Tiongkok Minta AS dan Iran Redakan Krisis Selat Hormuz, Dunia Kian Waswas

Tiongkok mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk segera menurunkan tensi di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang kembali jadi titik panas setelah aksi saling serang kedua negara. Beijing menilai keamanan selat itu harus dipulihkan karena dampaknya tidak berhenti di kawasan, tetapi menyentuh kepentingan global.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi navigasi internasional. Dalam konferensi pers di Beijing, ia menyebut pemulihan pelayaran yang aman dan bebas akan menguntungkan semua pihak.

Selat Strategis yang Tidak Bisa Terganggu Lama

Lin juga mengatakan penyelesaian yang tepat dibutuhkan untuk menjawab persoalan pelayaran di kawasan tersebut. Menurut dia, kekhawatiran komunitas internasional atas Selat Hormuz perlu dijawab agar stabilitas jalur perdagangan laut tidak terus terguncang.

Ketegangan ini membesar setelah Komando Pusat AS atau CENTCOM melancarkan serangan besar ke puluhan target di wilayah Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai upaya untuk memangkas kemampuan militer Iran yang kerap mengganggu lalu lintas kapal komersial.

PihakLangkahDampak yang Disebutkan
AS melalui CENTCOMSerangan masif ke puluhan target di wilayah IranMemicu eskalasi baru di kawasan
Iran melalui IRGCSerangan rudal ke fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan OmanMemperkeras ketegangan dan mengancam akses Selat Hormuz

Dalam operasi tersebut, Pentagon mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, dan pesawat nirawak atau drone. AS juga untuk pertama kalinya menerjunkan drone laut serang sekali pakai atau one-way attack sea drones.

Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam atau IRGC mengonfirmasi serangan rudal ke fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman. Iran juga menegaskan tidak akan membuka akses Selat Hormuz sebelum AS angkat kaki dari kawasan itu.

Kondisi ini mengoyak harapan perdamaian yang sebelumnya sempat muncul di Timur Tengah. Pada 18 Juni lalu, Teheran dan Washington baru menandatangani nota kesepahaman perdamaian yang dimediasi Pakistan.

Kesepakatan itu memuat penghentian segera pertempuran di semua front, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, hingga pembukaan kembali akses Selat Hormuz secara penuh. Namun, kesepakatan tersebut kandas setelah kedua pihak kembali terlibat baku tembak pada 7 Juli lalu, dipicu sengketa lalu lintas kapal niaga di selat strategis itu.

Source: mediaindonesia.com
Terkait