Tekanan Fiskal Menyempit, Rupiah Terseret Ke Rekor Terendah

Author: Cung Media

Rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat tidak lagi dipandang hanya sebagai korban sentimen moneter. Di balik pelemahan itu, tekanan fiskal dalam negeri ikut memperberat posisi mata uang Garuda dan membuat pasar membaca risiko Indonesia semakin besar.

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai ruang fiskal pemerintah terus menyempit karena beban subsidi bahan bakar minyak naik di tengah harga energi global yang menguat. Pada saat yang sama, penerimaan pajak belum optimal sehingga kemampuan negara meredam gejolak ekonomi ikut terbatas.

Beban anggaran yang makin menekan

Tekanan terhadap APBN tidak hanya datang dari subsidi BBM. Alokasi belanja untuk program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih juga ikut menambah beban postur fiskal pemerintah.

Riefky menyebut kondisi ini sebagai menyempitnya ruang fiskal akibat naiknya subsidi BBM dan rendahnya penerimaan pajak. Ia mengatakan pasar menangkap situasi tersebut sebagai sinyal risiko tambahan bagi aset domestik.

Ketika ruang fiskal menipis, investor cenderung bersikap lebih hati-hati. Sikap itu ikut menekan rupiah karena pasar menunggu kejelasan kebijakan jangka menengah yang dinilai belum cukup kuat.

Ketidakpastian kebijakan ikut memperlemah sentimen

Selain tekanan anggaran, Riefky menyoroti perubahan kebijakan pemerintah yang kerap terjadi. Menurut dia, kondisi itu menciptakan ketidakpastian struktural dan memperlemah sentimen terhadap rupiah.

Dalam pandangannya, stabilisasi dari Bank Indonesia belum akan cukup efektif jika akar persoalan fiskal tidak dibenahi. Ia menilai tekanan rupiah saat ini lebih banyak bersumber dari sisi fiskal dan struktural ketimbang semata-mata dari kebijakan moneter.

Riefky juga menilai intervensi pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa lewat skema bond stabilization fund atau BSF belum akan memberi dampak besar bila masalah dasar fiskal tetap dibiarkan. Ia menegaskan persoalannya bukan pada kebijakan moneter, melainkan pada aspek fiskal dan struktural.

Dorongan refocusing anggaran

Untuk memperbaiki situasi, Riefky mendorong pemerintah melakukan refocusing dan realokasi belanja. Ia menilai belanja yang kurang produktif perlu dipindahkan ke pos yang lebih langsung mendukung masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, program Makan Bergizi Gratis dan KDMP perlu dievaluasi agar ruang fiskal menjadi lebih sehat. Perbaikan anggaran, kata dia, sebaiknya diarahkan ke belanja bansos dan belanja produktif yang efek ekonominya lebih jelas.

Ia menekankan bahwa postur fiskal dapat diperbaiki lewat pengalihan anggaran dari pos yang kurang produktif. Langkah itu dinilai penting agar negara punya ruang lebih besar untuk menghadapi tekanan ekonomi.

Tekanan luar negeri belum mereda

Di luar faktor domestik, rupiah juga masih menghadapi tekanan dari luar negeri. Riefky menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat sebagai salah satu pemicu sentimen negatif di pasar.

Kekhawatiran pasar kembali menguat setelah muncul laporan bahwa AS dan Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran. Situasi tersebut membuat aset berisiko, termasuk rupiah, semakin rentan terhadap tekanan karena pasar global cenderung menghindari risiko.

Gabungan tekanan fiskal di dalam negeri dan gejolak geopolitik di luar negeri membuat rupiah berada dalam posisi yang sulit. Selama beban subsidi tetap tinggi, penerimaan pajak belum kuat, dan arah kebijakan belum memberi kepastian, pasar diperkirakan masih akan memantau rupiah dengan sangat hati-hati.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru