Rencana pembangunan 33 fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WtE) menempatkan Danantara dan Denera pada sorotan baru. Di balik proyek ini, ada target besar yang bukan hanya soal pengelolaan sampah, tetapi juga penyerapan tenaga kerja lokal dalam jumlah sangat besar.
PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), pengelola sampah terpadu di bawah naungan Danantara Indonesia, memperkirakan total kebutuhan tenaga kerja dari tahap konstruksi hingga operasional bisa mencapai sekitar 130 ribu orang. Angka itu menunjukkan bahwa proyek WtE berpotensi memberi dampak ekonomi langsung ke banyak daerah.
Penyerapan tenaga kerja jadi fokus utama
Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, menegaskan bahwa proyek pengolahan sampah tidak boleh berhenti sebagai pembangunan infrastruktur semata. Menurut dia, fasilitas WtE juga harus menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Dalam keterangan resmi di Jakarta, Fadli menyampaikan bahwa perusahaan akan menjaga kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal agar dampaknya terasa lebih luas di daerah.
Skala proyek membuka kebutuhan besar
Setiap fasilitas WtE disebut memerlukan 500 hingga 1.000 pekerja pada fase pembangunan. Dengan skala 33 proyek, kebutuhan tenaga kerja pun membesar sejak tahap awal pembangunan hingga nanti memasuki fase operasional.
Proyeksi 130 ribu tenaga kerja itu mencakup rangkaian aktivitas dari konstruksi sampai pengoperasian fasilitas. Artinya, dampak proyek tidak hanya muncul saat pembangunan berlangsung, tetapi juga berlanjut ketika fasilitas mulai berjalan.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Jumlah fasilitas WtE | 33 |
| Kebutuhan pekerja per fasilitas saat konstruksi | 500 hingga 1.000 orang |
| Total proyeksi tenaga kerja | Sekitar 130 ribu orang |
Sampah dipandang sebagai isu sosial dan ekonomi
Fadli juga menilai persoalan sampah sudah berkembang menjadi tantangan sosial yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat di masa depan. Karena itu, dukungan publik dinilai penting dari hulu hingga hilir, termasuk kebiasaan memilah sampah sebelum diolah lebih lanjut.
Ia mendorong masyarakat ikut mendukung pengelolaan sampah, baik lewat langkah sederhana maupun dengan penerapan teknologi modern. Pendekatan itu dianggap penting agar proyek WtE dapat berjalan lebih efektif dan membantu mengurangi beban sampah di Indonesia.
Pemilahan sampah tetap menjadi syarat krusial
Pendiri Social Investment Indonesia sekaligus sustainability provocateur, Jalal, menilai pembangunan fasilitas WtE harus dibarengi penguatan budaya memilah sampah di rumah tangga, sektor komersial, dan industri. Ia mengingatkan bahwa tantangan pengelolaan sampah bukan hanya teknologi, tetapi juga karakter sampah di Indonesia yang didominasi sampah organik dengan kadar air tinggi.
Jalal menilai pemilahan tetap menjadi tahap penting sebelum sampah bisa diolah menjadi energi. Ia juga menekankan perlunya melibatkan masyarakat terdampak sejak awal perencanaan, menyediakan informasi emisi secara transparan, dan memastikan ada manfaat nyata bagi warga sekitar.
“Tanpa itu, proyek waste-to-energy berisiko kehilangan legitimasi sosial yang menjadi fondasi utama bagi keberlanjutannya,” kata Jalal.
Dengan 33 fasilitas WtE yang disiapkan, Denera memosisikan proyek ini sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah nasional sekaligus transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan. Di saat yang sama, penyerapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu dampak paling menonjol yang diharapkan hadir di banyak daerah.
Source: www.viva.co.id






