Kematian komedian Temon datang setelah malam yang justru terasa sangat normal bagi keluarganya. Istri almarhum, Keenam Mae, menceritakan bahwa sebelum serangan jantung terjadi, tidak ada tanda apa pun yang membuatnya curiga.
Mae mengatakan, Temon masih sempat berbincang santai sepulang dirinya main badminton pada Sabtu malam. Obrolan mereka bahkan hanya seputar hal sederhana, termasuk rencana menonton bola keesokan harinya.
Malam yang berjalan seperti biasa
Menurut Mae, Temon punya kebiasaan menunggu dirinya pulang sebelum tidur. Setelah ia tiba di rumah, Temon disebut langsung beristirahat sambil mengatakan, “Besok ada bola nih”.
“Memang kalau saya belum pulang dia biasanya belum tidur. Pas udah selesai, udah tuh dia tidur. ‘Besok ada bola nih’, dia bilang gitu,” ujar Mae di GPIB Effatha, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026).
Keesokan paginya, Temon bangun sekitar pukul 06.00 WIB. Padahal pertandingan sepak bola yang ingin ditontonnya sudah dimulai sejak pukul 04.00 WIB.
Mae memilih tidak membangunkan suaminya lebih awal karena ingin Temon beristirahat. Ia juga menyebut pada pukul 10.00 WIB ada agenda lain yang sudah menanti Temon di hari Minggu itu.
Belum sempat sarapan
Saat bangun, Temon sempat menanyakan skor pertandingan. Mae lalu menyalakan televisi sebelum pergi membuka warung, sementara Temon tetap berada di rumah ditemani anak mereka.
“Jam 6 dia bangun, ‘Ini baru 1-1 nih’, dia bilang gitu. Saya bilang, ‘Udah habis kali, orang ini udah jam 6, mulainya jam 4’. Ya udah saya setelin TV-nya. Saya tinggal karena saya buka warung di depan. Dia nonton ditemenin sama anak saya. Ya udah gitu aja, enggak ada omongan sakit, nggak ada omongan apa-apa. Pas kita mau sarapan, dia baru ngeluh sakit,” tutur Mae.
Temon belum sempat menyantap sarapan saat keluhan itu muncul. Ia baru minum teh hangat dan belum sempat memakan roti yang disiapkan untuknya.
“Belum, baru minum teh hangat doang. Minta roti juga belum sempat saya bikinin. Pas dia keluar, udah langsung ngeluh sakit di dadanya. Minum teh sedikit, saya tanya, ‘Udah mendingan nggak? Kita ke rumah sakit’. Kalau udah ngeluh, berarti dia emang udah nggak bisa nahan sakitnya,” ujarnya.
Masih sempat berjalan sendiri ke mobil
Meski mengeluh nyeri di dada, Temon disebut masih bisa berjalan sendiri menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Ia hanya berpegangan pada Mae saat berjalan.
“Almarhum jalan sendiri, cuma pegangan sama saya. Masuk ke mobil pun nggak ada yang sulit, biasa aja. Ngomong pun biasa, cuma ya memang nahan sakit di dada sama di kepala. Saya pijitin, saya bawain minyak angin. Nggak ada ngeluh gimana-gimana, cuma kasih tahu suruh hubungin ini dan itu, ada satu orang yang dia udah ada janji. Saya bilang, ‘Nggak usah mikirin kayak gitu, fokus Abangnya sembuh aja, acara masih lama’,” kenangnya.
Kenangan tentang sosok yang membuat rumah tetap hangat
Di tengah duka, Mae mengenang Temon sebagai sosok suami dan ayah yang mampu membuat suasana rumah selalu lebih ringan. Menurutnya, almarhum punya kebiasaan sederhana yang kerap berhasil membuat keluarga tertawa.
“Buat saya sama anak saya, mungkin orang tahunya Mas Temon itu gimana, tapi kalau buat saya dia selalu bisa bikin saya ketawa. Sekesel apa pun saya, dengan omongan dia sedikit pun pasti udah bikin saya ketawa,” ucap Mae.
Mae juga mengaku mengenal Temon sejak berusia 18 tahun, ketika almarhum masih menjadi penyiar radio. Ia menyebut Temon sebagai sosok suami yang selalu hadir untuk keluarga dan turut mengajarkan komedi kepada anaknya.
“Dia suami yang hebat. Walaupun di mata orang lain pendapatnya banyak, tapi buat saya dia selalu ada. Buat dia, sebuah kebahagiaan kalau melihat saya bisa ketawa. Sama anaknya juga dia ngajarin komedi… mudah-mudahan dia tenang,” tutupnya.
Sejumlah cerita kecil dari malam terakhir itu membuat kepergian Temon terasa semakin mengejutkan bagi keluarga. Yang tersisa kini adalah ingatan tentang percakapan ringan, rencana menonton bola, dan kebiasaan almarhum yang selalu membuat rumah terasa hidup.
