Penggunaan AI di game ternyata bukan sekadar bahan perdebatan di komunitas pemain. Studi baru dari Game Oracle menunjukkan bahwa game yang mengungkap pemakaian AI justru cenderung mendapat respons lebih buruk di pasar, dan dampaknya paling terasa pada studio yang sudah mapan.
Di Steam, isu ini makin terbuka sejak Valve mewajibkan disclosure AI dari developer pada Januari 2024. Sejak saat itu, halaman game mulai menampilkan penjelasan singkat soal pemakaian AI selama pengembangan, mulai dari aset, musik, hingga voice-over.
Penjualan dan ulasan ikut tertekan
Ross Burton, PhD, Head of Product and Data di Game Oracle, menyimpulkan bahwa penggunaan AI memang merugikan penjualan dan reputasi game. Dari analisisnya, sekitar 21% game yang rilis di Steam pada 2025 sebelum November memuat disclosure penggunaan AI.
Game Oracle meneliti hampir 10.000 rilis Steam antara Januari dan Oktober 2025. Hasilnya, game dengan disclosure AI rata-rata hanya mendapat 4 ulasan pada bulan pertama setelah rilis, sedangkan game tanpa AI mendapat 7 ulasan.
Selisih lain juga terlihat pada partisipasi pemain. Hampir 20% game dengan disclosure AI tidak mendapat satu ulasan pun, dibanding 15% pada game non-AI.
Saat sampel dibatasi pada game dengan setidaknya 100 ulasan, gap skor tetap muncul. Game yang memakai AI mencatat rata-rata 84,6%, sementara game tanpa AI berada di 88,3%.
Efek paling berat justru di studio besar
Game Oracle tidak berhenti pada data permukaan. Mereka membangun model statistik kausal untuk mengontrol pengalaman developer, dukungan publisher, genre, dan tanggal rilis agar perbandingan lebih adil.
Hasil model itu menunjukkan game yang mengungkap penggunaan AI menerima sekitar 53% lebih sedikit ulasan dibanding game non-AI dalam kelompok yang sebanding. Dalam ilustrasi sederhana, jika game tanpa AI mendapat 100 ulasan, game AI di skenario itu hanya meraih sekitar 47.
Dampak yang paling tajam justru muncul pada studio yang sudah punya nama. Bagi developer dengan jejak rilis sebelumnya dan audiens yang sudah ada, penggunaan AI dikaitkan dengan penurunan penjualan sebesar 40% hingga 60%.
Burton menilai kondisi itu sangat berat untuk studio yang memiliki talenta, anggaran, dan pengalaman, karena faktor-faktor tersebut biasanya justru mendorong penjualan 20% hingga 65%. Di titik itu, efek negatif AI terlihat jauh lebih kontras.
Bukan sekadar penolakan terhadap AI
Meski hasilnya kuat, Burton tidak menyimpulkan bahwa pemain sedang melakukan boikot besar-besaran terhadap AI. Ia menilai ada banyak faktor lain yang ikut bekerja, termasuk kemungkinan bahwa AI sering berkaitan dengan keputusan lain yang membuat game terasa kurang matang.
Penelitian itu juga memberi nuansa berbeda pada studio pemula. Developer yang belum berpengalaman dan tidak punya anggaran pemasaran hampir tidak merasakan dampak negatif besar dari disclosure AI, karena game mereka memang sudah berisiko kesulitan sejak awal.
Dengan kata lain, AI bukan satu-satunya penyebab turunnya performa. Namun pada game yang dikerjakan studio besar dan kompeten, stigma AI bisa menjadi beban tambahan yang nyata.
Steam Next Fest ikut memperkuat sorotan
Gambaran ini makin relevan ketika Steam Next Fest memperlihatkan banyak game baru yang tampak jelas dibuat dengan bantuan AI. Tidak semua kasus terlihat sama, tetapi sorotan publik terhadap penggunaan teknologi ini semakin besar.
Game Oracle juga menyinggung contoh The Finals dan Suck Up! sebagai keberhasilan yang tetap memakai AI. Di sisi lain, Black Ops 7 dan Jurassic World Evolution 3 disebut sebagai contoh brand yang terkena dampak negatif karena penggunaan AI.
Burton menutup temuannya dengan pesan hati-hati terhadap penggunaan teknologi ini. Ia menilai AI bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus dipakai dengan cermat karena AI bukan pengganti kerja keras, melainkan alat untuk meringankan beban kerja.
