Masuknya Apple ke pasar ponsel lipat bisa menjadi titik balik besar bagi Samsung. iPhone Ultra Fold diperkirakan meluncur pada 2026 dan langsung masuk ke arena premium yang selama ini dipimpin lini Galaxy Z Fold.
Yang membuat persaingan ini lebih serius adalah skala dampaknya. Analis memperkirakan Apple bisa merebut 22% pasar ponsel lipat pada tahun pertamanya, sebuah sinyal kuat bahwa basis pengguna iPhone bisa langsung mendorong adopsi kategori ini.
Harga tinggi, targetnya jelas
iPhone Ultra Fold diperkirakan dibanderol sekitar $2,000, tepat di jalur yang sama dengan ponsel lipat premium Samsung. Apple tampaknya tidak berusaha masuk ke kelas menengah, melainkan langsung menantang pasar atas dengan perangkat yang dirancang untuk pengguna flagship.
Peluncurannya juga disebut akan berbarengan dengan seri iPhone 18 pada 2026. Namun, karena produksi ponsel lipat jauh lebih rumit, jadwal itu masih bisa bergeser hingga akhir Desember.
Desain tipis, material ringan, dan tanpa slot SIM
Di sisi desain, Apple kabarnya menyiapkan kombinasi bodi ramping dan struktur yang kuat. Rangkanya disebut memakai campuran titanium dan aluminium, terinspirasi dari pendekatan ringan pada iPhone Air.
Warna yang disiapkan juga dibuat minimalis, hanya dark blue dan white. Tombol fisik dipindahkan ke sisi kiri, sementara slot SIM fisik dihapus sepenuhnya dan diganti dengan skema eSIM-only.
Format lipatnya mengandalkan dua layar untuk dua kebutuhan berbeda. Layar luar dipakai untuk interaksi cepat, sedangkan layar dalam ditujukan untuk pengalaman seperti tablet saat perangkat dibuka.
Layar, lipatan, dan engsel jadi medan utama
Ukuran layar luarnya disebut 5,5 inci, sementara layar dalam mencapai 7,8 inci. Kombinasi ini dirancang untuk memberi keseimbangan antara kepraktisan saat tertutup dan ruang kerja yang lebih luas saat dibuka.
Salah satu fokus terbesar ada pada lipatan layar yang selama ini masih menjadi masalah umum di kategori foldable. Apple disebut bekerja sama dengan Samsung Display untuk kualitas panel, lalu memakai teknologi perekat dan kaca canggih guna mengurangi visibilitas crease.
Kolaborasi itu menarik karena Samsung tetap menjadi pesaing utama di pasar sekaligus pemain penting di rantai pasok layar. Jika Apple benar-benar bisa menekan tampilan lipatan dan menjaga kualitas panel, tekanan ke Galaxy Z Fold akan datang dari area yang paling sensitif bagi pengguna.
Engselnya juga diperkirakan menjadi pusat perhatian. Apple disebut menargetkan mekanisme lipat yang lebih mulus dan lebih tahan lama untuk menjawab kekhawatiran soal aus dan keandalan jangka panjang.
Performa flagship dan kamera serba serius
Di bagian dapur pacu, iPhone Ultra Fold diperkirakan memakai chip A20 atau A20 Pro. Konfigurasinya disebut minimal membawa RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB untuk menopang multitasking serta aplikasi berat.
Spesifikasi itu penting karena ponsel lipat premium tidak hanya dinilai dari bentuknya. Pengguna di kelas ini juga menuntut performa setara flagship utama saat menjalankan banyak aplikasi di layar besar.
Untuk kamera, Apple disebut menyiapkan dua kamera belakang 48 MP dan dua kamera depan 18 MP. Ada pula eksplorasi teknologi kamera bawah layar yang berpotensi membuat tampilan layar lebih bersih tanpa mengorbankan fungsi kamera depan.
Daya tahan baterai menjadi perhatian lain yang tak kalah besar. Kapasitasnya diperkirakan berada di rentang 5,000 hingga 5,500 mAh, yang disebut sebagai baterai terbesar yang pernah dibawa iPhone.
Kapasitas sebesar itu penting karena ponsel lipat cenderung lebih boros daya. Dengan baterai besar, Apple tampaknya ingin memastikan perangkat ini tetap kuat dipakai untuk kerja, hiburan, dan multitasking sepanjang hari.
iOS 27 disiapkan untuk pengalaman foldable
Keunggulan Apple tidak hanya bergantung pada perangkat keras. iOS 27 disebut akan dioptimalkan khusus untuk foldable, termasuk fitur split-screen, kesinambungan aplikasi antar layar, dan alat multitasking yang lebih maju.
Bagian perangkat lunak ini bisa menjadi pembeda utama. Di pasar ponsel lipat, pengalaman penggunaan sering kali ditentukan bukan hanya oleh layar yang bisa dibuka tutup, tetapi juga oleh seberapa baik sistem operasi memanfaatkan format itu.
Jika integrasi hardware dan software berjalan mulus, iPhone Ultra Fold berpotensi menjadi tolok ukur baru di kategori foldable. Bagi Samsung, tantangannya bukan sekadar menghadapi pesaing baru, tetapi juga kemungkinan munculnya standar baru dari Apple di segmen yang selama ini paling dikuasainya.
