Kementerian Pertahanan mengakui ada celah dalam seleksi peserta pendidikan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Sebanyak 32 peserta yang sedang hamil sempat lolos tahap awal, lalu dipulangkan sementara tanpa dinyatakan gugur.
Keputusan itu diambil karena Kemenhan menilai keselamatan dan kondisi kesehatan peserta harus diprioritaskan selama mengikuti pendidikan yang cukup padat. Langkah tersebut juga disebut sebagai bentuk pertimbangan kemanusiaan agar kehamilan tidak menimbulkan risiko.
Belum ada larangan tegas di tahap awal
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan menjelaskan bahwa pada seleksi awal belum ada ketentuan yang secara tegas melarang peserta hamil. Karena itu, para peserta tersebut tetap dinilai memenuhi syarat administrasi dan berlanjut ke tahap pendidikan.
Ketut menegaskan bahwa pemulangan hanya bersifat sementara. Para peserta itu tetap memiliki hak untuk melanjutkan program saat gelombang berikutnya dibuka.
Status peserta tetap dipertahankan
Kemenhan memastikan 32 peserta hamil itu tidak otomatis dianggap gagal dalam seleksi. Mereka masih tercatat sebagai peserta yang memenuhi syarat dan dapat kembali bergabung ketika kondisi memungkinkan.
Dengan kebijakan itu, kesempatan mereka tidak hilang meski untuk sementara tidak bisa mengikuti pendidikan. Kemenhan menilai langkah ini penting agar proses seleksi tetap aman tanpa menutup akses bagi peserta yang sebelumnya telah lolos administrasi.
Evaluasi kesehatan diperketat setelah ada peserta sakit
Penjelasan soal peserta hamil disampaikan bersamaan dengan evaluasi pelaksanaan latihan bela negara dan manajerial SPPI KDKMP-KNMP. Evaluasi dilakukan setelah lima peserta meninggal dunia saat mengikuti pendidikan.
Kemenhan juga menyebut ada sejumlah penyakit yang tidak terdeteksi pada proses kesehatan awal. Kondisi itu membuat peninjauan ulang terhadap seluruh peserta dianggap perlu agar risiko bisa dikenali lebih cepat.
“Dari proses awal sebelumnya sudah dilaksanakan proses oleh panitia seleksi nasional. Namun pada kenyataannya ada memang penyakit-penyakit yang tidak terdeteksi,” ujar Ketut.
Tracing ulang dan skrining lanjutan dilakukan
Sebagai tindak lanjut, Kemenhan melakukan tracing ulang dan mengelompokkan peserta berdasarkan kondisi kesehatannya. Langkah ini dipakai untuk memetakan peserta yang membutuhkan perhatian khusus selama pendidikan berlangsung.
Kemenhan juga meminta bantuan Kementerian Kesehatan untuk melakukan screening lanjutan terhadap seluruh peserta. Kepala Pusat Komponen Cadangan Brigjen TNI Hengki Yuda mengatakan langkah itu diambil agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terulang.
“Screening semuanya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan kembali,” kata Hengki.
Dengan tambahan pemeriksaan itu, Kemenhan ingin memastikan seleksi dan pendidikan KDKMP-KNMP berjalan lebih aman bagi peserta dengan kondisi kesehatan khusus. Pengawasan medis yang lebih ketat juga diharapkan membuat proses pendidikan berikutnya berlangsung lebih terpantau.
Source: www.beritasatu.com






