Zanzibar, Pulau Tropis dengan Perang 38 Menit, Warisan UNESCO, dan Jejak Freddie Mercury

Zanzibar sering dipandang hanya sebagai pulau tropis dengan pantai biru toska dan pasir putih. Namun di balik pemandangan itu, pulau di lepas pantai Afrika Timur ini menyimpan perang singkat, warisan budaya dunia, dan jejak tokoh musik paling terkenal abad ini.

Wilayah yang menjadi bagian dari Tanzania ini menonjol karena gabungan sejarah dan alam yang jarang ditemukan di satu tempat. Dari pusat perdagangan tua hingga satwa endemik, Zanzibar menawarkan cerita yang jauh lebih luas daripada sekadar destinasi wisata laut.

Perang 38 menit yang mengubah arah politik Zanzibar

Salah satu peristiwa paling dikenal dari pulau ini adalah Perang Anglo-Zanzibar pada 1896. Konflik itu pecah setelah Sultan Hamad bin Thuwaini meninggal mendadak, lalu Khalid bin Barghash mengangkat diri sebagai sultan baru dan ditolak Inggris.

Ketegangan berakhir saat Inggris melancarkan serangan pada 27 Agustus 1896 setelah ultimatum mereka habis. Pertempuran berlangsung sekitar 38 menit dan disebut sebagai perang tersingkat dalam sejarah, meski sekitar 500 orang dilaporkan tewas.

Usai perang, Inggris menunjuk sultan baru yang lebih sejalan dengan kepentingan mereka. Sejak itu, pengaruh Inggris di Zanzibar semakin kuat dan meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan politik wilayah tersebut.

Jejak Freddie Mercury di tempat kelahirannya

Zanzibar juga dikenal sebagai tempat lahir Freddie Mercury, vokalis legendaris Queen. Ia lahir pada 5 September 1946 dengan nama Farrokh Bulsara.

Freddie berasal dari keluarga Parsi keturunan India. Ayahnya, Bomi Bulsara, bekerja sebagai pegawai di pemerintahan kolonial Inggris, sementara keluarganya tinggal di Zanzibar pada masa itu.

Ia menghabiskan masa kecilnya di Zanzibar sebelum melanjutkan pendidikan di India saat berusia delapan tahun. Lingkungan yang dipenuhi beragam budaya dan tradisi diyakini ikut membentuk pandangannya sejak kecil.

Stone Town, pusat sejarah yang diakui UNESCO

Salah satu kawasan paling terkenal di Zanzibar adalah Stone Town. Kota tua ini pernah menjadi pusat perdagangan penting di pesisir Afrika Timur selama berabad-abad.

Jejak masa lalu masih terlihat dari jalan-jalan sempit, rumah-rumah tua bertingkat, dan pintu kayu berukir. Banyak bangunan serta tata kota lamanya dipertahankan, sehingga suasana historisnya masih terasa hingga sekarang.

Stone Town juga memperlihatkan pertemuan budaya Afrika, Arab, India, dan Eropa yang berkembang selama ratusan tahun. Karena nilai sejarah dan budayanya, UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2000.

Satwa langka yang hanya hidup di Unguja

Zanzibar juga menjadi rumah bagi monyet colobus merah Zanzibar atau Piliocolobus kirkii. Satwa langka ini hanya ditemukan di Pulau Unguja, pulau utama di Kepulauan Zanzibar.

Monyet tersebut memiliki bulu merah kecokelatan, wajah hitam, dan rambut putih di bagian kepala. Sebagian besar waktunya dihabiskan di pepohonan untuk mencari makan dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

Jumlahnya terus berkurang akibat hilangnya habitat alami dan aktivitas manusia. Karena itu, spesies ini masuk kategori terancam punah dan beberapa kawasan hutan di Zanzibar telah ditetapkan sebagai area konservasi.

Daya tarik laut yang tetap menjadi magnet utama

Selain sejarah dan satwa, Zanzibar dikenal luas karena lautnya yang jernih dan berwarna biru toska. Pemandangan itu menjadi salah satu alasan pulau ini terus menonjol di antara destinasi Samudra Hindia lainnya.

Beberapa pantai di Zanzibar memiliki ombak tenang dan air yang nyaman untuk berenang. Di lokasi lain, suasananya lebih hening dengan deretan pohon kelapa dan panorama laut yang terbuka.

Perairan di sekitar pulau juga kaya terumbu karang dan menjadi habitat berbagai ikan serta biota laut. Karena kejernihan airnya, Zanzibar populer untuk snorkeling dan menyelam, bahkan di beberapa lokasi pengunjung bisa melihat penyu laut atau lumba-lumba.

Source: www.idntimes.com

Terkait