Dunia film horor dan game ternyata saling bertemu lebih dekat dari yang banyak orang kira. Sejumlah sutradara besar tidak hanya menginspirasi, tetapi ikut membentuk game lewat cerita, dialog, musik, hingga arahan kreatif langsung.
Hasilnya beragam. Ada game yang membangun ekspektasi besar, ada yang gagal total sebelum sempat lahir utuh, dan ada pula yang justru menjadi proyek paling dikenang dari nama besar di baliknya.
Jordan Peele dan OD
Jordan Peele naik daun lewat Get Out, film debut yang membuat citranya berubah total dari komedian menjadi sutradara horor papan atas. Di sisi lain, Hideo Kojima sudah lama dikenal sebagai legenda game dengan pendekatan sinematik yang sangat khas.
Kini keduanya terhubung lewat OD, game horor baru untuk Xbox. Peele diumumkan ikut dalam tim penulis yang dijuluki “The Avengers”, dan proyek ini disebut akan menawarkan pengalaman horor yang berbeda dari biasanya.
Alex Garland dan jalur yang menyeberang ke game
Alex Garland dikenal sebagai novelis, penulis naskah, lalu sutradara film dengan portofolio kuat. Sebelum fokus di layar lebar, ia sempat bekerja bersama Ninja Theory di industri game.
Garland ikut menulis cerita Enslaved: Odyssey to the West dan berkontribusi pada reboot Devil May Cry. Setelah itu, ia membangun reputasi lewat Ex Machina, Annihilation, Men, Civil War, dan Warfare, sambil tetap dekat dengan game melalui proyek adaptasi Elden Ring yang kini ia sutradarai.
Guillermo del Toro dan deretan proyek yang runtuh
Guillermo del Toro dikenal lewat Pan’s Labyrinth, Blade II, dan The Shape of Water yang membawanya meraih Oscar. Ia juga gamer sejati yang berulang kali ingin terlibat langsung dalam pembuatan game.
Namun, setiap proyek game yang ia sentuh berakhir buruk. Sundown mati karena masalah publisher, inSane tenggelam bersama bangkrutnya THQ, dan Silent Hills kandas setelah perpisahan panas antara Hideo Kojima dan Konami.
George A. Romero dan zombie yang masuk ke game
George A. Romero punya pengaruh besar dalam membentuk zombie modern melalui Night of the Living Dead. Dari film low-budget itu, ia menetapkan zombie sebagai makhluk yang bergerak lambat, memakan daging manusia, dan hanya bisa dihentikan dengan tembakan ke kepala.
Di game, Romero sempat dua kali mencoba peruntungan. Ia hampir menyutradarai adaptasi Resident Evil, lalu lewat perusahaan produksinya mengembangkan City of the Dead, sebuah FPS di semesta Living Dead dengan mekanisme mutilasi tubuh yang tergolong canggih untuk masanya.
John Carpenter yang benar-benar masuk ke proses kreatif
John Carpenter adalah nama besar di balik Halloween, The Thing, In the Mouth of Madness, dan The Fog. Di luar film, ia juga dikenal sebagai penggemar berat game yang beberapa kali mencoba masuk ke industri ini.
Upayanya mencakup cameo kecil di game The Thing, proyek Snake Plissken yang kandas, dan game horor Psychopath yang gagal karena masalah dana. Satu-satunya yang benar-benar terwujud adalah posisinya sebagai sutradara cutscene di F.E.A.R. 3, lalu ia terlibat langsung sebagai penulis dan komposer di Toxic Commando, game zombie co-op garapan Saber Interactive.
James Gunn dan satu jejak yang paling menonjol
James Gunn kini identik dengan film superhero, termasuk menyelesaikan trilogi Guardians of the Galaxy dan memimpin DC Studios sebagai co-head. Namun, akar kariernya justru tumbuh dari horor lewat naskah Dawn of the Dead dan penyutradaraan Slither.
Jejak itu membawanya ke Lollipop Chainsaw, game yang terasa seperti film horor berbalut komedi berkat dialog khas Gunn dan kehadiran sejumlah aktor langganannya. Hingga kini, game itu masih menjadi satu-satunya keterlibatan Gunn di industri gaming, meski ia pernah menyatakan minat untuk lebih jauh terlibat dalam game berlisensi DC.
Jika deretan nama ini menunjukkan sesuatu, itu adalah fakta bahwa status sutradara besar tidak otomatis menjamin sukses di game. Di ranah interaktif, bahkan nama sekelas del Toro dan Romero pun bisa berhadapan dengan proyek yang macet, sementara nama lain seperti Gunn dan Carpenter justru meninggalkan jejak yang lebih konkret.
Source: www.idntimes.com





