Resign mendadak sering terasa lebih berat daripada pekerjaan itu sendiri. Banyak orang sebenarnya sudah lelah, tetapi masih tertahan oleh rasa bersalah, takut dinilai, dan anggapan yang membuat keputusan keluar kerja terasa seperti kesalahan besar.
Padahal, sebelum surat resign dikirim, ada beberapa pikiran yang justru perlu dibuang agar keputusan tidak diambil hanya karena tekanan yang menumpuk. Lima pikiran inilah yang paling sering membuat orang menunda terlalu lama.
1. Tim pasti runtuh tanpa kehadiranmu
Bayangan bahwa tim akan berantakan jika satu orang pergi adalah salah satu alasan paling umum untuk terus bertahan. Daftar pekerjaan kantor memang tidak pernah benar-benar habis, tetapi itu bukan berarti satu orang harus memikul semuanya sendirian.
Tanggung jawab tetap penting, namun organisasi pada dasarnya dirancang agar pekerjaan tetap berjalan meski ada orang yang keluar. Karena itu, berhenti bukan otomatis membuat sistem runtuh.
| Pikiran yang Sering Muncul | Kenapa Perlu Dibuang |
|---|---|
| Tim pasti tidak jalan tanpa saya | Pekerjaan kantor memang dirancang untuk tetap berjalan |
| Saya harus menyelesaikan semuanya dulu | Daftar tugas tidak pernah benar-benar habis |
2. Berhenti berarti gagal bertahan
Banyak orang membandingkan diri dengan teman yang bertahan bertahun-tahun di tempat yang sama. Dari situ muncul kesan bahwa ingin pindah ke lingkungan yang lebih sehat sama saja dengan menyerah terlalu cepat.
Pikiran seperti ini sering berkaitan dengan imposter syndrome, yang membuat seseorang merasa harus terus membuktikan diri lewat kemampuan bertahan. Padahal bertahan dan berkembang adalah dua hal yang berbeda.
3. Semua orang akan menilai keputusan ini buruk
Ketakutan terhadap komentar setelah keluar kerja juga sering menghambat. Ada yang membayangkan atasan kecewa, rekan kerja bergosip, atau orang lain menganggap keputusan itu sebagai tanda mudah menyerah.
Skenario semacam itu sering berputar di kepala meski belum tentu terjadi. Yang bisa dikendalikan justru cara keluar yang tetap profesional, mulai dari mengikuti prosedur, menyelesaikan tanggung jawab, sampai berkomunikasi dengan baik.
4. Lelah berarti lemah
Rasa capek setelah pulang kerja kadang tidak berhenti di kantor. Percakapan singkat dengan atasan atau revisi menjelang jam pulang bisa terus terbawa sampai rumah, lalu berubah menjadi anggapan bahwa diri sendiri terlalu lemah dibanding orang lain.
Cara pikir seperti ini sering muncul karena seseorang terbiasa mengabaikan batas kemampuannya. Padahal setiap orang punya kapasitas yang berbeda, dan menyadari bahwa suatu lingkungan sudah tidak sehat bukan berarti lemah.
5. Harus menunggu semuanya sempurna dulu
Sebagian orang menunda resign karena merasa harus sudah punya pekerjaan baru lebih dulu. Akibatnya, surat resign hanya tersimpan sebagai draf sementara keputusan nyata terus ditunda.
Rencana cadangan memang penting, tetapi hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario. Yang lebih penting adalah memastikan keputusan dibuat dengan pertimbangan matang, bukan karena rasa bersalah atau tekanan yang dipendam terlalu lama.
Pada akhirnya, waktu dan alasan resign bisa berbeda pada setiap orang. Selama keputusan diambil dengan pertimbangan yang jelas, tidak ada alasan untuk terus mengukur langkah sendiri dengan perjalanan karier orang lain.
Source: www.idntimes.com






