Warna Bulu Bukan Penentu Sifat Kucing, Inilah Faktor Yang Lebih Besar Membentuknya

Banyak pemilik kucing masih menilai kepribadian hewan peliharaan dari warna bulunya. Kucing oranye sering dianggap paling ramah, kucing putih dicap penyendiri, dan kucing belang tiga kerap disebut sulit ditebak.

Padahal, kaitan itu tidak sesederhana yang terlihat. Sejumlah temuan justru menunjukkan bahwa sifat kucing lebih kuat dipengaruhi sosialisasi, genetik induk, ras, dan pengalaman hidup daripada warna bulunya.

Warna bulu memang soal gen

Warna bulu kucing ditentukan oleh gen yang tersusun dalam kromosom. Setiap sel kucing memiliki 38 kromosom, lebih sedikit dibanding manusia yang memiliki 46 kromosom.

Pewarisan warna juga mengikuti pola kromosom yang berbeda pada jantan dan betina. Anak kucing jantan mendapat satu kromosom X dari induk betina dan satu kromosom Y dari induk jantan, sedangkan betina mendapat satu kromosom X dari masing-masing induk.

Warna dasar bulu kucing umumnya bertumpu pada hitam, oranye, dan putih. Dari kombinasi tiga warna itu muncul banyak pola yang lazim terlihat pada kucing rumahan.

Kucing hitam biasanya membawa gen dominan, meski ada pengecualian. Dalam beberapa kasus, perubahan spontan pada rambut hitam dapat menghasilkan gen cokelat resesif.

Kucing oranye juga punya pola genetik yang khas karena gen ini selalu mengesampingkan gen hitam. Karena faktor itu, kucing oranye polos lebih sering lahir sebagai jantan.

Pada kucing putih, gen putih dominan dapat mengalahkan gen oranye dan hitam. Kucing bermata biru kerap dikaitkan dengan tuli dan sensitivitas terhadap cahaya, sementara kucing dengan satu mata biru dan satu mata oranye mungkin tuli di sisi mata biru.

Sifat kucing dibentuk sejak dini

Kepribadian kucing tidak muncul hanya karena warna bulu. Periode 8 hingga 16 minggu pertama kehidupan menjadi fase penting karena pada masa itu anak kucing mulai mengenal lingkungan sekitar.

Paparan terhadap pemandangan, suara, manusia, dan hewan lain membantu anak kucing lebih mudah beradaptasi saat dewasa. Karena itu, anak kucing disarankan tetap bersama induk dan saudara-saudaranya hingga sekitar usia 12 minggu.

Genetik induk juga berpengaruh, terutama dari ayah. Anak kucing dapat mewarisi sifat seperti keberanian, tingkat stres, dan kecenderungan ramah terhadap manusia dari ayahnya.

Ras ikut memberi gambaran tentang kecenderungan perilaku. Meski tidak berlaku mutlak, campuran ras dapat berkaitan dengan karakter yang lebih aktif, santai, suka bersosialisasi, atau justru lebih menyendiri.

Lingkungan dan pengalaman ikut menentukan

Pengalaman hidup membentuk sikap kucing dari waktu ke waktu. Kucing luar ruangan yang hidup sendiri cenderung lebih teritorial dan agresif karena harus selalu waspada terhadap ancaman.

Sebaliknya, kucing yang tumbuh di rumah yang nyaman dan penuh kasih sayang biasanya lebih mudah merasa aman. Lingkungan seperti itu membuat perilaku mereka cenderung lebih penyayang dan sosial.

Temuan ini membuat warna bulu sulit dijadikan patokan tunggal untuk menilai sifat kucing. Karakter hewan ini terbentuk dari gabungan banyak faktor yang saling memengaruhi sejak kecil hingga dewasa.

Apa yang ditunjukkan penelitian

Sebuah studi di Universitas California, Berkeley, yang diterbitkan dalam jurnal Anthrozoos, menyurvei 189 pemilik kucing. Dalam survei itu, kucing oranye dianggap paling ramah, kucing putih dianggap penyendiri, dan kucing belang tiga dinilai paling sering bertingkah.

Beberapa tahun kemudian, studi di Universitas California Davis mengumpulkan 1.274 survei dari pemilik kucing. Survei itu meminta pemilik menilai agresi kucing di rumah, saat dipegang, dan saat kunjungan ke dokter hewan.

Hasilnya, kucing betina dengan bulu abu-abu putih, hitam putih, oranye, dan belang tiga warna termasuk yang paling agresif dalam tiga situasi tersebut. Kucing abu-abu putih menunjukkan agresi tertinggi saat ke dokter hewan, sementara kucing hitam putih paling negatif saat ditangani.

Studi itu juga menemukan kucing belang tiga lebih mudah jengkel. Di sisi lain, kucing hitam, putih, abu-abu, dan belang warna dinilai paling rendah dalam skala agresi.

Meski begitu, penelitian itu tidak memberi jawaban pasti bahwa warna bulu menentukan kepribadian. Temuan dari Berkeley dan Davis bahkan tidak selalu sejalan, terutama saat kucing oranye dinilai ramah oleh satu kelompok responden, tetapi masuk kategori agresif di kelompok lain.

Source: www.idntimes.com

Terkait