Raden Ajeng Kartini pernah dua kali hadir di uang rupiah dan itu menandai pengakuan negara atas peran pentingnya dalam sejarah Indonesia. Wajahnya sempat menghiasi pecahan Rp 5 dan kemudian muncul lagi di pecahan Rp 10.000, sehingga sosoknya tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga dalam benda pembayaran yang sehari-hari digunakan masyarakat.
Kehadiran Kartini di uang kertas menunjukkan bahwa gagasan emansipasi perempuan mendapat tempat dalam simbol resmi negara. Nama dan pemikirannya terus dikenang lewat warisan surat-surat yang kemudian dikenal luas melalui Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini pertama kali tampil di uang Rp 5
Berdasarkan data resmi Bank Indonesia, Kartini pertama kali dicetak pada uang kertas pecahan Rp 5 dalam seri tokoh dan kebudayaan. Pecahan ini juga disebut sebagai seri cetakan pertama dari Bank Indonesia, sehingga posisinya punya nilai sejarah tersendiri.
Persiapan uang Rp 5 tersebut sudah dilakukan sejak 1952, tetapi peluncuran resminya baru berlangsung pada 2 Juli 1953 setelah Undang-Undang mengenai Bank Indonesia disahkan. Uang ini berbentuk persegi panjang dengan dominasi warna abu-abu, biru, dan putih yang memberi kesan khas pada desainnya.
Gambar Kartini ditempatkan di sisi depan bagian kiri dengan tampilan kebaya dan sanggul. Di bagian tengah tercetak tulisan “BANK INDONESIA LIMA RUPIAH”, keterangan tahun 1952, serta tanda tangan resmi Gubernur dan Direktur BI.
Ornamen dua ekor burung dengan kepala saling menyilang ikut memperkaya tampilan visual uang tersebut. Ada juga angka nominal di sudut kanan atas dan kiri bawah yang dipadukan dengan motif roset dan sulur daun.
Detail desain dan ciri sisi belakang
Pada sisi belakang, uang Rp 5 didominasi warna biru dan cokelat. Gambar pohon rindang dibuat cukup detail dan menjadi elemen utama pada bagian ini.
Di bawahnya, terdapat ilustrasi dua ekor ular yang melengkapi komposisi desain. Selain itu, tercantum juga kutipan undang-undang tentang pemalsuan uang serta angka nominal pecahan yang terlihat jelas.
Uang bergambar Kartini itu beredar sekitar sembilan tahun sebelum ditarik dari peredaran pada 1961. Meski masa edarnya tidak panjang, pecahan ini tetap tercatat sebagai salah satu medium awal yang menampilkan wajah tokoh perempuan di uang rupiah.
Muncul lagi pada pecahan Rp 10.000
Wajah Kartini tidak berhenti pada pecahan Rp 5. Bank Indonesia kemudian kembali menampilkan sosoknya pada uang kertas Rp 10.000 dengan tahun emisi 1985.
Pecahan besar itu beredar selama satu dekade sebelum resmi ditarik pada 1995. Kehadiran Kartini di dua pecahan berbeda ini memperlihatkan konsistensi penghormatan negara terhadap figur yang dianggap penting dalam perjalanan bangsa.
Penggunaan wajah Kartini di uang rupiah juga mengingatkan pada pengaruh gagasannya yang melampaui masa hidupnya. Ia dikenal mendorong kesadaran baru tentang pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan tanpa harus tampil di medan perang.
Warisan pemikiran Kartini terus hidup melalui peringatan Hari Kartini setiap 21 April. Dalam konteks itu, uang rupiah menjadi salah satu simbol yang pernah membawa pesan emansipasi sekaligus menghubungkan sejarah, identitas nasional, dan penghargaan terhadap perjuangan perempuan.







