3 Kalimat yang Sering Menyembunyikan Luka, Menurut Psikolog

Banyak orang tampak tenang dari luar, tetapi sebenarnya sedang menahan emosi yang berat. Psikolog menilai, cara bicara sering lebih jujur daripada senyum yang mereka tunjukkan.

Yang membuatnya berisiko, kebiasaan memendam emosi tidak otomatis membuat masalah selesai. Penekanan yang berlangsung lama justru bisa memperburuk kondisi dan berkembang menjadi persoalan kronis.

Kalimat yang paling sering dipakai untuk menutupi keadaan

Salah satu ucapan yang paling mudah dikenali adalah, “Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku.” Kalimat ini terdengar menenangkan, tetapi sering dipakai untuk menutup kondisi batin yang sebenarnya sedang tidak stabil.

Psikolog berlisensi La Keita D. Carter, PsyD, LP, menjelaskan bahwa menekan perasaan justru dapat memperparahnya. Ia menilai, jika dibiarkan cukup lama, perasaan itu bisa berkembang menjadi masalah kronis.

Orang yang mengucapkan kalimat seperti ini biasanya tidak ingin terlihat cengeng atau sombong. Di balik itu, ada rasa malu yang membuat mereka memilih diam meski sebenarnya butuh bantuan.

Saat “sudah terbiasa” berubah jadi sinyal yang perlu diwaspadai

Ucapan lain yang juga patut diperhatikan adalah, “Aku sudah terbiasa dengan hal itu.” Kalimat ini kerap muncul ketika seseorang terlalu lama menanggung luka batin hingga menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Terbiasa bukan berarti keadaan itu baik-baik saja. Mengakui luka apa adanya tetap penting, karena luka yang tidak ditangani dengan tepat dapat memengaruhi diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.

Konselor berlisensi Diana Tutschek, M.S., menyebut trauma masa kecil yang tidak ditangani bisa memengaruhi keterikatan, kepercayaan, dan komunikasi orang dewasa dalam hubungan intim. Artinya, ucapan yang terdengar ringan kadang menyimpan pengalaman emosional yang jauh lebih kompleks.

Takut dianggap beban sering disamarkan lewat kata-kata

Kalimat, “Aku tidak ingin membebani siapa pun,” juga kerap muncul dari orang yang sedang tidak baik-baik saja. Mereka memilih menutup diri karena merasa orang terdekat mungkin tidak perlu menanggung masalah mereka.

Leon F Seltzer, PhD, psikolog klinis dan profesor, menyebut motif utama menyembunyikan emosi sering berakar pada rasa takut. Ia menjelaskan bahwa banyak orang takut terlihat lemah atau rentan di mata orang lain.

Rasa takut itu membuat mereka enggan terbuka, meski sebenarnya membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Karena itu, ucapan soal tidak ingin menjadi beban sering kali lebih menunjukkan kondisi emosional daripada isi kalimatnya sendiri.

Mengapa ucapan seperti ini penting untuk diperhatikan

Bagi orang terdekat, tanda-tanda verbal ini bisa menjadi pintu awal untuk memahami kondisi seseorang. Perhatian semacam ini penting karena tidak semua orang mampu mengungkapkan kesulitan secara langsung.

Dalam banyak kasus, orang yang tampak tenang justru sedang berjuang keras menyembunyikan rasa malu, bersalah, atau takut. Saat kalimat-kalimat tertentu mulai sering terdengar, ada baiknya tidak langsung menganggap semuanya baik-baik saja.

Source: www.beautynesia.id

Terkait