Tarif KRL Tak Naik, Integrasi Jakarta Siapkan Ongkos Perjalanan yang Lebih Murah

Author: Cung Media

Pemerintah memastikan tarif KRL Commuter Line tidak akan naik di tengah pembahasan integrasi transportasi publik di Jakarta. Arah kebijakan justru bergeser ke skema pembayaran yang berpeluang membuat ongkos perjalanan penumpang lebih hemat.

Penegasan itu datang dari Kementerian Perhubungan, yang menyebut subsidi untuk tarif KRL masih ditopang pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Karena itu, fokus pembahasan bukan penyesuaian harga, melainkan penyatuan sistem tarif antarmoda di wilayah Jakarta.

Tarif tetap, sistem pembayaran yang diubah

Sekretaris Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, Dedy Cahyadi, mengatakan pemerintah tidak menyiapkan kenaikan tarif KRL dalam pembahasan yang sedang berjalan. Menurut dia, tujuan utamanya adalah membuat perpindahan antar moda lebih mudah tanpa penumpang harus membayar tarif penuh di setiap kendaraan umum yang digunakan.

Dedy menegaskan, “Untuk yang subsidi dari KRL itu ditanggung dari Kementerian Perhubungan melalui DJKA. Itu belum, tapi intinya adalah bahwa tidak ada kenaikan tarif. Justru tarif itu lebih murah lagi kalau diintegrasi.”

Skema seperti ini dinilai lebih efisien karena penumpang bisa melanjutkan perjalanan dengan moda lain dalam satu sistem pembayaran. Dengan begitu, beban biaya perjalanan di Jakarta dan sekitarnya berpotensi turun jika integrasi berjalan sesuai rencana.

Rp10.000 jadi patokan integrasi di Jakarta

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menerapkan tarif integrasi Rp10.000 untuk transportasi umum di wilayah ibu kota. Skema itu berlaku selama tiga jam pada hari kerja dan mencakup moda yang berada di bawah pengelolaan BUMD DKI Jakarta.

Moda yang telah masuk dalam sistem tersebut adalah Mikrotrans, Transjakarta, LRT Jakarta, dan MRT Jakarta. Penumpang dapat berpindah moda tanpa membayar tarif penuh secara terpisah selama masih berada dalam batas waktu yang ditentukan.

Contohnya, pengguna Transjakarta bisa melanjutkan perjalanan dengan MRT Jakarta dan tetap dikenai tarif integrasi yang sama. Pola ini menjadi acuan yang ingin diperluas agar layanan KRL bisa ikut terhubung ke dalam jaringan tarif yang serupa.

KCI dan Pemprov DKI masih dibahas bersama

Kementerian Perhubungan kini menjembatani PT Kereta Commuter Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membahas integrasi tarif transportasi umum. Prosesnya masih berlangsung karena kesepakatan dari seluruh pihak diperlukan sebelum sistem itu diterapkan secara penuh.

Dedy menyebut mekanisme integrasi harus disusun bersama agar sistem pembayaran bisa berjalan seragam. Jika kesepakatan tercapai, penumpang KRL akan lebih mudah melanjutkan perjalanan ke MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, dan Mikrotrans.

JakLingko tetap mengelola pembacaan transit

Dalam skema yang sedang dibahas, PT JakLingko Indonesia tetap akan mengelola pembacaan aktivitas transit pengguna saat berpindah dari satu moda ke moda lain. Mekanisme ini membuat tarif dihitung secara terintegrasi, sehingga pengguna tidak dikenai biaya terpisah untuk setiap moda yang dipakai.

Dedy menyebut skema itu lebih efisien dibanding membayar satu moda secara parsial lalu dilanjutkan moda lain dengan tarif terpisah. Ia mengatakan, “Mereka bisa menggunakan berbagai macam moda, baik menggunakan MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, atau feeder termasuk Mikrotrans, dan itu dihitung hanya Rp10 ribu. Ini lebih murah, lebih efisien dibanding menggunakan parsial satu moda dengan moda yang lainnya.”

Peluang KRL ikut dalam tarif yang lebih hemat

Kemenhub berharap integrasi tarif nantinya tidak berhenti pada moda yang dikelola Pemprov DKI Jakarta. Layanan KRL Jabodetabek juga diharapkan bisa masuk ke dalam skema yang sama agar perjalanan antarmoda makin sederhana bagi pengguna.

Pembahasan dengan KCI masih terus dilakukan untuk menyusun mekanisme yang memungkinkan integrasi diterapkan bersama. Jika kesepakatan tercapai, penumpang KRL berpeluang menikmati sistem pembayaran yang lebih terhubung saat berpindah ke moda lain di Jakarta.

Arah kebijakannya sudah jelas: tarif KRL tetap dipertahankan, sementara integrasi antarmoda disiapkan untuk membuka kemungkinan ongkos perjalanan yang lebih murah bagi penumpang.

Source: www.viva.co.id
Terbaru