Donald Trump kembali menarik perhatian setelah menyebut dirinya menjadi target pembunuhan nomor satu Iran. Pernyataan itu ia sampaikan di Ankara ketika berbicara soal ancaman yang menurutnya masih membayangi dirinya sebagai presiden Amerika Serikat.
Trump mengatakan Iran masih memiliki para pemimpin, tetapi sebagian dari mereka sudah tiada. Ia lalu menegaskan bahwa posisinya membuat dirinya bisa menjadi sasaran, karena dianggap sebagai target utama oleh Teheran.
Ancaman yang disebut Trump
Dalam konferensi pers tersebut, Trump menyatakan bahwa ia tidak memedulikan kemungkinan menjadi sasaran pembunuhan. Menurut dia, yang dilakukan hanyalah menjalankan tugas sebagai presiden Amerika Serikat.
Ia juga menyebut peluang dirinya dibunuh mencapai 5,2 persen. Trump membandingkan angka itu dengan risiko yang dihadapi pembalap mobil dan penunggang banteng, yang menurutnya hanya sepersepuluh dari 1 persen.
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi pernyataan | Konferensi pers di Ankara |
| Target yang disebut | Target nomor satu Iran |
| Risiko versi Trump | 5,2 persen |
| Pembanding yang disebut | Pembalap mobil dan penunggang banteng |
Riwayat upaya pembunuhan terhadap Trump
Trump sendiri disebut selamat dari tiga upaya pembunuhan. Peristiwa pertama terjadi saat rapat umum kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024, ketika ia ditembak di telinga.
Upaya kedua terjadi pada September di tahun yang sama di klub golf Trump di Florida. Sementara itu, pada April 2026, penembakan terjadi saat makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih yang dihadiri Trump.
Tersangka dalam kasus itu kemudian didakwa dengan beberapa tuduhan, termasuk percobaan pembunuhan terhadap presiden AS. Lalu pada Juni 2026, Biro Investigasi Federal AS melaporkan adanya rencana yang menargetkan acara UFC di Gedung Putih.
Departemen Kehakiman AS kemudian menetapkan rencana tersebut sebagai upaya pembunuhan baru terhadap Trump. Laporan itu menambah daftar ancaman yang sebelumnya sudah dikaitkan dengan dirinya, termasuk tuduhan terhadap tersangka dari insiden di Gedung Putih.
Di sisi lain, pernyataan Trump muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut dengan Iran. Situasi politik itu ikut membuat ucapannya di Ankara kembali mendapat sorotan, terutama karena ia mengaitkan ancaman langsung terhadap dirinya dengan konflik yang belum mereda.
