Aceh mulai memasuki fase pemulihan yang lebih nyata setelah bencana hidrometeorologi merusak sejumlah titik infrastruktur. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menargetkan lima jembatan strategis bisa mulai rampung dan difungsikan pada Juli.
Target itu menjadi penting karena jembatan-jembatan tersebut memegang peran langsung dalam memulihkan konektivitas warga. Ketika akses kembali terbuka, arus transportasi masyarakat dan distribusi logistik di jalur nasional Aceh diharapkan ikut bergerak lebih lancar.
Lima titik prioritas pemulihan
Lima jembatan yang masuk percepatan itu adalah Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen, Krueng Meureudu, Ulee Langa, Lawe Mengkudu I, dan Pantai Dona. Seluruhnya masuk dalam penanganan infrastruktur nasional yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November lalu.
Fokus pekerjaan tidak hanya pada pembangunan ulang struktur fisik. Pemerintah juga menargetkan pemulihan fungsi jalur nasional agar mobilitas warga kembali aman dan distribusi barang tidak lagi bergantung pada akses sementara.
Krueng Tingkeum paling menonjol progresnya
Di antara lima titik itu, Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, menjadi salah satu yang paling terlihat progresnya. Hingga 19 Mei 2026, pembangunan jembatan rangka baja permanen tersebut sudah mencapai 51 persen.
Material girder baja juga sudah tiba di lokasi proyek. Tahap berikutnya adalah erection atau pemasangan girder baja dari abutment satu menuju pilar satu, yang menjadi bagian penting dalam penyelesaian konstruksi.
PPK 1.3 Balai Pelaksana Jalan Nasional Aceh, Isnanda, menyebut pekerjaan masih berjalan sesuai rencana. Ia mengatakan progres pembangunan jembatan permanen Krueng Tingkeum terus mengikuti tahapan pekerjaan.
Dampak langsung untuk warga dan logistik
Kehadiran jembatan permanen diharapkan memberi dampak langsung pada masyarakat di lintas nasional wilayah barat-timur Aceh. Jalur tersebut sempat terganggu setelah bencana, sehingga infrastruktur baru dibutuhkan untuk memulihkan akses secara lebih aman.
Menurut Isnanda, pembangunan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan di lintas nasional Kabupaten Bireuen. Sebelumnya, akses di kawasan itu masih mengandalkan jembatan Bailey sementara yang beberapa kali memerlukan perbaikan.
Situasi itu membuat penggantian ke jembatan permanen menjadi kebutuhan mendesak. Dengan struktur yang lebih stabil, jalur transportasi diharapkan tidak lagi terlalu rentan terhadap gangguan operasional.
Masih ada belasan jembatan lain dalam proses
Selain lima jembatan yang ditargetkan selesai pada Juli, masih ada 14 jembatan permanen lain di Aceh yang juga menjalani rehabilitasi. Pemerintah menargetkan seluruhnya selesai pada Desember.
Sejumlah titik lain yang ikut masuk daftar penanganan antara lain Lumut, Teupin Mane, Krueng Beutong, Titi Merah, Jamur Mesin 7, Lenang, dan Gampong Salah Sirong Jaya. Banyaknya lokasi yang dikerjakan menunjukkan pemulihan infrastruktur dasar di Aceh masih berlangsung di banyak sisi.
Percepatan ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan fungsi jalur nasional agar aktivitas masyarakat dan distribusi barang dapat kembali bergerak lebih lancar. Di saat yang sama, proyek-proyek tersebut juga menjadi penanda bahwa fase tanggap darurat mulai bergeser ke pemulihan yang lebih terukur.
Source: www.medcom.id






