Tragedi Air India Flight 171 tidak hanya menyisakan duka besar, tetapi juga perdebatan tajam soal apa yang membuat pesawat itu jatuh 32 detik setelah lepas landas. Di satu sisi, ada dugaan fuel switch di kokpit dimatikan, sementara di sisi lain muncul kemungkinan kegagalan listrik besar yang mengacaukan sistem pesawat seketika.
Penerbangan AI171 berangkat dari Ahmedabad menuju London dengan 230 penumpang dan 10 awak kabin. Pesawat itu jatuh hampir seketika setelah take-off, menewaskan semua orang di dalam kecuali satu penumpang, serta 19 orang di darat.
Laporan awal yang memicu badai
Penyelidikan resmi berada di tangan Aircraft Accident Investigation Bureau India, atau AAIB, sesuai aturan Annex 13 Konvensi Penerbangan Sipil Internasional. Aturan itu menegaskan bahwa tujuan investigasi adalah pencegahan kecelakaan, bukan penentuan kesalahan atau tanggung jawab hukum.
Namun, laporan awal setebal 15 halaman yang dirilis sebulan setelah kecelakaan justru membuat situasi makin panas. Dokumen itu tidak berisi kesimpulan, tetapi menyebut dua fuel cutoff switches berpindah dari posisi run ke cutoff beberapa detik setelah take-off.
Laporan yang sama juga mengutip percakapan cockpit voice recording, saat satu pilot bertanya mengapa bahan bakar diputus dan pilot lain menjawab bahwa ia tidak melakukannya. Karena tidak ada transkrip dan identitas pembicara tidak dijelaskan, bagian ini langsung memicu spekulasi luas.
Teori pilot dan tekanan balasan
Sebagian media dan komentator segera menyorot kemungkinan tindakan sengaja dari kokpit. AAIB kemudian mengecam pelaporan yang selektif dan tidak terverifikasi, serta meminta publik tidak menyebarkan narasi prematur.
Federasi Pilot India, yang mewakili sekitar 6.000 pilot, menyebut laporan awal itu “irrevocably compromised”. Ketua federasi, Capt. CS Randhawa, menilai ada kecenderungan menyalahkan pilot yang sudah meninggal karena mereka tidak bisa membela diri.
Federasi itu lalu bergabung dengan ayah Sumeet Sabharwal, Pushkar Raj Sabharwal, untuk membawa kekhawatiran mereka ke Mahkamah Agung India. Mereka menuntut investigasi yudisial atas kecelakaan tersebut.
Di luar India, mantan ketua NTSB Robert Sumwalt mengatakan laporan awal menunjukkan masalahnya bukan pada pesawat atau mesin, melainkan pada seseorang di kokpit yang mematikan bahan bakar. Mantan penyidik kecelakaan udara Inggris Tim Atkinson juga menilai teori lain sulit dipertahankan, meski ia mengakui penyalahkan pilot yang sudah meninggal kerap terasa nyaman bagi banyak pihak.
Kenapa teori kegagalan listrik ikut menguat
Di sisi lain, safety campaigner, kelompok pilot, dan pengacara keluarga korban menolak keras teori pilot suicide. Mereka menunjuk riwayat masalah listrik pada pesawat serta kemungkinan ketidaksesuaian waktu dalam laporan awal sebagai alasan bahwa kecelakaan mungkin dipicu kegagalan listrik besar.
Pesawat berregistrasi VT-ANB itu dikirim ke Air India pada 2014. Menurut Foundation for Aviation Safety, pesawat tersebut mengalami serangkaian masalah listrik serius selama masa operasinya, meski Air India membantah klaim itu.
Dokumen yang dilihat BBC menunjukkan adanya insiden “burning” pada salah satu panel daya utama pada 2022. Air India mengatakan perbaikan dilakukan sesuai prosedur pemeliharaan yang disetujui Boeing dan pesawat kembali digunakan setelah seluruh persyaratan laik terbang dipenuhi.
Laporan awal juga menyebut pesawat diizinkan terbang dengan fault yang sudah diketahui pada core network, sistem yang menghubungkan komputer dan perangkat elektronik pesawat. Dalam banyak penjelasan teknis, core network ini sering disebut sebagai “central nervous system” pesawat.
RAT, simulasi, dan pertanyaan yang belum terjawab
Kuasa hukum keluarga korban juga menyoroti Ram Air Turbine, atau RAT, baling-baling kecil yang dapat menghasilkan listrik dan tekanan hidrolik saat sistem lain gagal. Pada AI171, rekaman CCTV menunjukkan RAT sudah deploy segera setelah take-off.
Menurut laporan awal, RAT mulai memasok tenaga hidrolik dalam lima detik setelah fuel switches diputus. Tetapi hasil simulasi yang dibagikan kepada BBC menunjukkan perangkat itu justru membutuhkan 14 hingga 18 detik untuk mencapai kondisi tersebut.
Jika simulasi itu akurat, RAT kemungkinan sudah deploy jauh lebih awal, bahkan saat pesawat masih di darat dan sebelum fuel cutoff terjadi. Pengacara Mike Andrews, yang mewakili keluarga 135 korban, menyebut temuan itu sebagai tanda ada sesuatu yang lebih dulu salah.
Rachel Chitra, jurnalis investigatif yang menulis detail teknis soal kasus ini, juga mendorong teori kegagalan listrik. Ia menyoroti bagian laporan awal yang menyebut mesin sempat mencoba menyala kembali setelah pasokan bahan bakar dipulihkan, sesuatu yang menurut penelitiannya mustahil pada kecepatan dan kondisi daya yang ada.
Taruhan besar bagi Boeing dan Air India
Bagi Boeing, kasus ini menyentuh reputasi 787 Dreamliner yang sebelumnya punya catatan keselamatan sangat baik. AI171 menjadi pertama kalinya 787 hilang akibat kecelakaan, meski produksi pesawat itu sudah lama dibayangi laporan cacat dan masalah manufaktur.
Air India pun berada dalam posisi sulit karena maskapai itu merugi selama bertahun-tahun sebelum diambil alih Tata Group setelah sebelumnya dimiliki pemerintah hingga 2022. Upaya pemulihan bisnisnya masih berjalan berat.
AAIB wajib menerbitkan laporan akhir dalam 12 bulan jika memungkinkan, dan jika belum selesai laporan interim harus keluar pada peringatan kecelakaan. Namun, banyak pihak meragukan laporan itu akan memberi jawaban final dalam waktu dekat.
ICAO sendiri telah mengusulkan perubahan Annex 13 untuk memperkuat kredibilitas dan transparansi, termasuk kemungkinan mendelegasikan penyelidikan ke pihak ketiga bila perlu. Bagi para pengkritik, kasus AI171 menunjukkan betapa sulitnya mencari kebenaran ketika tuduhan terhadap pilot, perusahaan, dan regulator saling bertabrakan sebelum fakta final benar-benar jelas.
Perbandingan Teori Utama
| Teori | Dasar Argumen |
|---|---|
| Fuel switch dimatikan di kokpit | Laporan awal menyebut dua switch berpindah ke cutoff dan ada percakapan di cockpit voice recording |
| Kegagalan listrik besar | Disorot oleh riwayat masalah listrik, fault pada core network, dan pertanyaan soal urutan deploy RAT |
| Investigasi masih terbuka | AAIB belum menarik kesimpulan dan laporan final masih ditunggu |
Di tengah tiga teori yang saling bertabrakan, satu hal yang belum berubah adalah besarnya tekanan agar investigasi dibuka lebih transparan. Selama data teknis penuh belum tersedia, perdebatan soal apa yang benar-benar terjadi di kokpit AI171 masih akan terus membelah publik, keluarga korban, dan dunia penerbangan.







