
Minum air putih saat makan ternyata bukan kebiasaan yang perlu ditakuti. Ahli gastroenterologi menegaskan, anggapan bahwa air mengencerkan asam lambung dan enzim pencernaan hingga mengganggu proses cerna adalah mitos yang kurang tepat secara fisiologis.
Dr. Rucha Shah, M.D., dari HonorHealth, mengatakan air justru menjadi teman terbaik sistem pencernaan. Ia menyebut minum air saat makan aman dan bermanfaat bagi kebanyakan orang, sebagaimana dikutip dari Parade.
Mengapa air tidak mengganggu kerja lambung
Secara fisiologis, lambung bersifat sangat adaptif dan elastis. Organ ini menyesuaikan sekresinya dengan isi yang masuk, sehingga tidak bekerja kaku terhadap perubahan volume cairan.
Selama proses pencernaan, lambung juga memproduksi cairan berupa air bersama asam lambung dan enzim pencernaan. Air membantu mendukung fungsi enzim-enzim tersebut agar bekerja dengan baik.
Pandangan bahwa segelas air otomatis merusak proses cerna tidak sejalan dengan cara tubuh bekerja. Justru, dalam kondisi normal, cairan membantu sistem pencernaan menjalankan fungsinya secara lebih efisien.
Manfaat yang sering dirasakan saat makan
Di balik kekhawatiran yang beredar, minum air putih sebelum, selama, atau setelah makan punya sejumlah manfaat. Salah satunya adalah membantu mengatur nafsu makan dan mencegah makan berlebihan.
Air atau minuman nol kalori dapat mengisi volume lambung lebih cepat. Kondisi ini memicu reseptor peregangan di perut untuk mengirim sinyal kenyang ke otak lebih awal.
Ada pula jeda alami dalam proses kenyang. Otak biasanya butuh waktu sekitar 15 hingga 20 menit setelah suapan pertama untuk menerima sinyal kenyang sepenuhnya.
Karena itu, minum air saat makan dapat membantu sebagian orang lebih cepat menyadari bahwa tubuh sudah cukup menerima asupan. Efek ini membuat porsi makan lebih mudah dikendalikan tanpa harus menunggu terlalu lama.
Membantu makanan lebih mudah lewat
Air juga membantu makanan lebih mudah ditelan karena melumasi kerongkongan. Makanan yang sudah dikunyah jadi lebih mudah meluncur menuju lambung, dan proses ini didukung gerak peristaltik.
Selain itu, air berperan dalam melarutkan vitamin, mineral, dan nutrisi lain dari makanan. Setelah itu, komponen tersebut dapat diantarkan ke seluruh tubuh dengan lebih baik.
Fungsi ini membuat air bukan hanya pelengkap di meja makan, tetapi bagian dari proses cerna yang membantu kerja tubuh secara keseluruhan. Pada kebanyakan orang, minum air saat makan justru mendukung kenyamanan saat makan.
Perlu lebih hati-hati pada penderita GERD
Meski aman bagi kebanyakan orang, ada pengecualian yang perlu diperhatikan pada penderita GERD. Dr. Rosario Ligresti, M.D., menjelaskan bahwa minum banyak cairan apa pun saat makan dapat meningkatkan volume dan tekanan lambung.
Pada sebagian penderita GERD, kondisi itu berpotensi memperburuk gejala refluks. Karena itu, yang perlu dijaga bukan sekadar boleh atau tidaknya minum air saat makan, melainkan jumlahnya.
Artinya, respons tubuh tetap menjadi acuan penting. Orang yang mudah begah atau punya keluhan asam lambung perlu lebih peka terhadap jumlah cairan yang diminum bersamaan dengan makanan.
Berapa banyak yang dianggap cukup
Tidak ada ukuran pasti yang berlaku untuk semua orang. Namun, para ahli menyarankan agar tidak minum dalam jumlah besar saat makan.
Satu gelas air putih berukuran delapan ons sudah dinilai cukup. Minum terlalu banyak atau terlalu cepat saat makan bisa memicu kembung dan rasa tidak nyaman di perut pada sebagian orang.
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada air putih itu sendiri. Yang lebih penting adalah porsi dan kecepatan minum, terutama bagi mereka yang memiliki lambung sensitif.
Pada akhirnya, air putih bukan lawan bagi pencernaan saat makan. Bagi kebanyakan orang, kebiasaan ini aman dan membantu, selama tetap disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing, terutama bila memiliki GERD atau mudah merasa begah.
Source: www.beautynesia.id




