
Konsumsi gula harian masyarakat Indonesia kini berada di level yang patut diwaspadai, yakni 62–75 gram per hari. Angka itu melampaui batas maksimal anjuran Kementerian Kesehatan yang berada di 50 gram per hari, dan dampak awalnya paling cepat terlihat pada gigi.
Risiko itu tidak datang dari satu sumber saja. Kopi susu, teh kemasan, minuman boba, dan camilan manis membuat gula masuk berulang kali sepanjang hari, sehingga mulut menjadi arena pertama yang menerima efeknya.
Gigi menjadi target awal paparan gula
Di dalam mulut, gula tidak berhenti sebagai sisa makanan. Bakteri seperti Streptococcus mutans memanfaatkannya sebagai energi lalu mengubahnya menjadi asam dalam waktu sekitar 20–30 menit setelah konsumsi.
Asam ini perlahan mengikis enamel, lapisan pelindung terluar gigi. Jika prosesnya terus berulang, gigi menjadi lebih sensitif dan lebih mudah berlubang.
Bakteri juga menghasilkan glukan, zat lengket yang membuat plak melekat lebih kuat di permukaan gigi. Plak yang makin tebal membuat pembersihan biasa menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko kerusakan gigi.
Paparan berulang membuat pemulihan makin sulit
Makanan dan minuman manis membuat lingkungan mulut menjadi lebih asam. Dalam kondisi itu, enamel kehilangan mineral pentingnya dan daya tahan gigi ikut menurun.
Risikonya bertambah ketika konsumsi gula tidak hanya terjadi saat makan utama. Gigi lalu menghadapi serangan berulang tanpa cukup waktu untuk pulih.
Jika kebiasaan ini dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai, peluang gigi berlubang akan meningkat. Pada tahap tertentu, kerusakan tidak lagi berhenti pada rasa tidak nyaman, tetapi berkembang menjadi lubang permanen.
Perlindungan gigi mulai bergeser ke pendekatan biologis
Tingginya tantangan kesehatan gigi akibat pola konsumsi gula tinggi membuat pendekatan perlindungan ikut berkembang. Selain pembersihan mekanis, sebagian riset kini menyoroti perlindungan biologis untuk menekan pembentukan plak sejak awal.
dr. Liu Jitao, Head of Research & Development usmile Global, menilai pembersihan gigi konvensional tidak selalu cukup ketika asupan gula harian tinggi. Ia menjelaskan bahwa bakteri dapat mengubah gula menjadi glukan yang sangat lengket, sehingga pencegahan perlu menyasar proses biologisnya.
“Penggunaan enzim seperti Dextranase terbukti mampu mendegradasi glukan tersebut dan menurunkan daya lekat plak pada permukaan enamel. Bersama Lysozyme, formulasi ini membantu mencegah terbentuknya plak secara lebih proaktif,” ujarnya.
Dextranase bekerja memecah rantai glukan agar struktur plak lebih mudah terurai. Sementara itu, Lysozyme berperan sebagai agen antibakteri alami yang membantu menekan pertumbuhan bakteri penyebab karies.
Kebiasaan harian yang sering diremehkan
Di tengah gaya hidup modern, makanan dan minuman manis kerap dikonsumsi tanpa disadari. Frekuensi paparan yang tinggi membuat gigi terus bersentuhan dengan gula dan memberi peluang lebih besar bagi bakteri untuk membentuk asam serta plak.
Masalahnya, perhatian terhadap kesehatan gigi sering baru muncul setelah keluhan seperti nyeri atau gigi berlubang terasa. Padahal, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibanding menunggu kerusakan berkembang lebih jauh.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi gula bukan hanya soal pola makan, tetapi juga soal perlindungan gigi sehari-hari. Di tengah asupan gula masyarakat yang masih di atas anjuran, menjaga kebersihan mulut dan mencegah plak sejak awal menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan yang lebih menyeluruh.
Source: www.suara.com




