Perdebatan soal kebebasan kreatif dalam The Odyssey garapan Christopher Nolan tidak mendapat penolakan besar dari banyak warga Yunani. Bagi mereka, kisah Homer tetap bertahan selama hampir 3.000 tahun justru karena terus terbuka untuk ditafsirkan dalam bentuk baru.
Pandangan ini berbeda dengan tuntutan sebagian penonton yang menginginkan versi film benar-benar setia pada teks kuno. Di Yunani, adaptasi panggung, film, dan karya visual dipandang sebagai jalan agar mitologi tetap dekat dengan generasi muda.
Film tersebut menarik perhatian sejak pekan debut globalnya dan dilaporkan mengumpulkan lebih dari US$263,7 juta di seluruh dunia. Namun, pembicaraan di Yunani tidak semata berpusat pada angka komersial atau kesamaan detail dengan puisi epik Homer.
Karya baru tidak dianggap menggantikan Homer
Menurut laporan The Independent yang dikutip CNN Indonesia, banyak publik Yunani modern menilai setiap adaptasi lewat nilai artistiknya. Versi film tidak harus menggantikan teks asli, melainkan dapat berdiri sebagai karya mandiri yang memperluas pemahaman terhadap perjalanan Odysseus.
Christos Tsagalis, profesor Sastra Yunani Kuno di Universitas Aristotle Thessaloniki, menilai penonton akan menentukan keberhasilan sebuah adaptasi. Baginya, ukuran pentingnya adalah kemampuan film menangkap esensi salah satu kisah terbesar dalam sejarah manusia.
Tsagalis menyebut kekuatan karya Homer terletak pada kemampuannya berubah menjadi warisan yang dapat dibagi banyak orang. “Ini adalah budaya bersama,” katanya, sembari menilai kisah tersebut punya daya tarik seperti film.
Bagi kalangan pendidikan, kebebasan penafsiran juga memiliki manfaat yang lebih praktis. Filippos Mantzaris, pengajar The Odyssey untuk siswa sekolah menengah di Yunani, menggunakan cerita itu untuk membahas pertanyaan moral bersama murid-muridnya.
Siswa diajak menilai dilema Odysseus, membandingkan kecerdasan dengan kekuatannya, dan mempertanyakan keadilan dari tindakannya sebagai raja. Mantzaris menilai pendekatan tersebut membuat anak-anak mampu menemukan kaitan personal dengan tokoh maupun tanah air mereka.
| Tokoh | Peran | Pandangan tentang adaptasi |
|---|---|---|
| Filippos Mantzaris | Pengajar The Odyssey | Membantu siswa membahas nilai moral dalam cerita. |
| Manos Pintzis | Aktor teater | Pementasan membuat mitologi lebih mudah dijangkau anak-anak. |
| Lina Mendoni | Menteri Kebudayaan Yunani | Negara tidak perlu mendikte penafsiran artistik kreator. |
| Christos Tsagalis | Profesor sastra Yunani Kuno | Penonton menilai apakah adaptasi menangkap esensi cerita. |
Visualisasi mitologi dinilai memudahkan pembelajaran
Manos Pintzis, aktor yang pernah memerankan Odysseus dalam produksi teater lokal, melihat panggung sebagai ruang perkenalan yang lebih hidup bagi anak-anak. Ia menilai pembacaan yang hanya dipaksakan dapat membuat mereka menjauh dari mitologi.
Pementasan dan film menawarkan pengalaman visual yang tidak sepenuhnya bisa diperoleh dari buku. Dengan cara itu, sejarah dan cerita kuno dapat dipelajari secara sukarela, bukan sekadar sebagai kewajiban sekolah.
Kontroversi pemilihan pemain yang muncul di luar Yunani pun tidak menjadi isu dominan di negara tersebut. Publik Yunani telah lama terbiasa melihat aktor dari berbagai latar memainkan tokoh sejarah dan mitologi mereka.
Gerard Butler dari Skotlandia pernah tampil sebagai Raja Leonidas dalam 300, sedangkan Brad Pitt memerankan Achilles dalam Troy. Colin Farrell dari Irlandia juga pernah memerankan Alexander the Great.
Versi Nolan menempatkan Matt Damon sebagai Odysseus serta melibatkan Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Zendaya, Charlize Theron, dan Travis Scott sebagai pengisi suara narasi. Sementara itu, kritik dari tokoh konservatif Amerika Serikat seperti Elon Musk dan Matt Walsh menuduh produksi itu mengedepankan politik identitas.
Pemerintah Yunani menolak mendikte tafsir kreator
Riak politik tetap muncul ketika partai nasionalis Yunani, Niki, menolak subsidi produksi senilai 6 juta euro dari pemerintah. Partai tersebut menilai dana pajak digunakan untuk membiayai ideologi “woke” terhadap identitas sejarah Yunani.
Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni menepis tuduhan itu dalam pernyataan kepada Lifo. “Bukanlah peran negara untuk mendikte seorang kreator bagaimana mereka harus menafsirkan sebuah karya atau mitos secara artistik,” katanya.
Nolan sendiri menilai perdebatan sebelum penonton menyaksikan film secara utuh tidak relevan. Sutradara itu menyatakan ingin membuat kisah dunia kuno terasa dekat bagi audiens modern tanpa meniru pola film kolosal Hollywood masa lalu.
Bagi banyak suara di Yunani, keberadaan adaptasi bukan ancaman bagi teks Homer. Versi baru justru dipandang sebagai cara lain untuk menjaga Mitologi Yunani tetap dibicarakan, dipertanyakan, dan diwariskan lintas generasi.
Source: www.cnnindonesia.com






