Anak Krakatau Naik Siaga, Skenario Terburuk yang Bisa Mengancam Pesisir Selat Sunda

Author: Cung Media

Status Anak Krakatau kini naik ke Siaga dan perhatian utama bukan hanya pada abu vulkanik, melainkan juga potensi tsunami vulkanik. Dengan posisi gunung yang berada di Selat Sunda dan sejarah runtuhnya lereng ke laut, setiap peningkatan aktivitasnya tetap dipantau ketat.

Pada awal Juli 2026, gunung ini tercatat mengalami erupsi yang memuntahkan abu setinggi 200 meter. Kenaikan status itu membuat masyarakat di sekitar Selat Sunda kembali menimbang risiko yang bisa muncul jika aktivitas gunung api aktif ini berlanjut.

Jejak Bahaya yang Tidak Pernah Sederhana

Anak Krakatau tumbuh di bekas kaldera letusan Krakatau 1883 di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung ini pertama kali muncul di permukaan laut pada 1927-1929 dan sejak itu terus berkembang lewat erupsi berulang.

Riwayat itu membuat ancamannya berbeda dari gunung api biasa. Letusan Krakatau 1883 bahkan tercatat sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah modern, dengan kekuatan setara 200 megaton TNT dan dampak yang menjangkau jauh melampaui Selat Sunda.

Apa yang Terjadi Jika Meletus Lagi

Skenario pertama adalah erupsi magmatik yang memuntahkan abu vulkanik, batu apung, dan lava. Abu dapat mencapai ketinggian ribuan meter, mengganggu penerbangan, memicu hujan abu, serta berdampak pada pertanian dan kesehatan pernapasan warga.

Skenario yang lebih dikhawatirkan adalah keruntuhan flank yang memicu tsunami cepat. Karena Anak Krakatau berdiri di lereng curam kaldera 1883 dengan material yang lepas, longsoran besar bisa kembali menghasilkan gelombang tinggi dalam waktu singkat.

Skenario Dampak Utama Area Terdampak
Erupsi magmatik Abu, batu apung, lava, gangguan penerbangan, hujan abu Wilayah sekitar gunung
Keruntuhan flank Tsunami cepat dengan gelombang tinggi Pulau terdekat, pantai Jawa-Sumatra
Aliran piroklastik dan lahar Awan panas dan aliran lumpur vulkanik Lereng dan sungai sekitar

Model yang disebut dalam laporan itu memperkirakan gelombang bisa mencapai 15-30 meter di pulau-pulau terdekat. Di pantai Jawa-Sumatra, tinggi gelombang diperkirakan berada di kisaran 1-3 meter dalam 30-60 menit, sehingga Merak, Anyer, dan Bandar Lampung dinilai berisiko tinggi.

Pelajaran Paling Mahal dari 2018

Peristiwa 22 Desember 2018 menjadi contoh paling nyata bahwa bahaya Anak Krakatau tidak berhenti pada letusan. Saat sebagian besar flank barat daya gunung runtuh ke laut, tsunami vulkanik terjadi dan menewaskan 437 orang, melukai ribuan lainnya, serta merusak wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan.

Di dekat gunung, ombak dilaporkan mencapai 80 meter, sementara di pantai gelombang berada pada kisaran 3-13 meter. Kejadian itu menunjukkan bahwa runtuhnya lereng bisa sama berbahayanya dengan letusan itu sendiri.

Pemantauan Ketat dan Batas Aman

Pada 2026, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat dengan adanya gempa vulkanik dangkal, tremor, dan emisi gas. Erupsi pada 2021-2023 juga tercatat bersifat Strombolian, dengan lontaran lava dan abu setinggi ratusan meter.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG memantau gunung ini lewat seismograf, webcam, dan satelit. Saat status berada di Level III, radius larangan mendekat ditetapkan 3 kilometer dari kawah.

Setelah kejadian 2018, sistem peringatan dini tsunami juga diperkuat. Namun, tantangan tetap ada karena tsunami vulkanik bisa terjadi tanpa didahului gempa tektonik besar.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau memahami jalur evakuasi dan mengikuti peringatan BMKG serta PVMBG. Penelitian juga menunjukkan pertumbuhan cepat Anak Krakatau pasca-2018 membuatnya tetap rentan runtuh lagi dalam beberapa dekade jika aktivitas berlanjut.

Dengan riwayat letusan besar, tsunami mematikan, dan aktivitas yang masih terus dipantau, Anak Krakatau tetap menjadi salah satu gunung api paling diperhitungkan di Indonesia. Ancaman terbesarnya bukan hanya apa yang keluar dari kawah, tetapi juga apa yang bisa runtuh ke laut.

Source: www.suara.com
Terbaru