AI Ini Bikin Baterai Mobil Listrik Lebih Awet 23 Persen, Fast Charging Tetap 24 Menit

Pengisian cepat selama ini jadi alasan kuat banyak orang melirik mobil listrik. Namun, kecepatan itu kerap datang dengan biaya tersembunyi: kesehatan baterai yang terkikis lebih cepat dalam jangka panjang.

Di tengah dilema itu, peneliti dari Chalmers University of Technology mengembangkan algoritma AI yang dirancang untuk menjaga baterai tetap awet tanpa mengorbankan waktu isi daya. Teknologi berbasis perangkat lunak ini disebut mampu memperpanjang umur pakai baterai hingga 23 persen dengan memanfaatkan data yang sudah umum tersedia di sistem kendaraan listrik.

AI yang membaca kondisi baterai

Pendekatan yang dikembangkan tim Chalmers bersifat health-aware. Artinya, algoritma menyesuaikan proses pengisian berdasarkan kondisi kesehatan baterai, bukan memakai pola yang sama untuk semua situasi.

Sistem ini membaca state of health baterai lalu mengatur batas tegangan dan laju pengisian sesuai kebutuhan. Cara kerja seperti ini penting karena baterai yang menua tidak lagi sanggup menerima arus besar sebaik saat masih baru.

Jika pengisian cepat dilakukan terus-menerus dengan pola yang sama, kapasitas baterai bisa turun lebih cepat. Dalam jangka panjang, masa pakai baterai pun ikut menyusut meski pengguna mendapatkan waktu isi daya yang singkat.

Dalam publikasi IEEE terbaru, sistem tersebut diuji lewat simulasi. Hasilnya, baterai dapat bertahan hingga 703 siklus pengisian sebelum kapasitasnya turun di bawah 80 persen.

Angka itu lebih tinggi dibanding metode konvensional yang mencapai 572 siklus. Selisih tersebut menghasilkan peningkatan umur pakai sekitar 23 persen, sementara waktu pengisian tetap berada di kisaran 24 menit.

Tidak butuh sensor tambahan

Salah satu daya tarik utama teknologi ini ada pada kesederhanaannya. Algoritma tidak membutuhkan sensor khusus tambahan untuk memantau kondisi baterai.

Sistem cukup menggunakan data tegangan sel yang selama ini sudah lazim dipakai oleh produsen kendaraan listrik. Dari data itu, AI bisa mendeteksi tanda-tanda degradasi dan menyesuaikan strategi pengisian dengan lebih presisi.

Model seperti ini membuka peluang adopsi yang lebih luas. Produsen tidak harus menambah komponen baru pada kendaraan, sehingga implementasinya berpotensi lebih mudah diintegrasikan ke sistem yang sudah ada.

Bagi konsumen, manfaatnya juga terasa langsung. Baterai merupakan salah satu komponen termahal pada kendaraan listrik, sehingga usia pakai yang lebih panjang dapat menekan biaya kepemilikan dalam jangka panjang.

Menjawab dilema pengisian cepat

Industri kendaraan listrik sejak lama menghadapi dilema yang rumit. Konsumen menginginkan pengisian secepat mungkin, tetapi baterai justru menjadi bagian paling rentan ketika arus tinggi digunakan terlalu agresif dari waktu ke waktu.

Karena itu, solusi yang bisa menjaga kesehatan baterai tanpa memperlambat pengisian dianggap penting. Teknologi dari Chalmers mencoba menyeimbangkan dua kebutuhan sekaligus, yakni kenyamanan pengguna dan ketahanan komponen utama kendaraan.

Jika diterapkan secara komersial, pengguna tidak harus memilih antara baterai awet atau pengisian cepat. Sistem dapat mengatur cara pengisian sesuai kondisi aktual baterai, bukan sekadar memakai pola tetap untuk semua situasi.

Arah industri mulai bergerak

Meski riset ini masih berada pada tahap pengembangan, arah industrinya sudah mulai terlihat. Sejumlah perusahaan rintisan seperti GBatteries dan Breathe juga mengembangkan perangkat lunak pengisian pintar untuk baterai kendaraan listrik.

Breathe bahkan telah menjalin kerja sama dengan Volvo untuk generasi kendaraan listrik terbaru. Implementasi itu disebut akan dimulai dari EX60 yang dijadwalkan rilis pada 2027.

Menurut klaim Breathe, sistem mereka dapat mempercepat pengisian hingga 15–30 persen sambil tetap menjaga kesehatan baterai. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan pengisian berbasis software makin dipandang sebagai area penting dalam persaingan teknologi kendaraan listrik.

Jika tren ini terus berlanjut, masa depan mobil listrik tidak hanya ditentukan oleh kapasitas baterai atau ukuran motor penggerak. Cara AI mengelola proses pengisian bisa menjadi faktor penentu yang membuat baterai lebih tahan lama dan kendaraan lebih efisien digunakan sehari-hari.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button