Sebanyak 49 pengusaha dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jawa Tengah untuk menilai langsung peluang bisnis dan investasi. Kunjungan ini membuka gambaran yang lebih jelas tentang mengapa provinsi tersebut makin dilirik pelaku usaha.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut rombongan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang. Ia menegaskan bahwa Jawa Tengah memiliki iklim investasi yang kondusif dan ditopang sejumlah faktor yang membuat daerah ini menarik bagi investor.
Arus investasi yang terus menguat
Dalam pemaparannya, Luthfi menyebut realisasi investasi di Jawa Tengah pada 2025 mencapai Rp110,02 triliun. Pada triwulan I 2026, jumlah itu sudah menembus Rp23 triliun dan masih bergerak naik.
Ia juga menyebut ada tambahan sekitar Rp15 triliun untuk pengembangan industri kendaraan listrik terintegrasi di Kendal. Kombinasi angka itu memperlihatkan bahwa minat modal ke Jawa Tengah tidak datang dari satu sektor saja.
Kawasan industri dan basis usaha yang luas
Jawa Tengah memiliki sejumlah kawasan industri yang sudah berjalan, mulai dari KEK Industropolis Batang, Kawasan Industri Kendal, hingga kawasan industri di Semarang, Demak, dan daerah lain. Di luar itu, sekitar 12 daerah juga telah mengajukan kawasan industri maupun kawasan ekonomi baru.
Skala basis usahanya juga besar. Jawa Tengah mencatat 4,93 juta unit usaha, dengan 56.286 usaha besar dan menengah serta sekitar 4,8 juta UMKM.
Sejumlah usaha di provinsi ini juga sudah mengekspor produk ke berbagai negara. Fakta itu menunjukkan bahwa ekosistem bisnis Jawa Tengah tidak hanya besar di dalam negeri, tetapi juga sudah terhubung ke pasar luar negeri.
Perubahan infrastruktur ikut mengubah pandangan
Dahlan Iskan menilai Jawa Tengah sudah jauh berubah dibanding beberapa tahun lalu. Ia menyoroti perbaikan infrastruktur, termasuk kawasan industri yang tumbuh di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah.
Menurut Dahlan, kondisi infrastruktur yang makin baik, iklim investasi yang sehat, serta dukungan pemerintah daerah membuat banyak pengusaha percaya untuk masuk ke Jawa Tengah. Karena itu, ia membawa puluhan pengusaha berkunjung ke beberapa perusahaan besar di provinsi tersebut.
Rombongan telah mendatangi Halo BCA di Semarang, sebuah pabrik mebel yang produknya telah diekspor ke seluruh dunia, serta pabrik Polytron yang memproduksi alat elektronik dan mulai meningkatkan produksi sepeda motor listrik. Kunjungan itu ditujukan untuk memberi wawasan sekaligus inspirasi bisnis.
Dalam rangkaian yang sama, kunjungan juga dijadwalkan berlanjut ke Sido Muncul agar para pengusaha mendapat lebih banyak gambaran tentang perkembangan industri di Jawa Tengah. Dahlan menilai para pebisnis adalah sosok tangguh karena mampu bangkit kembali saat menghadapi kesulitan.
