Ketenangan hidup tidak selalu datang dari saldo rekening yang besar atau limit paylater yang tinggi. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat yang digelar di Bandung pada Rabu (10/06/2026).
Di tengah meningkatnya penggunaan paylater, peringatan ini terasa makin relevan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga April 2026 jumlah rekening pengguna paylater mencapai 31,76 juta dengan nilai penggunaan nasional sebesar Rp56,3 triliun.
Tenang Hidup dari Sikap, Bukan dari Fasilitas Kredit
Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Haryadi SE MM, menekankan bahwa ketenangan lahir dari kedekatan dengan Allah SWT, rasa syukur, dan kemampuan hidup sesuai kemampuan. Ia menilai kemudahan transaksi digital sering menciptakan rasa nyaman semu yang menutupi risiko finansial di belakangnya.
Yudi melihat daya tarik paylater terletak pada kemudahan, kecepatan, dan kepuasan instan. Tiga hal itu kerap mendorong keputusan belanja tanpa pertimbangan yang cukup terhadap kondisi ekonomi sebenarnya.
Utang Bukan Masalah Utama, Yang Berbahaya Adalah Pola Pakainya
Yudi meluruskan anggapan bahwa Islam melarang seluruh bentuk utang. Menurutnya, utang diperbolehkan selama ada kebutuhan yang benar, akad yang jelas, bebas dari unsur riba, dan disertai kemampuan untuk melunasi kewajiban.
Masalah muncul ketika utang dipakai untuk menjaga gaya hidup. Dari sana, beban finansial dapat berkembang menjadi tekanan yang lebih luas, termasuk konflik keluarga dan gangguan ketenangan batin.
Ia juga menilai kegelisahan finansial sering muncul dari ketimpangan antara keinginan dan kemampuan. Saat gaya hidup melampaui penghasilan, kredit dan paylater kerap dipilih sebagai jalan pintas.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Dalam pemaparannya, Yudi mengajak masyarakat membedakan kebutuhan dan keinginan dengan lebih tegas. Kebutuhan mencakup makanan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal, sedangkan keinginan sering dipicu gengsi, tren, fear of missing out atau FOMO, dan gaya hidup berlebihan.
Untuk menghadapi tekanan finansial, ia menawarkan tiga perisai spiritual, yaitu qanaah atau merasa cukup atas rezeki dari Allah, syukur atas nikmat yang dimiliki, serta sabar dalam menunda kesenangan demi kemaslahatan yang lebih besar.
Praktisi Bisnis dan Keuangan Mikro Islam itu menegaskan bahwa ketenangan hidup tidak lahir dari kepemilikan barang yang banyak. Ia menutup pesannya dengan dorongan agar masyarakat tidak memaknai belum mampu membeli sesuatu sebagai kegagalan, melainkan sebagai proses belajar menunggu waktu yang tepat.
