Zubeldia Siapkan Siasat Hemat Tenaga, Fluminense Hadapi Neraka Tipis Di La Paz

Fluminense datang ke La Paz dengan satu misi yang jauh lebih rumit daripada sekadar mengejar poin. Di Stadion Hernando Siles, tim asuhan Luis Zubeldia harus menantang Bolívar dalam kondisi udara tipis di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut.

Situasi itu memaksa Fluminense menyiapkan pendekatan yang sangat terukur sejak awal laga. Zubeldia menempatkan manajemen energi sebagai kunci utama agar timnya tidak cepat habis melawan tekanan fisik yang datang dari ketinggian.

Siasat main hemat tenaga

Zubeldia meminta para pemainnya mengurangi gerakan yang tidak perlu. Ia ingin tim lebih cermat saat menguasai bola dan tidak berlari berlebihan agar stamina tetap stabil sepanjang pertandingan.

Pelatih asal Argentina itu menyebut ketinggian selalu terasa dalam pertandingan seperti ini. Karena itu, ia menilai ketenangan mental sama pentingnya dengan kesiapan fisik untuk menghadapi laga di Bolivia.

Ia juga mengakui efek fisiologis dari ketinggian tidak bisa dihindari sepenuhnya oleh pemain profesional. Bagi Zubeldia, cara terbaik adalah hidup bersama situasi itu dengan kepala dingin dan menjalankan rencana permainan seefisien mungkin.

Modal dari kemenangan sebelumnya

Menjelang duel di La Paz, Zubeldia memberi apresiasi atas kemenangan Fluminense atas Chapecoense. Ia menilai timnya tampil sangat dominan dan mampu mengontrol jalannya permainan di kandang sendiri.

Meski hasil akhirnya positif, ia masih melihat ruang perbaikan pada penyelesaian akhir. Zubeldia menilai Fluminense harus lebih efisien supaya peluang yang tercipta tidak terbuang pada momen penting.

Menurutnya, kemenangan dengan selisih gol lebih besar akan memberi dorongan kepercayaan diri yang lebih tinggi bagi skuad. Ia bahkan menyebut kemenangan yang lahir dari dominasi penuh akan terasa lebih baik, dan kemenangan telak akan jauh lebih baik lagi.

Perubahan di lini tengah

Untuk laga melawan Bolívar, Fluminense dipastikan tidak diperkuat Ganso yang sedang diistirahatkan. Kondisi itu membuka peluang bagi Alisson, Hércules, dan Facundo Bernal untuk mengisi sektor tengah.

Komposisi starter yang disiapkan juga menunjukkan kehati-hatian Fluminense dalam mengelola pertandingan. Nama-nama seperti Fábio, Guga, Jemmes, Freytes, Guilherme Arana, Bernal, Hércules, Alisson, Jefferson Savarino, Canobbio, dan Castillo masuk dalam proyeksi sebelas awal.

Keberadaan nama Fábio menambah bobot laga ini karena ia diproyeksikan memecahkan rekor penampilan terbanyak di Copa Libertadores. Di tengah tuntutan hasil dan tantangan ketinggian, Fluminense datang dengan rencana yang menekankan kontrol bola, penghematan tenaga, dan ketenangan membaca situasi.

Bagi Fluminense, pertandingan di La Paz bukan hanya soal kualitas teknik, tetapi juga soal ketahanan mental dan disiplin taktik. Zubeldia tampak ingin memastikan timnya tetap hidup dalam ritme permainan yang lambat, hemat, dan terukur untuk meredam pengaruh oksigen tipis sejak menit awal.

Terkait