Ambisi China membangun teknologi masa depan kini ikut mengubah cara modal ventura bekerja. Di sektor antariksa, kuantum, AI, fusi nuklir, dan antarmuka otak-komputer, investor berlomba masuk lebih cepat meski valuasi terus naik.
Gejala paling jelas terlihat pada startup tahap awal yang diburu dana besar sebelum bisnisnya benar-benar matang. Salah satu contohnya adalah Tectronic Maritime Space Systems, perusahaan peluncuran roket berbasis laut yang baru berdiri tiga bulan di Shanghai.
Startup muda langsung dipatok valuasi tinggi
Tectronic menargetkan pendanaan awal 150 juta yuan dengan valuasi 1,5 miliar yuan. Dalam presentasi kepada investor pada pertengahan Juni, perusahaan itu juga memproyeksikan valuasinya bisa mencapai 50 miliar yuan saat melantai di bursa pada 2032.
Perusahaan tersebut bahkan menargetkan penggalangan dana tambahan hingga 3 miliar yuan dalam lima tahun mendatang. Bagi investor awal, skema yang ditawarkan diklaim bisa memberi imbal hasil hingga 26,7 kali.
Pola seperti ini menunjukkan betapa agresifnya pasar pendanaan di China saat ini. Banyak investor tidak hanya mengejar ide besar, tetapi juga berlomba agar tidak terlambat masuk ke sektor yang dianggap strategis.
Dorongan kebijakan Beijing memperkuat arus modal
Gelombang pendanaan itu sejalan dengan strategi Beijing yang menempatkan teknologi maju sebagai prioritas pembangunan nasional. Dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru yang dirilis Maret lalu, pemerintah China memasukkan industri antariksa, robotika, teknologi kuantum, biomanufaktur, dan energi hidrogen sebagai sektor strategis masa depan.
Sinyal kebijakan tersebut dibaca pasar sebagai peluang jangka panjang. Investor pun makin agresif memburu perusahaan yang dinilai bisa menjadi mesin pertumbuhan baru China.
Data ChinaVenture Investment Consulting menunjukkan nilai investasi modal ventura dan private equity di China mencapai 620 miliar yuan pada Januari-Mei 2026. Angka itu melonjak hampir 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dana modal ventura baru yang terdaftar sepanjang lima bulan pertama tahun ini juga mencapai 154 miliar yuan, atau Rp406,4 triliun. Jumlah itu bahkan melampaui total penghimpunan dana sepanjang 2025.
Investor masuk lebih cepat, kekhawatiran ikut menyusul
Bagi sebagian pelaku industri, laju pendanaan ini terasa ekstrem. Yan Kai, mitra di Ivy Capital, mengatakan tingkat kegilaan yang terjadi sekarang belum pernah ia lihat sepanjang kariernya.
Menurut Yan, startup yang belum memiliki pendapatan kini bisa memperoleh pendanaan miliaran yuan pada putaran pertama. Ia juga menyebut investor sudah mengantre untuk putaran berikutnya bahkan sebelum transaksi tahap awal selesai.
Ni Zhengdong, ketua Zero2IPO Holdings, menilai banyak investor terjebak fear of missing out atau FOMO. Dorongan untuk tidak ketinggalan peluang membuat keputusan investasi diambil lebih cepat dari biasanya.
Valuasi yang naik cepat memicu waspada gelembung
Di sisi lain, sejumlah pelaku industri mulai cemas terhadap harga aset yang terlalu panas. Seorang investor teknologi bahkan menyebut proyek chip fotonik yang tahun lalu bernilai 1 billiard yuan kini bisa dihargai 10 billiard yuan.
Kenaikan seperti itu membuat kekhawatiran terhadap gelembung valuasi semakin kuat. Pasar bergerak sangat cepat, sementara kemampuan bisnis untuk membuktikan diri belum tentu mengikuti laju yang sama.
Arus modal global juga kembali mengalir ke China. Data Preqin menunjukkan lima dana investasi berbasis dolar AS yang fokus pada China telah menghimpun sekitar US$4 miliar hingga pertengahan Juni.
Jumlah itu melampaui total penghimpunan dana tahunan dalam dua tahun terakhir. Kehadiran modal asing menegaskan bahwa minat terhadap teknologi China masih tinggi, meski risiko gelembung semakin sering dibicarakan.
Pelaku industri menilai percepatan teknologi mutakhir memang dapat membantu China mempersempit kesenjangan dengan Amerika Serikat. Namun, lonjakan modal yang terlalu cepat juga bisa memicu gelembung jika pertumbuhan bisnis dan kemampuan komersialisasi tidak ikut menguat.







