Tiga Nyawa Melayang di Kapal Pesiar, Gejala Hantavirus yang Mudah Disangka Flu

Kematian tiga penumpang di kapal pesiar MV Hondius membuat hantavirus kembali menjadi sorotan. Penyakit ini jarang terjadi, tetapi dapat berkembang cepat dan tidak memiliki obat khusus.

Kabar ini penting karena gejala awal hantavirus sering mirip infeksi biasa. Saat tanda bahaya muncul, kondisi bisa langsung mengarah ke gangguan organ dan membutuhkan penanganan medis segera.

Kasus di kapal pesiar yang memicu perhatian

Kapal milik Oceanwide Expeditions itu dilaporkan berada di lepas pantai Cape Verde dengan 149 orang dari 23 negara masih berada di dalamnya. Satu warga Inggris dirawat serius, sementara dua kasus hantavirus telah terkonfirmasi pada penumpang asal Inggris berusia 69 tahun dan seorang perempuan asal Belanda yang meninggal dunia.

Laporan BBC News menyebut seorang penumpang pertama kali jatuh sakit di atas kapal dan meninggal pada 11 April. Setelah kapal bersandar di Saint Helena pada 24 April, jenazah korban diturunkan, lalu istri korban yang ikut turun dari kapal juga dilaporkan meninggal saat perjalanan pulang.

Beberapa hari kemudian, seorang penumpang asal Inggris mengalami kondisi kritis dan dievakuasi medis ke South Africa. Menteri Kesehatan Afrika Selatan Aaron Motsoaledi menjelaskan pasien itu mendapat perawatan suportif karena belum ada obat khusus untuk hantavirus.

Di tengah penyelidikan itu, seorang penumpang asal Jerman juga dilaporkan meninggal dunia. Pihak operator kapal masih menelusuri penyebab kematian penumpang tersebut, sementara Organisasi Kesehatan Dunia ikut memantau perkembangan kasus.

Mengapa hantavirus tetap perlu diwaspadai

Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, menegaskan hantavirus bisa memunculkan gejala berat pada sebagian kasus. Namun, ia juga menyebut virus ini tidak mudah menular antarmanusia sehingga risiko bagi masyarakat umum tetap rendah.

Kementerian Kesehatan menjelaskan hantavirus adalah penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat. Tikus disebut sebagai reservoir utama virus dari genus Orthohantavirus, termasuk tikus got, tikus rumah, tikus sawah, dan mencit rumah.

Penularan umumnya terjadi saat seseorang bersentuhan dengan air liur, urine, atau kotoran tikus. Virus juga bisa masuk ketika debu terkontaminasi terhirup melalui hidung atau mulut, atau saat mengenai mata dan luka terbuka di kulit.

Gejala awal yang sering disangka biasa

Pada fase awal, hantavirus kerap tidak langsung tampak khas. Kemenkes menyebut gejala awalnya bisa berupa demam, sakit kepala, badan lemas, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.

Keluhan lain yang juga perlu dicermati adalah nyeri punggung dan nyeri perut. Pada sebagian pasien, kondisi itu disertai mual serta penurunan nafsu makan, sehingga sering disangka gangguan kesehatan biasa.

Gejala awal yang samar ini membuat kewaspadaan penting terutama setelah paparan lingkungan yang berisiko. Jika riwayat kontak dengan area yang banyak tikus ada, keluhan yang tampak ringan tetap perlu dipantau serius.

Tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan

Seiring perkembangan penyakit, hantavirus dapat menjadi lebih berat dan menyerang organ penting. Kemenkes menyebut sebagian penderita bisa mengalami mata kemerahan dan ruam pada kulit, terutama bila sebelumnya berada di area yang banyak tikus.

Tanda bahaya lain yang lebih serius adalah gangguan pernapasan dan penurunan produksi urine. Kondisi itu dapat mengarah pada gangguan fungsi ginjal dan membutuhkan penanganan medis segera.

Secara klinis, Kemenkes membagi hantavirus ke dalam dua bentuk utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah strain Seoul Virus yang umumnya memunculkan gejala tipe HFRS.

Pencegahan yang disorot otoritas kesehatan

Kemenkes menekankan pengendalian hewan pengerat sebagai langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Hal itu penting karena reservoir hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai habitat, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan.

Langkah pencegahan yang disarankan meliputi menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, memakai alat pelindung saat membersihkan area yang dilewati tikus, serta membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan. Masyarakat juga diminta tidak menyentuh tikus secara langsung dan rajin mencuci tangan setelah beraktivitas di area yang berisiko.

Kasus di kapal pesiar ini menunjukkan hantavirus memang jarang, tetapi gejalanya tidak boleh diabaikan ketika muncul setelah paparan lingkungan yang terkontaminasi rodensia. Demam, sakit kepala, nyeri perut, mata kemerahan, gangguan pernapasan, dan berkurangnya urine menjadi sinyal penting untuk segera mencari pertolongan medis.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button