Chatbot AI di Amerika Serikat kini berada dalam posisi yang serba paradoks. Di satu sisi, banyak orang makin khawatir terhadap dampaknya, tetapi di sisi lain penggunaannya justru terus naik dan meresap ke banyak aspek hidup.
Data terbaru Pew Research menunjukkan 49% orang dewasa di AS sudah memakai chatbot AI secara aktif. Angka itu melonjak dari 33% pada 2024, menandakan adopsi yang bergerak cepat dan sulit diabaikan.
Dipakai untuk kerja, hiburan, sampai kesehatan
Penggunaan paling umum adalah mencari informasi, dengan porsi 42%, disusul 38% yang memanfaatkannya untuk tugas profesional terkait pekerjaan. Di luar itu, chatbot AI juga dipakai untuk hiburan oleh 25% responden.
AI bahkan sudah masuk ke kebutuhan yang lebih personal. Sebanyak 24% responden memakai chatbot AI untuk membuat atau mengedit konten visual, sementara 20% mengandalkannya untuk rekomendasi medis dan kesehatan.
Urusan diet dan kebugaran juga ikut berpindah ke AI. Survei Pew Research mencatat 20% responden menggunakan chatbot AI untuk panduan fitness dan pola makan.
Yang paling menarik, 1 dari 10 responden di AS memakai chatbot AI untuk dukungan emosional dan teman curhat. Temuan ini menunjukkan AI tidak lagi diposisikan semata sebagai alat bantu kerja, tetapi juga mulai mengambil ruang sosial bagi sebagian pengguna.
Pengguna muda paling aktif, ChatGPT masih memimpin
Frekuensi pemakaian juga tergolong tinggi. Sebanyak 24% responden mengaku memakai chatbot AI setiap hari, sementara 4% di antaranya menggunakannya tanpa henti setiap saat.
Di pasar chatbot AI, ChatGPT masih berada di posisi teratas dengan pangsa 44% pada tahun ini, naik dari 34% dua tahun lalu. Di bawahnya ada Gemini 24%, Copilot 17%, Meta AI 14%, Grok 8%, Claude 6%, dan CharacterAI 3%.
Kelompok usia di bawah 50 tahun menjadi pengguna paling aktif dengan penetrasi 57%, jauh di atas kelompok usia di atas 50 tahun yang berada di level 28%. Pola ini memperlihatkan bahwa adopsi AI masih lebih kuat di kalangan pengguna yang lebih muda.
Kekhawatiran publik justru ikut membesar
Di tengah pemakaian yang terus naik, sentimen terhadap AI tetap cenderung negatif. Sebanyak 40% responden menilai ledakan AI akan membawa dampak buruk bagi tatanan masyarakat, sementara hanya 16% yang optimistis dengan dampak positifnya.
Pada level pribadi, 31% responden percaya kehadiran AI bakal membawa petaka bagi kehidupan mereka sendiri. Hanya 23% yang melihat manfaat langsung dari teknologi ini.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh anggapan bahwa perkembangan AI berjalan terlalu cepat. Sebanyak 63% responden menyebut laju AI saat ini terlalu cepat dan mengerikan, sedangkan hanya 19% yang menilainya masih wajar.
Rasa tidak percaya juga terlihat pada pengawasan. Sebanyak 67% orang dewasa di AS meragukan kemampuan pemerintah dalam merumuskan regulasi AI secara efektif, naik dari 62% pada 2024.
Keraguan serupa diarahkan ke perusahaan teknologi besar. Enam dari 10 responden mengaku sangat ragu Big Tech yang mengembangkan AI punya komitmen moral untuk membuat produk yang bertanggung jawab dan etis.
Situasi ini menggambarkan hubungan publik dengan AI yang semakin rumit. Banyak orang melihat risikonya, tetapi penggunaan chatbot AI tetap meluas dari urusan kerja, hiburan, kesehatan, sampai kebutuhan emosional.
