6 Titik di Jawa Lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan, Puncak Kemarau Kian Dekat

Author: Cung Media

Enam titik pengamatan di Pulau Jawa telah melewati lebih dari 60 hari tanpa hujan, menandakan kondisi kering ekstrem di sejumlah wilayah. Catatan ini muncul ketika sebagian besar wilayah Indonesia mulai bergerak menuju puncak musim kemarau.

Titik dengan durasi kering terpanjang berada di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena periode kering berkepanjangan dapat memperkuat dominasi cuaca cerah dan minim hujan di area terdampak.

Enam Titik Masuk Kategori Ekstrem Panjang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menggunakan istilah hari tanpa hujan untuk periode berturut-turut saat suatu wilayah tidak menerima hujan atau hanya mendapat curah hujan sangat rendah. Batas yang digunakan adalah curah hujan kurang dari 1 milimeter.

Wilayah yang tidak menerima hujan selama 31 hingga 60 hari masuk kategori sangat panjang. Adapun durasi lebih dari 60 hari diklasifikasikan sebagai kategori ekstrem panjang.

Kategori Hari Tanpa Hujan Durasi Jumlah Titik Wilayah Dominan
Sangat panjang 31-60 hari 331 titik Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
Ekstrem panjang Lebih dari 60 hari 6 titik Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur

Dari enam titik kategori ekstrem panjang itu, satu titik berada di Jawa Tengah. DI Yogyakarta memiliki dua titik, sedangkan Jawa Timur mencatat tiga titik pengamatan.

Sementara itu, kategori sangat panjang tercatat di 331 titik pengamatan. Sebarannya terkonsentrasi di sebagian besar Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Periode kering 31 sampai 60 hari juga terjadi di sebagian kecil Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Namun, catatan lebih dari dua bulan tanpa hujan hanya ditemukan pada enam titik di Jawa.

Puncak Kemarau Meluas hingga September

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan menjangkau semakin banyak wilayah pada Juli hingga September. Pada Juli, sebanyak 83 Zona Musim atau 12,26 persen wilayah Indonesia diprediksi mencapai fase puncak tersebut.

Periode Zona Musim Cakupan Wilayah Indonesia
Juli 83 12,26 persen
Agustus 369 48,84 persen
September 2026 169 25,41 persen

Cakupan puncak kemarau diprediksi paling luas terjadi pada Agustus dengan 369 Zona Musim atau 48,84 persen wilayah Indonesia. Selanjutnya, 169 Zona Musim atau 25,41 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau pada September 2026.

Kondisi global turut menjadi perhatian dalam pemantauan cuaca nasional. BMKG menyatakan fenomena El Niño masih aktif dengan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai positif 1,47.

Dalam informasi potensi hujan periode 21-27 Juli 2026, BMKG menyebut El Niño dapat memperkuat atmosfer kering yang lazim terjadi saat musim kemarau di Indonesia. Meski begitu, kondisi kering tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya di seluruh daerah.

Hujan Lebat Masih Muncul di Sejumlah Daerah

Aktivitas atmosfer regional masih mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah. Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial dilaporkan melintasi Sumatra bagian utara hingga tengah serta Kalimantan.

Pergerakan gelombang tersebut meningkatkan aliran uap air menuju Indonesia, terutama di bagian utara dan barat. Karena itu, hujan lokal dengan intensitas berbeda masih berpeluang terjadi dalam sepekan berikutnya.

Data yang dimuat CNN Indonesia memperlihatkan hujan sedang hingga ekstrem masih tercatat pada periode 15-19 Juli di sejumlah lokasi. Curah hujan harian mencapai 152,0 mm di Sumatera Barat, 137,0 mm di Sumatera Utara, dan 91,0 mm di Jawa Barat.

Hujan juga tercatat sebesar 90,5 mm per hari di Aceh, 75,0 mm per hari di Kalimantan Utara, serta 73,0 mm per hari di Riau. Kontras antara hujan lebat di beberapa daerah dan kekeringan panjang di Jawa menunjukkan cuaca Indonesia tetap sangat bervariasi menjelang puncak kemarau.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru