Reality Club akhirnya mewujudkan mimpi lama mereka lewat rilisan vinyl untuk album Presents…. Namun langkah ini bukan sekadar urusan format fisik, melainkan bagian dari rencana yang lebih besar menuju panggung yang lebih luas di Asia.
Bagi band ini, piringan hitam bukan hanya nostalgia. Vinyl dipandang sebagai medium yang memberi pengalaman lebih personal bagi pendengar, sekaligus membuka ruang baru untuk pengembangan karya dan strategi karier.
Mimpi yang sudah dipikirkan sejak lama
Keinginan merilis album dalam format vinyl ternyata sudah ada sejak masa penggarapan Never Get Better pada 2017. Faiz Novascotia Saripudin menjelaskan bahwa gagasan itu tidak bisa dijalankan secara instan karena membutuhkan kesiapan produksi yang matang.
Faiz juga menyebut ide tersebut sudah dibahas sejak album pertama ke album kedua sebelum akhirnya bisa direalisasikan bersama Universal Music Indonesia. Nugi Wicaksono menambahkan bahwa perilisan vinyl masuk ke dalam strategi bisnis yang disusun bersama label.
Kenapa Presents… dipilih lebih dulu
Menurut Fathia Izzati atau Chia, Presents… adalah album yang paling cocok untuk debut format vinyl. Ia menilai album itu punya karakter sinematik, baik dari tema maupun cara promosi yang dibangun.
Nilai itu makin kuat karena album ini melibatkan Bilal Indrajaya dan Budapest Scoring Orchestra. Dengan 11 lagu dan sentuhan orkestrasi, Presents… terasa selaras dengan medium piringan hitam.
| Detail | Informasi |
|---|---|
| Album | Presents… |
| Jumlah lagu | 11 lagu |
| Kolaborator | Bilal Indrajaya, Budapest Scoring Orchestra |
| Format | Vinyl |
Vinyl Presents… dirilis pada 11 Juni 2026 dan habis terjual dalam dua hari. Respons itu menunjukkan bahwa minat terhadap rilisan fisik masih kuat, terutama saat dikemas sebagai karya koleksi dengan konsep yang jelas.
Daya tarik yang masih kuat di kalangan pendengar muda
Faiz melihat minat Milenial dan Gen Z terhadap vinyl datang dari keinginan memiliki musik dalam bentuk nyata. Penggemar bisa memegang langsung karya yang mereka dengarkan, dan itu memberi sensasi yang berbeda dari format digital.
Ia juga menilai artwork berukuran besar dan karakter suara khas vinyl ikut menambah nilai personal. Di sisi lain, Chia berharap langkah ini tidak berhenti pada Presents… dan membuka jalan untuk album Reality Club lainnya hadir dalam format serupa.
Makna album yang berubah seiring waktu
Merilis ulang album setelah tiga tahun juga memberi sudut pandang baru bagi para personel. Beberapa lagu kini terasa memiliki lapisan makna yang berbeda dibanding saat pertama kali dirilis.
Era Patigo, misalnya, mencontohkan “Love Epiphany” yang kini ia lihat sebagai catatan perjalanan hidup bersama pasangan. Perubahan tafsir seperti ini menunjukkan bahwa musik bisa terus berkembang maknanya seiring waktu berjalan.
Agenda berikutnya bergerak ke panggung Asia
Setelah vinyl terwujud, Reality Club mulai menyiapkan langkah berikutnya untuk konser perayaan satu dekade perjalanan musik mereka. Rencananya mencakup sejumlah kota di Indonesia dan beberapa negara di Asia.
Momentum itu membuat perilisan vinyl tidak berhenti sebagai produk fisik semata. Bagi Reality Club, ini menjadi pintu menuju rangkaian aktivitas panggung yang lebih luas dan lebih terarah.
