Penjualan wholesales BYD di Indonesia mendadak turun tajam pada Mei, tetapi perusahaan menegaskan penyebab utamanya bukan karena permintaan melemah. PT BYD Motor Indonesia menyebut penurunan itu terjadi saat mereka menjalani transisi dari impor utuh atau CBU ke produksi lokal.
Data Gaikindo mencatat distribusi BYD ke dealer hanya 895 unit pada Mei. Itu menjadi angka wholesales bulanan terendah BYD sejak merek ini mulai membukukan data penjualan di Indonesia pada Juni 2024.
Transisi Produksi Mengganggu Distribusi
Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menjelaskan bahwa wholesales merupakan penjualan principal kepada dealer. Saat sumber produksi dan alur pasokan diubah, angka distribusi bulanan ikut terdampak langsung.
Sebelumnya, pasokan untuk pasar Indonesia masih bertumpu pada unit impor. Kini BYD sedang membenahi sistem supply seiring dimulainya fase produksi lokal untuk pasar Indonesia.
Peralihan dari CBU ke produksi lokal itu membuat distribusi tidak berjalan sehalus biasanya. BYD menilai penurunan pada Mei sebagai shock jangka pendek, bukan gambaran akhir performa penjualannya.
Luther juga menyebut kondisi tersebut diperkirakan akan kembali normal pada bulan ini. Pernyataan itu menunjukkan BYD memandang gejolak Mei sebagai dampak teknis dari penyesuaian operasional, bukan perubahan strategi penjualan.
Kontras dengan Empat Bulan Awal Tahun
Penurunan tersebut terasa sangat mencolok karena empat bulan pertama tahun ini masih relatif stabil. Pada Januari, BYD membukukan 4.879 unit, lalu 4.653 unit pada Februari.
Angka itu turun ke 2.941 unit pada Maret, sebelum kembali naik menjadi 4.625 unit pada April. Dari level tersebut, anjlok ke 895 unit pada Mei menunjukkan koreksi yang sangat tajam dalam waktu singkat.
Berikut gambaran wholesales BYD di Indonesia dalam lima bulan awal tahun:
| Bulan | Wholesales |
|---|---|
| Januari | 4.879 unit |
| Februari | 4.653 unit |
| Maret | 2.941 unit |
| April | 4.625 unit |
| Mei | 895 unit |
Dampaknya Terlihat ke Model Andalan
Efek transisi itu tidak hanya menekan total merek, tetapi juga tercermin pada model-model andalan BYD. BYD M6 yang sebelumnya menjadi salah satu tumpuan penjualan hanya mencatat distribusi 197 unit pada Mei.
Angka tersebut menempatkan MPV listrik itu di posisi ke-12 dalam daftar mobil listrik terlaris. BYD Atto 1 juga ikut melemah, dengan distribusi hanya 28 unit pada periode yang sama.
BYD bahkan absen dari daftar 10 mobil listrik terlaris di Indonesia pada periode tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa gangguan pasokan akibat transisi produksi memengaruhi performa merek secara lebih luas, bukan hanya pada satu model tertentu.
Di sisi lain, penjelasan BYD memberi konteks bahwa data wholesales tidak selalu identik dengan permintaan konsumen akhir. Karena yang dihitung adalah distribusi dari principal ke dealer, perubahan pada produksi dan pengiriman bisa langsung mengubah angka bulanan.
Untuk saat ini, perhatian pasar akan tertuju pada apakah distribusi BYD benar-benar kembali normal setelah masa transisi itu selesai. Perusahaan menegaskan bahwa penurunan tajam pada Mei merupakan efek sementara dari pembenahan rantai pasok dan peralihan sumber produksi.
