Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah serangkaian serangan di kawasan, termasuk insiden yang menewaskan dua personel militer AS di Yordania. Di tengah eskalasi itu, Mojtaba Khamenei menyampaikan tiga pesan bernada keras yang menempatkan persatuan nasional Iran sebagai salah satu respons utama.
Pernyataan tersebut diunggah melalui akun X pada Sabtu (18/7) waktu setempat, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terbaru ke Iran. Pesan Khamenei memadukan kecaman terhadap Washington, peringatan atas kelanjutan perang, dan ajakan agar warga Iran tetap solid.
Situasi yang Memperuncing Konflik
Iran sebelumnya melancarkan serangan rudal balistik dan drone yang menyasar Yordania pada Jumat (17/7). Dalam serangan itu, dua tentara AS dilaporkan tewas saat menghadang ancaman tersebut, sementara satu personel lainnya dinyatakan hilang.
Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyebut serangan udara pada malam kedelapan berturut-turut ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. CENTCOM juga menyatakan operasi itu merupakan respons cepat terhadap pasukan Garda Revolusi Iran atau IRGC yang menyerang personel AS di Yordania.
| Peristiwa | Waktu/Lokasi | Rincian |
|---|---|---|
| Serangan Iran ke Yordania | Jumat (17/7) | Dua personel militer AS tewas dan satu lainnya dilaporkan hilang. |
| Serangan udara AS | Sabtu (18/7) | CENTCOM menyebut operasi itu menargetkan kemampuan Iran yang dinilai mengancam pelayaran komersial. |
| Lokasi terdampak | Sirik, Iran selatan | Fars dan Tasnim melaporkan kota pelabuhan di pesisir Selat Hormuz itu menjadi sasaran serangan AS. |
1. Menyebut Komitmen Washington Tidak Kredibel
Pesan pertama Khamenei menyoroti apa yang disebutnya sebagai pelanggaran berulang Amerika Serikat terhadap nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara kedua negara. Ia menilai tindakan itu memperlihatkan bahwa komitmen Washington tidak bisa dijadikan pegangan.
“Pelanggaran yang berulang kali dilakukan oleh Setan Besar (Amerika Serikat) terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Presiden Iran dan Presiden Amerika Serikat kembali menyingkap satu kenyataan mendasar: tanda tangan Presiden Amerika Serikat sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas,” ujar Khamenei. Ia juga menyatakan Amerika Serikat akan menerima pelajaran yang tidak terlupakan.
2. Memperingatkan Risiko Jika Perang Diteruskan
Dalam pesan kedua, Khamenei memperingatkan Amerika Serikat mengenai konsekuensi apabila konflik terus diperluas. Al Jazeera, seperti dikutip CNN Indonesia, melaporkan bahwa ia mengaitkan peringatan tersebut dengan kesiapan Iran dan Poros Perlawanan atau Axis of Resistance.
Khamenei menggambarkan paksaan, hegemoni, dan kekejaman sebagai bagian dari doktrin serta cara pandang Amerika Serikat. “Hari ini, Setan Besar kembali memperlihatkan wajah aslinya tanpa topeng,” katanya dalam pernyataan tersebut.
Menurut Khamenei, konflik terbaru menjadi bukti mengenai ketidakjujuran, ketidakrasionalan, ketidakdapatdipercayaan, dan watak jahat Amerika Serikat. Nada itu muncul saat laporan mengenai serangan AS ke Sirik menambah tekanan pada kawasan pesisir Selat Hormuz yang strategis bagi pelayaran komersial.
3. Menyerukan Persatuan Nasional Iran
Pesan ketiga secara khusus ditujukan kepada masyarakat Iran agar tetap bersatu di tengah ancaman dari luar negeri. Khamenei menilai kekompakan seluruh lapisan masyarakat dan pemerintahan diperlukan untuk menjaga martabat serta kemerdekaan Iran.
Seruan itu sejalan dengan fenomena rally around the flag, ketika dukungan publik kepada negara menguat saat muncul tekanan eksternal. Dalam pernyataannya, Khamenei menyebut bangsa Iran dan Front Perlawanan telah menyiapkan respons terhadap setiap peningkatan eskalasi.
“Kini, ketika musuh Amerika berupaya meningkatkan eskalasi konflik sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar dan penghinaan yang lebih dalam, mereka harus mengetahui bahwa bangsa Iran yang mulia dan Front Perlawanan telah menyiapkan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan,” ucapnya. Ia juga menyinggung keberanian para pejuang Islam dan rakyat di wilayah selatan sebagai bagian dari respons Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dengan tambahan korban di Yordania, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik kembali pecah pada 28 Februari mencapai 16 orang. Perkembangan itu membuat seruan persatuan dari Khamenei hadir bersamaan dengan ancaman konflik yang masih berpusat pada Iran, Yordania, dan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
