Erika Dewi Agustin menempuh jalur kelulusan sarjana yang tidak biasa di Universitas Negeri Surabaya. Inovasi pembelajaran geometri melalui Tari Kembang Kahyangan membawanya lulus tanpa skripsi konvensional setelah artikelnya terbit di jurnal nasional terakreditasi Sinta 2.
Capaian tersebut juga mengantarkan Erika sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa. Ia meraih indeks prestasi kumulatif atau IPK 3,98 pada wisuda ke-120 Unesa yang berlangsung pada akhir Juni 2026.
Geometri yang Dipelajari lewat Gerak Tari
Inovasi Erika menggunakan pendekatan etnomatematika, yakni cara belajar yang menghubungkan konsep matematika dengan budaya yang dekat dengan siswa. Ia memilih Tari Kembang Kahyangan, tarian tradisional dari Kabupaten Bojonegoro, sebagai media belajar bagi murid kelas II sekolah dasar.
Kelenturan pola lantai dan gerakan tangan dalam tarian itu dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep geometri. Pendekatan ini dirancang agar matematika tidak hanya dipahami sebagai pelajaran yang sulit, melainkan materi yang dapat dipelajari melalui pengalaman yang lebih menyenangkan.
Gagasan tersebut berangkat dari percakapan Erika dengan sejumlah siswa sekolah dasar di Bojonegoro. Dari proses itu, ia melihat dua persoalan sekaligus, yakni kesulitan anak dalam memahami matematika dan semakin asingnya sebagian generasi muda terhadap tarian daerahnya sendiri.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Media budaya | Tari Kembang Kahyangan dari Bojonegoro |
| Sasaran | Siswa kelas II sekolah dasar |
| Materi pembelajaran | Konsep geometri |
| Hasil akademik | Artikel terbit di jurnal nasional terakreditasi Sinta 2 |
| Prestasi kelulusan | IPK 3,98 dan wisudawan terbaik FIP Unesa |
Publikasi Menjadi Jalur Kelulusan
Artikel ilmiah tentang media pembelajaran berbasis budaya tersebut menjadi dasar kelulusan Erika di Unesa. Publikasi itu membuatnya tidak perlu menempuh jalur skripsi biasa untuk menyelesaikan pendidikan S1.
Keberhasilan ini menempatkan inovasi pembelajaran sebagai bagian penting dari rekam akademiknya. Pendekatan berbasis budaya tidak hanya dipakai untuk menjawab kebutuhan belajar anak, tetapi juga menghasilkan karya ilmiah yang mendapat pengakuan melalui jurnal terakreditasi.
Menurut Kompas.com, penggabungan matematika dan tarian lokal itu dipilih setelah Erika berinteraksi dengan siswa SD di Bojonegoro. Tari Kembang Kahyangan kemudian menjadi pintu masuk untuk menghadirkan materi geometri dalam konteks yang lebih akrab bagi mereka.
Dari Rekayasa Perangkat Lunak ke Pendidikan Dasar
Perjalanan Erika di bidang pendidikan memiliki latar yang berbeda dari jalur pendidikan umum pada umumnya. Sebelum kuliah di Unesa, ia merupakan lulusan SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.
Latar belakang teknologi itu menjadi bekal tambahan ketika ia merancang media pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan era digital. Di kampus, Erika mendalami pendidikan dasar dan mengarahkan minatnya pada cara belajar anak sekolah dasar.
Selama menjalani perkuliahan, ia mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa dan Program Surabaya Mengajar. Kedua kegiatan tersebut memperluas pengalaman lapangan Erika sebagai calon pendidik.
Ia juga aktif di Pramuka Unesa dan PGSD Development Community. Keterlibatan organisasi menjadi ruang untuk mengembangkan kepemimpinan di luar kegiatan akademik.
Motivasi dari Keluarga dan Kebiasaan Belajar
Erika tumbuh dalam keluarga sederhana sebagai anak tunggal dari Ponco, seorang petani, dan Nyami Muharti yang merupakan ibu rumah tangga. Dukungan kedua orang tuanya menjadi motivasi untuk menjaga konsistensi selama menempuh pendidikan.
Ia membangun kebiasaan menyelesaikan tugas secara bertahap jauh sebelum tenggat waktu. Pola itu membantunya mengatur tanggung jawab akademik dengan lebih teratur.
Setelah menyandang gelar sarjana, Erika bersiap mengabdikan ilmu dan inovasinya sebagai guru sekolah dasar. Pengalamannya menunjukkan bahwa etnomatematika dapat mendekatkan matematika kepada siswa sambil ikut menjaga keberadaan Tari Kembang Kahyangan.







