Sebanyak 670 peserta berkumpul dalam Jambore Dakwah Kemanusiaan di Karanganyar untuk memperkuat ketahanan keluarga ‘Aisyiyah. Forum dua hari ini menempatkan keluarga sebagai pusat gerakan dakwah sekaligus jawaban atas tantangan zaman dan transformasi digital.
Agenda yang digelar di Wonder Park, Tawangmangu, Karanganyar, itu mempertemukan peserta dari seluruh Jawa Tengah. Fokus utamanya bukan sekadar konsolidasi internal, melainkan penguatan kapasitas mubalighot agar pendampingan keluarga bisa lebih terarah di tingkat akar rumput.
Sinergi untuk Isu Keluarga dan Kesehatan
‘Aisyiyah menegaskan komitmen sinergi pentaheliks bersama BAZNAS, BKKBN, dan dinas terkait. Kolaborasi ini diarahkan untuk menuntaskan persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem di lapangan.
Ketua PWA Jawa Tengah, Dr. Eny Winaryati, M.Pd., menyebut keluarga sakinah sebagai unit terkecil yang melahirkan lingkungan harmonis. Ia juga menegaskan bahwa ketahanan keluarga ‘Aisyiyah menjadi kunci membangun peradaban yang kokoh.
Eny menekankan bahwa setiap langkah kader harus berbasis data lapangan. Dengan cara itu, bantuan yang disalurkan diharapkan benar-benar memberi dampak nyata bagi keluarga sasaran.
109 Mubalighot Dikerahkan ke Desa Binaan
Dalam kegiatan tersebut, PWA Jawa Tengah meluncurkan 109 mubalighot sebagai aksi nyata. Mereka mendapat tugas mengawal 10 program unggulan desa binaan, termasuk literasi digital dan gerakan resik cahaya.
Ketua Panitia, Dr. Amiroh, M.Ag., menegaskan acara ini tidak berhenti pada simbol seremonial. Menurut dia, fokus utama kegiatan adalah pemberdayaan keluarga melalui pendampingan intensif di tingkat akar rumput.
Ia juga menyebut ‘Aisyiyah ingin memastikan ketahanan pangan dan kesehatan reproduksi tetap terjaga. Karena itu, kader yang disiapkan diharapkan siap turun langsung ke masyarakat untuk mewujudkan Qaryah Thayyibah.
Dorongan Kemandirian Finansial Keluarga
Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., menyoroti pentingnya kemandirian finansial keluarga. Ia mendorong ZIS, atau zakat, infak, dan sedekah, menjadi budaya kultural di tingkat desa.
Tafsir menyampaikan bahwa desa sadar zakat perlu dibangun agar zakat menjadi kultur sehari-hari. Ia menilai kekuatan finansial menjadi salah satu penopang utama dakwah yang berdaya.
Melalui Jambore Dakwah Kemanusiaan ini, ‘Aisyiyah berharap lahir dampak sistemik untuk upaya cegah stunting nasional. Dengan dukungan mitra strategis, organisasi ini memperkuat posisinya sebagai penggerak keluarga sakinah Jawa Tengah yang adaptif terhadap tantangan zaman.
