BPBD Jawa Timur bergerak lebih cepat menghadapi musim kemarau 2026 setelah enam daerah di provinsi itu resmi menetapkan status siaga kekeringan. Di saat yang sama, penanganan darurat sudah dimulai di Bondowoso dengan penyaluran 10 ribu liter air bersih untuk 140 kepala keluarga di tiga dusun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman kekeringan di Jawa Timur sudah masuk fase yang perlu diwaspadai sejak awal. BPBD Jatim pun tidak hanya menunggu laporan kebutuhan, tetapi juga menyiapkan langkah antisipasi jika kondisi memburuk di tengah kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan lebih panas.
Bondowoso jadi titik awal bantuan air bersih
Bondowoso menjadi daerah pertama yang menerima distribusi air bersih karena krisis air sudah dirasakan warga di tiga dusun. Bantuan dikirim ke Banteng Lor, Sumberwaru, dan Banteng Dukbeto untuk membantu kebutuhan harian warga terdampak.
BPBD Jatim menyalurkan total 10 ribu liter air bersih untuk sekitar 140 kepala keluarga. Langkah ini menjadi penanganan awal sebelum kebutuhan di wilayah lain meningkat seiring berlanjutnya musim kemarau.
Enam daerah sudah tetapkan siaga kekeringan
Enam daerah yang telah menerbitkan surat siaga kekeringan adalah Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, dan Blitar. Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan status itu masih bisa ditangani masing-masing daerah karena belum ada permintaan dropping air bersih.
Meski begitu, BPBD Jatim tetap memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar dampak kekeringan tidak meluas. Langkah ini penting karena sejumlah wilayah di Jawa Timur juga dikenal sebagai daerah langganan kekeringan setiap tahun.
Wilayah yang masuk kategori rawan itu antara lain Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, hingga wilayah Madura. Dengan pola ancaman seperti ini, BPBD menempatkan kesiapsiagaan sebagai bagian utama dari respons kemarau tahun ini.
Logistik air disiapkan dalam jumlah besar
Untuk menghadapi potensi kekeringan tahun ini, BPBD Jatim menyiapkan distribusi air bersih dengan kapasitas hingga 678 ribu rit dalam setahun. Dukungan logistik juga disiapkan dalam bentuk 7.472 tandon bantuan, 402 jerigen, 165 tandon lipat, dan 9.600 kolam air terpal.
Perlengkapan itu disiapkan agar distribusi bisa dilakukan lebih cepat jika kebutuhan di lapangan meningkat. BPBD Jatim menilai kesiapan logistik menjadi kunci karena permintaan air bersih bisa bertambah ketika kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
OMC disiapkan bila kondisi menguat
BPBD Jatim juga membuka kemungkinan operasi modifikasi cuaca untuk membantu menurunkan hujan, terutama di kawasan waduk yang menjadi sumber pengairan. Gatot menjelaskan pelaksanaan OMC saat kemarau berbeda dengan musim hujan.
Pada musim hujan, bahan yang lebih banyak ditebar adalah kapur, sedangkan saat kemarau lebih banyak menggunakan garam. Tahun lalu, operasi itu tidak sampai dilakukan karena kemaraunya basah, tetapi tahun ini potensi kekeringan dinilai lebih besar.
Situasi tersebut membuat pemantauan lapangan dan koordinasi antardaerah menjadi semakin penting. Dengan enam daerah sudah berstatus siaga dan bantuan air mulai digulirkan ke Bondowoso, Jawa Timur memasuki musim kemarau dengan kesiapan yang lebih agresif dari sebelumnya.
Source: jatim.tribunnews.com






