Perjalanan Maroko di Piala Dunia 2022 menjadi salah satu kisah paling berpengaruh dalam sejarah turnamen. Tim yang semula tak banyak diunggulkan itu justru menembus semifinal dan mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika serta dunia Arab.
Kekuatan utama mereka bukan hanya hasil akhir, melainkan cara mereka membangunnya. Walid Regragui mengambil alih tim hanya tiga bulan sebelum turnamen dimulai, lalu menyatukan pemain bintang dari Eropa dan talenta muda dari Akademi Mohammed VI dalam satu tim yang solid.
Start dari grup yang berat
Maroko datang ke Grup F bersama Kroasia, Belgia, dan Kanada, dengan banyak pihak tidak menempatkan mereka sebagai kandidat kuat. Namun, mereka langsung menunjukkan ketahanan saat menahan Kroasia 0-0 pada laga pertama.
Laga melawan Belgia menjadi titik balik penting. Maroko menang 2-0 dan memicu euforia luas di dunia Arab, dari Mesir hingga Uni Emirat Arab.
Kemenangan 2-1 atas Kanada memastikan mereka finis sebagai pemuncak grup. Hasil itu juga mengingatkan publik pada pencapaian Maroko pada 1986, meski kali ini perjalanan mereka belum berhenti.
Menumbangkan Spanyol lewat adu penalti
Di babak 16 besar, Maroko berhadapan dengan Spanyol, juara dunia 2010. Pertandingan berlangsung keras selama 120 menit dan berakhir tanpa gol.
Adu penalti kemudian menjadi panggung Yassine Bounou. Sang kiper menggagalkan eksekusi Carlos Soler dan Sergio Busquets, sementara Pablo Sarabia lebih dulu membentur tiang.
Achraf Hakimi menuntaskan drama itu dengan tendangan Panenka. Maroko pun mencatat sejarah sebagai negara Arab pertama yang lolos ke perempat final Piala Dunia.
Kemenangan atas Spanyol menyulut perayaan besar di berbagai kota dunia Arab. Burj Khalifa bahkan diterangi warna-warna Maroko sebagai simbol persatuan dan kebanggaan bersama.
Semifinal yang mengubah sejarah Afrika
Portugal menunggu di perempat final, tetapi Maroko tetap bermain tanpa rasa gentar. Walid Regragui memberi pesan tegas kepada para pemainnya bahwa mereka lebih baik dari lawan dan harus membuktikannya di lapangan.
Pada menit ke-42, Youssef En-Nesyri melompat tinggi dan mencetak sundulan penentu. Gol itu membawa Maroko menang dan menjadikan Afrika memiliki semifinalis Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Selepas laga, Sofiane Boufal menari bersama ibunya di lapangan. Momen itu memperlihatkan sisi manusiawi dari perjalanan yang penuh emosi, kebanggaan, dan makna di luar sepak bola.
Warisan yang dibawa pulang dari Qatar
Maroko akhirnya kalah 2-0 dari Prancis di semifinal. Cedera ikut memengaruhi kondisi tim, namun capaian mereka tetap menempatkan Maroko di barisan sejarah terbesar Piala Dunia.
Dari Qatar, mereka pulang bukan sebagai tim kejutan biasa, melainkan simbol kebangkitan yang melampaui batas olahraga. Perjalanan itu meninggalkan penghormatan dunia dan warisan yang akan lama dikenang.
Source: www.goal.com






