Huawei Watch Fit 5 Pro menarik perhatian karena membawa fitur pendeteksi risiko diabetes tanpa pengambilan sampel darah. Sistem ini bernama Diabetes Risk Study dan dirancang sebagai alat pemantauan dini langsung dari pergelangan tangan.
Yang membedakannya dari cek gula darah konvensional adalah cara bacanya yang tidak memakai jarum. Perangkat ini membaca sinyal tubuh secara optik, lalu menggabungkannya dengan data profil pengguna untuk menilai risiko dalam beberapa kategori.
Huawei menyebut pendekatan tersebut sebagai yang pertama di industri jam tangan pintar. Kehadirannya juga memperlihatkan arah baru wearable yang tidak hanya fokus pada kebugaran, tetapi semakin menekankan pemantauan kesehatan preventif.
Cara kerja sensor di pergelangan tangan
Fitur ini mengandalkan sensor optik berbasis photoplethysmography atau PPG. Teknologi ini memantau perubahan aliran darah pada pembuluh mikro di area pergelangan tangan.
PPG tidak mengambil sampel darah, melainkan membaca sinyal biologis dari perubahan sirkulasi. Data yang terkumpul dari pembacaan itu kemudian dipakai sebagai bahan analisis risiko.
Pengukuran juga tidak dilakukan hanya sekali. Huawei merancang sistem ini untuk memantau denyut nadi secara berkelanjutan selama 3 hingga 14 hari.
Periode pemantauan itu penting karena data sesaat dianggap belum cukup. Sistem bekerja terus-menerus siang dan malam agar pola yang terbaca lebih lengkap dan konsisten.
Data tubuh ikut dihitung
Setelah sinyal optik terkumpul, sistem tidak berhenti pada satu parameter saja. Huawei memadukannya dengan profil fisik pengguna agar hasil evaluasi lebih kontekstual.
Profil yang dipakai meliputi usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan. Kombinasi data biometrik berkelanjutan dan karakteristik tubuh ini menjadi dasar proses analisis berikutnya.
Pendekatan tersebut membuat fitur ini tidak sekadar membaca denyut nadi. Sistem menggabungkan beberapa lapis data untuk menghasilkan gambaran risiko yang lebih komprehensif.
Pada tahap akhir, algoritma khusus mengolah seluruh data yang sudah dikumpulkan. Hasil evaluasi lalu muncul di layar dalam tiga kategori risiko, yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
Bukan diagnosis, melainkan peringatan dini
Kategori itu menempatkan fitur ini sebagai sistem peringatan dini, bukan pengganti pemeriksaan medis invasif. Fokus utamanya adalah membantu pengguna memantau potensi risiko lebih awal melalui perangkat wearable.
Huawei juga menyebut pengembangan fitur ini dilakukan bersama sejumlah institusi dan rumah sakit di Tiongkok serta Dubai. Keterlibatan lembaga tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga akurasi dan validitas sistem.
Fitur pendeteksi risiko diabetes ini hadir sebagai bagian dari sistem pemantauan Ultra Health. Artinya, Huawei menempatkannya bukan sebagai fitur tunggal, melainkan sebagai elemen dalam ekosistem pemantauan kesehatan yang lebih luas.
Di Indonesia, teknologi ini dibawa lewat Huawei Watch Fit 5 Pro. Varian tersebut menjadi salah satu sorotan dalam lini Huawei Watch Fit 5 Series karena membawa fitur kesehatan preventif yang belum umum ditemukan di smartwatch lain.
Huawei Watch Fit 5 Pro ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 3.699.000. Harga itu berlaku selama masa penjualan pada 21 Mei hingga 20 Juni 2026.
Kehadiran fitur seperti Diabetes Risk Study menunjukkan bahwa smartwatch kini makin diarahkan ke deteksi dini. Dengan sensor PPG, pemantauan denyut nadi berhari-hari, penggabungan profil fisik, dan analisis algoritma, Huawei Watch Fit 5 Pro mencoba menerjemahkan data dari pergelangan tangan menjadi indikator risiko yang mudah dibaca pengguna.
Source: inet.detik.com






