Kecerdasan buatan kini mulai dipakai untuk memburu penyelundupan satwa liar laut yang selama ini sulit terdeteksi di bandara. Sistem baru ini mampu mengenali sirip hiu, kuda laut kering, hingga teripang dari hasil pemindaian bagasi penumpang.
Teknologi tersebut penting karena barang selundupan laut sering disamarkan seperti barang biasa, lalu lolos dari pemeriksaan visual sederhana. Dalam perdagangan ilegal, penyamaran semacam ini membuat satwa laut lebih sulit dilacak dibandingkan satwa liar darat yang lebih sering jadi sorotan publik.
Pemindai CT dipadukan dengan jaringan saraf
Menurut siaran pers dari jurnal Frontiers in Ocean Sustainability, sistem ini memanfaatkan pemindai CT sinar-X tiga dimensi yang sudah digunakan di bandara. Data pemindaian itu kemudian diproses dengan model jaringan saraf untuk menemukan objek mencurigakan di dalam bagasi.
Tim yang dipimpin ilmuwan dari Universitas Macquarie melakukan hampir 300 pemindaian menggunakan sampel sitaan dari kasus perdagangan ilegal satwa liar laut. Tujuannya adalah melatih algoritma agar memahami bentuk, kepadatan, dan pola objek yang kerap muncul dalam penyelundupan.
Disamarkan dalam pakaian, foil, hingga mainan
Para peneliti juga menguji beberapa modus penyamaran yang umum dipakai pelaku. Barang sitaan dibungkus aluminium foil, diselipkan di antara pakaian, dan disembunyikan di dalam mainan agar simulasi lebih mendekati kondisi nyata di bandara.
Dari pengujian itu, sistem mencatat akurasi deteksi keseluruhan 92 persen. Untuk sirip hiu, tingkat deteksinya mencapai 95 persen, sedangkan kuda laut kering berada di angka 96 persen.
Teripang menjadi jenis yang paling menantang karena tingkat deteksinya berada di 86 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap produk satwa laut punya karakteristik berbeda yang memengaruhi kemampuan mesin mengenalinya.
Pelengkap bagi petugas, bukan pengganti
Vanessa Pirotta dari Universitas Macquarie, penulis utama penelitian, mengatakan timnya hanya bisa menyimulasikan skenario penyelundupan dunia nyata berdasarkan kasus yang sudah pernah terdeteksi. Ia juga menegaskan bahwa AI bukan solusi ajaib untuk deteksi, dan bukan pengganti metode manusia maupun anjing pelacak.
Peringatan itu penting karena sistem berbasis data tetap punya batas. AI bisa menghasilkan false positive, yaitu saat barang yang bukan produk satwa liar laut ilegal ikut ditandai sebagai mencurigakan.
Selain itu, akses ke pemindai 3D canggih belum merata di semua titik pemeriksaan. Artinya, penerapan teknologi ini masih bergantung pada infrastruktur yang tersedia di lapangan.
Meski begitu, riset ini memberi arah baru dalam upaya menekan perdagangan ilegal satwa liar laut yang nilainya diperkirakan mencapai miliaran dolar setiap tahun. Dengan bantuan pemindai CT bandara dan analisis AI, peluang menemukan sirip hiu, kuda laut kering, dan teripang yang disembunyikan dalam bagasi menjadi jauh lebih besar.
