5 Alasan Kamu Terus Mengidam Makanan Manis, Kurang Tidur Bisa Jadi Pemicu

Author: Cung Media

Keinginan menyantap cokelat, es krim, boba, atau kue dapat muncul meski seseorang baru saja makan besar. Dorongan terhadap mengidam makanan manis ini tidak selalu berarti kurang mampu menahan diri.

Tubuh dapat mencari gula sebagai sumber energi cepat saat kebutuhan fisik atau emosional belum terpenuhi. Kurang tidur, jadwal makan yang berantakan, hingga stres dapat membuat camilan tinggi gula terasa lebih sulit ditolak.

Pemicu Perubahan pada Tubuh Dampak
Kurang tidur Hormon lapar dan kenyang dapat terganggu Lebih tertarik pada makanan tinggi gula dan kalori
Melewatkan makan Kadar gula darah dapat menurun Tubuh mencari energi yang cepat diserap
Stres Kadar kortisol dapat meningkat Keinginan makan manis dan berlemak dapat muncul
Sering makan gula Sistem penghargaan otak ikut terpengaruh Keinginan terhadap rasa manis bisa menguat
Menu tidak seimbang Rasa kenyang tidak bertahan lama Lebih cepat lapar dan tergoda camilan

1. Tubuh Kurang Tidur

Tidur yang tidak cukup dapat mengganggu hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Penelitian dalam Sleep pada 2018 mengaitkan kurang tidur dengan peningkatan ghrelin, hormon pemicu nafsu makan, serta penurunan leptin yang memberi sinyal kenyang.

Perubahan ini dapat membuat makanan tinggi gula dan kalori tampak lebih menarik ketika tubuh lelah. Rasa manis kemudian terasa seperti jalan cepat untuk mendapatkan energi, meski efeknya tidak selalu bertahan lama.

2. Melewatkan Waktu Makan

Perut yang kosong terlalu lama dapat membuat kadar gula darah menurun. Dalam situasi tersebut, tubuh cenderung mencari makanan atau minuman yang mudah diserap, termasuk karbohidrat sederhana dan gula.

Studi dalam Appetite pada 2020 mengaitkan rasa lapar berlebihan dengan meningkatnya keinginan terhadap makanan tinggi gula. Karena itu, dorongan membeli minuman manis setelah terlambat makan bisa berkaitan dengan kebutuhan energi yang mendesak.

3. Stres dan Emosi yang Tidak Terkelola

Stres dapat memengaruhi nafsu makan melalui peningkatan hormon kortisol. Penelitian dalam Psychoneuroendocrinology pada 2019 menghubungkan kadar kortisol yang lebih tinggi dengan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.

Kondisi ini dikenal sebagai emotional eating, yaitu kecenderungan makan sebagai respons terhadap tekanan atau emosi tertentu. Camilan manis dapat memberi rasa nyaman sesaat saat seseorang sedang sedih atau tertekan, tetapi tidak selalu menyelesaikan pemicunya.

4. Terbiasa Mengonsumsi Makanan Manis

Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula dapat membuat keinginan terhadap rasa manis lebih sering muncul. Studi dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada 2018 menunjukkan konsumsi gula rutin dapat memengaruhi sistem penghargaan atau reward system di otak.

Akibatnya, tingkat rasa manis yang sebelumnya terasa cukup bisa menjadi kurang memuaskan dari waktu ke waktu. Mengurangi gula secara bertahap dapat memberi kesempatan lidah mengenali kembali rasa manis alami dari buah dan makanan lain.

5. Asupan Nutrisi Tidak Seimbang

Menu yang kurang mengandung protein, serat, dan lemak sehat dapat membuat rasa kenyang cepat hilang. Ketika lapar kembali datang dalam waktu singkat, camilan manis sering menjadi pilihan yang paling mudah dijangkau.

Penelitian dalam Nutrients pada 2021 menyebut makanan kaya protein dan serat dapat membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil. Komposisi pola makan seimbang juga dapat membantu menahan rasa lapar lebih lama di sela waktu makan.

Makanan manis tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi porsinya tetap perlu diperhatikan. Memperbaiki waktu tidur, makan lebih teratur, mengelola stres, dan menyusun menu yang lebih seimbang dapat membantu mengendalikan dorongan tersebut tanpa rasa bersalah.

Terbaru