UGV Tak Lagi Sekadar Pengangkut, Kini Dipakai Memancing Musuh Keluar

UGV mulai bergerak dari peran pendukung menjadi elemen yang dapat mengubah taktik tempur darat. Kendaraan darat tanpa awak ini kini tidak hanya dipakai untuk membawa barang, tetapi juga untuk mengintai, menjaga sektor belakang, mengevakuasi korban, hingga memancing lawan keluar dari persembunyian.

Perubahan itu muncul dari kebutuhan paling mendasar di medan perang: mengurangi risiko pada titik paling berbahaya. Karena itu, U.S. Army meminta UGV tangguh yang bisa mengirim suplai penting melewati “last tactical mile”, zona berisiko saat pasukan dan logistik harus bergerak dalam jangkauan dan tembakan musuh.

Dari logistik ke misi berbahaya

Kebutuhan militer terhadap UGV tidak lagi berhenti pada tugas angkut. Army juga menginginkan kendaraan yang bisa bergerak diam-diam dan sepenuhnya otonom di bawah tembakan berat, membawa berbagai perlengkapan dengan cepat, serta mengevakuasi setidaknya dua prajurit terluka sekaligus ke casualty collection point.

Di lapangan, fungsi itu mulai diuji dalam latihan besar. Korps Marinir Amerika Serikat menggunakan UGV untuk mengangkut perlengkapan dalam latihan multinasional Nansei Sword di Okinawa, Jepang, lalu untuk pertama kalinya mengangkat UGV dengan helikopter pada tahun ini.

Marinir juga telah menguji sejumlah platform UGV dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, mereka memakai beberapa Mission Master buatan Rheinmetall untuk menjalankan konvoi otonom.

Pengintaian, sensor, dan perang elektronik

Angkatan Darat menunjukkan pemanfaatan yang lebih luas lewat latihan Panther Avalanche yang digelar di akhir Januari. Dalam latihan itu, Divisi Lintas Udara ke-82 mengintegrasikan UGV ke taktik lapangan dengan cara yang disebut sebagai penggunaan paling mutakhir sejauh ini.

Pasukan memakai UGV ULTRA dari Overland AI untuk resupply, pengintaian area, pengiriman sinyal, dan pengintaian di depan pasukan utama. Kendaraan itu juga dipasangi drone tethered sehingga berfungsi seperti menara pengawas bergerak, lalu dipakai untuk operasi kontra-drone dengan sensor dan sistem peperangan elektronik.

Byron Boots, co-founder dan CEO Overland AI, mengatakan ada banyak cara untuk menambah muatan pada platform seperti ini. Menurut dia, muatan itu memberi perlindungan berlapis dan bergerak, pengamatan lebih jauh, serta kemampuan menginvestigasi area yang tidak ingin dimasuki langsung oleh prajurit.

Kerja sama Overland AI dengan Divisi Lintas Udara ke-82 dimulai pada November lalu saat perusahaan itu bergabung dengan Brigade ke-3 selama lima bulan. Sekitar 30 prajurit terlebih dulu dilatih selama dua hari untuk mempelajari cara menugaskan dan mengendalikan kendaraan.

Boots mengatakan mereka awalnya mengirim suplai ke titik staging. Prajurit kemudian menilai waktu pengiriman itu bisa dipangkas lebih dari separuh.

Saat UGV berubah jadi umpan

Dalam latihan yang sama, UGV juga dipakai sebagai decoy untuk pertama kalinya. Dengan empat kendaraan yang masing-masing mampu membawa sekitar 1.000 pon, pasukan memanfaatkan sistem itu di lingkungan tanpa GPS dan tanpa komunikasi dari operator, berkat kecerdasan buatan dan sistem navigasi di atas kendaraan.

Penggunaan decoy dinilai sangat alami untuk kendaraan darat otonom. Boots menyebut ide itu muncul spontan selama latihan saat kendaraan dipakai untuk mengalihkan perhatian dan memancing keluar musuh yang bersembunyi.

Peran semacam ini memperlihatkan bahwa UGV tidak lagi hanya soal efisiensi logistik. Di kondisi tertentu, kendaraan itu dapat menjadi alat tipu daya yang aktif, sekaligus membantu pasukan memaksa lawan membuka posisi tanpa menempatkan personel di jalur tembak langsung.

Payload modular dan fungsi senjata

UGV lain juga mulai masuk ke pelatihan baru. Pada Mei, Divisi Gunung ke-10 mengadopsi Hunter WOLF buatan HDT Robotics ke dalam latihan infanteri ringan, setelah platform itu dipilih Angkatan Darat untuk program Small Multipurpose Equipment Transport atau S-MET.

Hunter WOLF dapat membawa muatan beragam, termasuk senjata, sistem drone, dan perlengkapan logistik seperti sistem pemurnian air. John Conway dari HDT mengatakan desain modular kendaraan itu membuat prajurit bisa mengonfigurasinya dengan cepat tanpa menambah kompleksitas.

Kemampuan itu membuat UGV tidak hanya relevan untuk angkut barang. Dalam konteks tertentu, platform ini juga bisa menjadi pembawa senjata jarak jauh, pengintai bergerak, atau elemen pendukung yang menjaga pasukan tetap tersembunyi saat menekan musuh.

Arah baru peperangan darat

UGV juga dipandang berpotensi dipakai untuk serangan satu arah, serupa drone udara dan drone laut. Potensi lain mencakup penggunaan taktik swarm, yang dapat memperluas tekanan di medan tempur dan memaksa lawan menghadapi lebih banyak ancaman sekaligus.

Di tengah dominasi perdebatan soal drone di udara dan laut, kebutuhan pasukan darat tetap tidak berubah. Saat harus melewati last tactical mile untuk mengantar suplai, mengevakuasi korban, menambah daya tembak, atau memancing musuh keluar, UGV semakin terlihat sebagai faktor yang bisa menentukan jalannya pertempuran.

Terkait