Gagal ginjal kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Pada usia muda, risikonya bisa muncul dari kebiasaan harian yang terlihat sepele tetapi terus memberi beban pada ginjal.
Masalahnya, kerusakan ginjal sering berjalan pelan dan baru terasa saat kondisinya sudah lebih berat. Di tengah pola hidup serbacepat, pilihan kecil seperti makan sembarangan, kurang minum, dan begadang dapat ikut memperburuk kesehatan ginjal tanpa disadari.
5 kebiasaan yang perlu diwaspadai
| Kebiasaan | Dampak yang Disebutkan | Risiko Terkait |
|---|---|---|
| Pola makan tidak sehat | Tinggi natrium, gula, dan lemak jenuh | Tekanan darah naik, ginjal terbebani |
| Kurang minum air | Urine lebih pekat, racun lebih mudah menumpuk | Batu ginjal, infeksi saluran kemih berulang |
| Penggunaan obat yang tidak tepat | Obat pereda nyeri dan antibiotik dipakai tanpa arahan medis | Zat toksik bagi ginjal |
| Kurang aktivitas fisik | Gaya hidup sedentary | Obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi |
| Kurang tidur | Ritme biologis terganggu | Tekanan darah naik, proses perbaikan ginjal terhambat |
1. Pola makan tidak sehat
Makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan kemasan kini mudah dijangkau anak muda. Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, menilai tren itu memang menyasar kelompok usia muda.
Menurut spesialis penyakit dalam dr. Yunia Indah Dewi, SpPD, asupan natrium tinggi dapat mengikat lebih banyak cairan yang dialirkan bersama darah ke jantung. Kondisi itu kemudian dapat memicu tekanan darah naik, dan tekanan darah tinggi yang berlangsung lama tanpa penanganan bisa merusak ginjal.
2. Kurang minum air
Aktivitas padat sering membuat orang muda lupa minum air putih. Saat tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat dan risiko batu ginjal meningkat.
Menahan buang air kecil juga memberi ruang bagi bakteri untuk berkembang biak. Dalam jangka panjang, infeksi saluran kemih berulang dapat ikut merusak ginjal.
3. Penggunaan obat yang tidak tepat
Obat pereda nyeri dan antibiotik sering dipakai sendiri untuk keluhan ringan seperti sakit kepala atau pilek. Jika digunakan dalam dosis berlebihan atau terlalu lama, obat-obatan itu bisa bersifat toksik bagi ginjal.
Risiko serupa juga muncul saat seseorang mengonsumsi suplemen atau obat tradisional yang asal-usulnya tidak jelas. Zat berbahaya atau bahan yang tak diatur keamanannya bisa ikut masuk ke tubuh.
4. Kurang aktivitas fisik
Gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle makin sering ditemui pada usia muda, terutama pada orang yang lama bekerja di depan laptop dan jarang berolahraga. Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi.
Dr Huy menganjurkan olahraga setidaknya 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu untuk membantu menjaga kesehatan tubuh. Tiga faktor risiko itu sendiri merupakan penyebab utama penyakit ginjal.
5. Kurang tidur
Begadang untuk tugas atau lembur membuat banyak orang muda kurang tidur. Kebiasaan ini bisa mengganggu ritme biologis tubuh dan menghambat proses perbaikan alami pada ginjal.
Kekurangan tidur juga dapat berdampak pada tekanan darah dan kadar hormon. Jika berlangsung terus-menerus, efeknya bisa ikut memperburuk kesehatan ginjal.
Gejala awal yang perlu diwaspadai
Tanda awal gangguan ginjal sering kali tidak terasa jelas. Ketua Umum PB PERNEFRI Dr dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, menyebut urine berbusa atau berubah warna bisa menjadi alarm penting.
Urine berbusa menandakan adanya albumin atau protein dalam kadar tinggi. Sementara urine kemerahan bisa menunjukkan adanya sel darah merah, baik berasal dari ginjal maupun dari saluran kemih.
Pringgodigdo menyarankan pemeriksaan urine setidaknya satu kali dalam setahun. Urinalisis dapat membantu mendeteksi gangguan seperti infeksi dan masalah ginjal melalui stik plastik tipis dengan strip bahan kimia yang akan berubah warna bila ada zat tertentu di atas batas normal.
Karena gejala awal sering luput disadari, kebiasaan harian yang tampak kecil justru bisa menjadi pembeda besar bagi kesehatan ginjal di usia muda.
