalan sederhana.
Ustaz muda sekaligus hafiz 30 juz asal Wonosobo, Jawa Tengah, Widyan Zulda Mahira atau Dama, menilai kuncinya ada pada pembiasaan sejak dini. Menurut dia, anak yang akrab dengan bacaan Al-Qur’an lebih awal cenderung lebih mudah menerima proses belajar ketika usianya sudah siap mengaji secara aktif.
Pembiasaan dimulai sejak dini
Dama menjelaskan pengenalan Al-Qur’an dapat dimulai ketika anak masih dalam kandungan, terutama pada usia 4 bulan. Cara yang disarankan adalah memperdengarkan murotal secara rutin agar bayi terbiasa mendengar bacaan Al-Qur’an.
Ia mengaitkan hal itu dengan Hadits Arbain no. 4 karya Imam an-Nawawi yang menyebut pada usia 4 bulan janin telah ditiupkan ruh. Dama juga menilai fase itu kerap disandingkan dengan penelitian tentang mulai berfungsinya pendengaran bayi dalam kandungan.
Setelah lahir, kebiasaan itu dinilai perlu diteruskan setiap hari. Konsistensi orang tua dianggap penting agar anak tidak merasa Al-Qur’an sebagai sesuatu yang asing ketika memasuki masa belajar.
Pandangan itu diperkuat dengan QS An-Nahl ayat 78 yang menyebut manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu diberi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Dama menilai ayat ini menunjukkan anak memiliki potensi menerima ilmu melalui tahapan perkembangan yang bertahap.
Usia yang dinilai ideal untuk mengaji aktif
Untuk belajar mengaji secara aktif, Dama menilai usia 2 tahun ke atas menjadi fase yang ideal. Pada masa ini, anak mulai tertarik pada huruf, bunyi baru, dan pola kebiasaan yang sudah dibangun di rumah.
Ia menjelaskan usia 0 sampai 2 tahun umumnya lebih banyak menyerap melalui penglihatan dan perasaan. Ketika memasuki usia 2 tahun ke atas, anak mulai dapat mencerna kebiasaan lama, termasuk rutinitas mendengarkan murotal yang dilakukan sejak sebelumnya.
Fase 0 hingga 5 tahun juga sering disebut sebagai golden period atau periode emas perkembangan anak. Pada masa ini, pertumbuhan otak berlangsung sangat pesat, sehingga pembiasaan yang baik dinilai dapat memberi pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa, motorik, dan sosial-emosional anak.
Dalam konteks itu, mengenalkan Al-Qur’an sejak dini bukan hanya soal kemampuan membaca. Proses ini juga dipandang sebagai bagian dari pembentukan fondasi kebiasaan dan kedekatan spiritual anak di rumah.
Agar anak tidak cepat bosan
Menurut Dama, metode belajar untuk anak harus berbeda dengan orang dewasa. Anak perlu diajak dengan strategi yang sesuai dunia mereka, termasuk menggunakan motivasi yang mudah dipahami secara logis.
Bentuk motivasi itu bisa berupa hadiah sederhana atau janji menyenangkan setelah mencapai target tertentu. Misalnya, anak diajak berjalan-jalan setelah berhasil menghafal surat tertentu atau menyelesaikan tahapan belajar yang disepakati.
Pendekatan semacam ini dinilai dapat memantik semangat anak. Seiring waktu, anak diharapkan tidak hanya termotivasi oleh hal-hal yang bersifat materi, tetapi mulai memahami nilai belajar Al-Qur’an secara lebih dalam.
Selain itu, suasana belajar juga perlu dibuat ringan dan tidak menekan. Orang tua dapat menghadirkan metode serta media belajar yang kreatif agar kegiatan mengaji terasa menyenangkan, bukan menjadi beban harian bagi anak.
Orang tua memegang peran sentral
Dama menegaskan orang tua memegang peran sentral sebagai support system terbaik bagi anak. Setiap keluarga dinilai bisa menerapkan strategi yang berbeda, karena orang tualah yang paling memahami karakter, minat, dan respons anak masing-masing.
Ia juga mengingatkan bahwa rumah adalah lingkungan adaptasi terbesar bagi anak. Karena itu, pendidikan Al-Qur’an tidak cukup jika hanya diserahkan kepada guru atau lembaga luar tanpa keterlibatan aktif orang tua.
Peran itu bisa diwujudkan dalam bentuk pendampingan yang konsisten dan sinergi antara ayah dan ibu. Anak akan lebih mudah mencintai Al-Qur’an jika melihat kebiasaan itu hidup di rumah, bukan hanya hadir saat jadwal belajar formal.
Salah satu bentuk pembiasaan yang dapat dilakukan adalah tradisi tadarus keluarga setelah salat Subuh atau Maghrib. Rutinitas ini dinilai dapat memperkuat ikatan spiritual sekaligus membentuk kebiasaan mulia sejak kecil.
Dama juga mengingatkan pentingnya menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an sebagai investasi iman jangka panjang. Ia merujuk pada hadis sahih riwayat Al-Bukhari yang menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Dengan pola yang bertahap, sesuai usia, dan didukung suasana rumah yang hangat, anak berpeluang tumbuh lebih dekat dengan Al-Qur’an. Fokusnya bukan sekadar cepat bisa membaca, tetapi membangun hubungan yang akrab dan berkelanjutan sejak masa paling awal kehidupannya.







