Toyota Bantah Innova Hycross Rusak Karena E20, Kisruh Bioetanol India Makin Panas

Kisruh soal campuran etanol 20 persen atau E20 di India belum mereda setelah muncul keluhan dari pemilik Toyota Innova Hycross hybrid yang videonya ramai dibicarakan publik. Kasus itu kemudian berubah menjadi sorotan besar karena menyentuh kebijakan bioetanol wajib yang sedang didorong pemerintah India.

Di tengah perdebatan itu, Toyota justru menegaskan masalah pada Innova Hycross tersebut bukan disebabkan oleh E20. Pabrikan asal Jepang itu menyebut insiden itu terjadi karena bahan bakar tak standar dan terkontaminasi, bukan karena kendaraan tidak cocok dengan campuran etanol tersebut.

Toyota menolak kaitan dengan E20

Dalam pernyataan yang dikutip Rushlane, Toyota menegaskan model Innova Hycross sudah kompatibel dengan E20. Perusahaan juga menyebut sangat jelas bahwa insiden yang viral itu tidak berkaitan dengan penggunaan bahan bakar E20.

“Jelas terlihat bahwa insiden ini tidak berkaitan dengan penggunaan bahan bakar E20 dan semata-mata disebabkan oleh bahan bakar tak standar dan terkontaminasi,” demikian pernyataan resmi Toyota.

Video keluhan itu sebelumnya diunggah Manish Kasyap, YouTuber dengan 9,38 juta pengikut. Ia menyebut sampel BBM dari mobilnya yang diambil di bengkel resmi Toyota menunjukkan kadar etanol tidak wajar dan diklaim mencapai 40 persen, meski klaim itu belum terverifikasi independen.

Isu UtamaIsi KlaimStatus
Video Manish KasyapMobil disebut rusak setelah diisi E20Viral, belum terverifikasi independen
Hasil sampel BBMEtanol disebut mencapai 40 persenKlaim belum terverifikasi independen
Pernyataan ToyotaMasalah disebut bukan karena E20Bantahan resmi

Sejumlah pendapat lain juga menilai penyebab paling mungkin bukan kadar etanol berlebih, melainkan phase separation. Sifat etanol yang higroskopis bisa membuatnya terpisah dari bensin dan mengendap di tangki bila BBM terkontaminasi air, lalu mengganggu performa mesin.

Protes publik meluas di India

Kritik terhadap E20 sebenarnya sudah lebih dulu menguat lewat keluhan warga dan tekanan politik. Ketegangan itu lalu naik lagi setelah Jaksa Agung India menyebut program bioetanol ini sebagai “eksperimen” dalam sidang pengadilan.

Pemerintah India membantah pernyataan jaksa agung itu merujuk spesifik ke E20, menurut Autocar India. Di sisi lain, politikus oposisi Priyank Kharge menilai kebijakan E20 yang berjalan sejak 2023 minim konsultasi.

Penolakan juga terlihat di jalanan. Ratusan pengendara turun ke jalan dalam protes anti-E20 di Jantar Mantar, New Delhi, pada 5 Juli, memperlihatkan bahwa isu ini tak lagi berhenti di media sosial.

Industri otomotif ikut menjelaskan posisi

Merespons tekanan yang terus membesar, Kementerian Informasi dan Penyiaran India menggelar konferensi pers pada 4 Juli bersama Maruti Suzuki, Toyota, Hyundai, Hero MotoCorp, dan Bajaj. Forum itu dipakai untuk menjelaskan hasil pengujian dan posisi industri terhadap E20.

PihakPosisi terhadap E20Catatan
ToyotaMasalah Innova Hycross bukan karena E20Disebut akibat bahan bakar tak standar dan terkontaminasi
Maruti SuzukiE20 dinilai aman untuk diuji pada kendaraan era E10Efisiensi turun 3-3,5 persen dibanding E10
Hero MotoCorpTak ada lonjakan kerusakan akibat E20Berdasarkan data servis dan garansi

Maruti Suzuki mengatakan kendaraan era E10 yang diuji dengan E20 tidak menunjukkan korosi atau ausan abnormal. Perusahaan itu juga mengutip data servis 28,4 juta kendaraan sepanjang tahun fiskal 2025-2026, termasuk lebih dari 15 juta unit berusia di atas tiga tahun, tanpa masalah kerusakan terkait E20.

Meski begitu, Maruti Suzuki mengakui E20 menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 3-3,5 persen dibanding E10. Perusahaan menilai faktor seperti gaya berkendara, tekanan ban, dan perawatan memiliki pengaruh yang lebih besar.

Hero MotoCorp juga menyampaikan hal serupa. Analisis data servis dan garansi perusahaan itu disebut tidak menunjukkan kenaikan kerusakan akibat E20.

Arah kebijakan E20 tetap berlanjut

Sikap industri saat ini berubah dibanding posisi sebelumnya. Asosiasi pabrikan SIAM pada 2021 sempat merekomendasikan E10 tetap tersedia sebagai bahan bakar cadangan bagi kendaraan lama, karena pengembangan komponen untuk banyak varian lawas dinilai merepotkan produsen.

Usulan itu diabaikan, sementara penerapan E20 justru dipercepat dari rencana awal 2030. Blending etanol di India yang dimulai dari 1,5 persen pada 2013-2014 kini telah mencapai 20 persen sejak Desember 2025 dan tersedia di lebih dari 77 ribu SPBU, menurut Rushlane.

Standar campuran yang lebih tinggi, mulai E22 hingga E30, sudah dinotifikasi. Lembaga riset ARAI juga ditugaskan mengkaji dampak E25 terhadap kendaraan E20 dan E10, sementara peta jalan jangka panjang India mengarah ke E85 untuk kendaraan flex-fuel dengan Brasil sebagai rujukan adopsi bertahap.

Di tengah perdebatan itu, Maruti menyatakan tetap siap jika campuran etanol dinaikkan lagi. “Kami benar-benar nyaman jika campurannya naik beberapa poin,” kata Rahul Bharti, eksekutif senior Maruti Suzuki.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait