Blok M Hub di Jakarta Selatan berubah menjadi ruang temu dua tradisi wayang kulit yang jarang dipentaskan bersama. Di tengah perayaan HUT Kota Jakarta ke-499, pertunjukan Gebyar Harmoni Budaya mempertemukan wayang Betawi dan wayang Jawa Tengah dalam satu panggung.
Kolaborasi itu langsung mencuri perhatian karena bukan hanya menggabungkan dua gaya pementasan, tetapi juga memadukan bahasa, musik, dan karakter dari dua warisan budaya yang berbeda. Lakon Gatotkaca Lahir menjadi puncak pertunjukan yang dibawakan oleh Ki Sukarlana dari tradisi Betawi dan Ki Gunarto dari wayang kulit Jawa.
Perpaduan dua tradisi yang tidak biasa
Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah, KRAT. Leles Sudarmanto Mangun Nagoro, menyebut pementasan itu menghadirkan banyak sentuhan modifikasi. Wayang yang tampil tidak hanya memakai bahasa Jawa dan Betawi, tetapi juga bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Menurutnya, para dalang yang tampil sudah dikenal luas hingga ke luar negeri. Ia menilai pertunjukan ini memuat hal-hal positif dan menunjukkan bahwa wayang kulit bisa hadir dengan bentuk yang lebih dekat kepada berbagai lapisan penonton.
Blok M dipilih untuk mendekatkan budaya ke generasi muda
Paguyuban Jawa Tengah menginisiasi kegiatan ini untuk menyemarakkan hari jadi Jakarta sekaligus memberi kontribusi dalam merawat keberagaman budaya. Jakarta dipandang sebagai kota multikultural yang bisa menjadi ruang temu berbagai tradisi dari seluruh nusantara.
Blok M dipilih karena kawasan itu sudah lama dikenal sebagai tempat lahirnya kultur baru. Lokasi tersebut juga dinilai tepat untuk menarik minat generasi muda agar lebih dekat dengan budaya bangsa.
Wayang menarik perhatian penonton muda
Meski wayang sering dikaitkan dengan penonton yang lebih tua, pertunjukan di Blok M justru juga dinikmati banyak Gen Z. Kehadiran wayang di ruang publik seperti ini dianggap menjadi cara yang kuat untuk menghidupkan kembali tradisi yang makin jarang ditemui di Jakarta.
Andri, salah satu penonton, menilai pertunjukan itu memukau karena tradisi wayang kini sudah jarang tampil di ibu kota. Ia juga melihat Blok M sebagai tempat yang cocok untuk memperkenalkan kembali tradisi lama kepada generasi baru.
Vina, penonton lain, mengaku baru pertama kali datang ke acara seperti ini. Ia menyebut suasana acara sangat meriah dan banyak hal yang bisa dipelajari dari wayang kulit.
Simbol kebersamaan budaya lokal dan nasional
Dengan dominasi wayang Betawi dan sentuhan wayang kulit Jawa Tengah, acara ini dirancang sebagai simbol energi budaya lokal dan nasional dalam semangat kebersamaan. Pementasan di Blok M itu menegaskan bahwa tradisi lama masih punya ruang kuat saat dibawa ke tengah kehidupan kota yang terus berubah.
Source: www.metrotvnews.com






