Pergantian kulit pada hewan sering dianggap sekadar tanda pertumbuhan, padahal proses ini bisa jauh lebih ekstrem. Pada sejumlah spesies, kulit lama dilepaskan total, lalu tubuh harus menunggu lapisan baru mengeras sebelum kembali aktif sepenuhnya.
Fenomena itu juga memperlihatkan strategi bertahan hidup yang berbeda-beda. Ada hewan yang memakainya untuk membuang parasit, ada yang memulihkan bagian tubuh tertentu, dan ada pula yang justru memakan kulitnya sendiri untuk mengembalikan nutrisi.
Ular, tanda awalnya terlihat dari warna tubuh
Pada ular, pergantian kulit terjadi saat tubuh membesar. Proses ini lebih sering terjadi ketika ular masih muda dan melambat setelah dewasa, dengan frekuensi sekitar empat sampai 12 kali per tahun.
Tanda awalnya cukup jelas. Kulit ular menjadi kusam, lalu mengencang, sebelum ular menggosok kepala ke permukaan kasar seperti batu atau kayu untuk membuat robekan kecil.
Setelah itu, ular merangkak keluar dari kulit lama. Saat proses berlangsung, ular biasanya mencari tempat lembap, lalu tampak lebih cerah setelah seluruh kulit lama terlepas.
Kepiting dan laba-laba sama-sama bergantung pada kerangka luar
Kepiting memiliki kerangka luar keras yang disebut cangkang. Karena cangkang itu tidak fleksibel, kepiting harus melepaskannya agar bisa tumbuh, meski kondisi ini membuatnya rentan terhadap pemangsa.
Setelah berganti cangkang, kepiting belum langsung aman. Cangkang baru mereka masih lunak dan lentur, sehingga mereka bersembunyi sampai lapisan itu mengeras, dan prosesnya bisa memakan waktu berhari-hari.
Laba-laba juga termasuk invertebrata dengan kerangka luar. Mereka harus melepaskan kerangka itu beberapa kali sepanjang hidup, dan selama proses berlangsung mereka bersembunyi untuk menghindari pemangsa lain.
Pergantian kulit pada laba-laba punya manfaat tambahan. Selain mendapatkan lapisan luar baru, laba-laba juga dapat meregenerasi anggota tubuh lain, meski bagian yang tumbuh kembali biasanya lebih kecil dan lebih lemah.
Cicada dan belalang punya pola pergantian yang sangat berbeda
Cicada dikenal memiliki tahap nimfa yang sangat panjang. Dari lebih dari 3.000 spesies yang ada, sebagian besar hidup di wilayah beriklim tropis, dan beberapa bisa bertahan hingga 17 tahun dengan sebagian besar waktu dihabiskan di bawah tanah.
Ketika waktunya tiba, nimfa cicada merangkak keluar dari tanah lalu naik ke permukaan vertikal seperti pohon atau tiang pagar. Di titik itu, mereka melepaskan seluruh kulit sebelum berubah menjadi serangga dewasa bersayap yang lebih besar.
Belalang juga berganti kulit, tetapi hanya sampai fase dewasa. Dalam hidup sekitar satu tahun, belalang melewati tahap telur, nimfa, lalu dewasa, dan selama fase nimfa mereka berganti kulit lima hingga enam kali.
Proses itu dipicu oleh hormon yang memberi sinyal saat tubuh perlu ruang untuk massa yang meningkat. Saat berganti kulit, belalang mengisap udara, memperbesar kerangka tubuhnya, lalu memecahkan kerangka lama.
Katak dan ulat sama-sama memanfaatkan pergantian kulit secara intensif
Pada katak, kulit akan mengeras seiring waktu dan harus dilepaskan sebelum terlalu keras. Jika dibiarkan, katak tidak bisa mendapatkan cukup oksigen.
Saat waktunya tiba, katak mengambil posisi meringkuk yang membuat kulit lama robek. Setelah itu, tubuhnya meregang hingga kulit tua terbelah dan terkelupas seluruhnya.
Kulit yang sudah terlepas tidak dibuang begitu saja. Katak memakannya untuk memulihkan nutrisi yang hilang selama pergantian kulit, lalu pola dan warna tubuhnya tampak lebih cerah.
Ulat juga berganti kulit berkali-kali selama pertumbuhan. Mereka melepaskan kerangka luar empat hingga lima kali dengan cara melebarkan tubuh hingga melampaui lapisan luar, membelahnya, lalu merangkak keluar.
Proses ini penting karena ulat dapat meningkatkan massa tubuh hingga 1.000 kali lipat. Selama periode itu, mereka makan sangat banyak, bahkan sepanjang hidupnya bisa mengonsumsi makanan hingga 27 ribu kali berat tubuhnya.
Source: www.idntimes.com






